Archive for fisika

Pengertian bunyi

PENGERTIAN BUNYI

Bunyi adalah bahan terpenting dalam musik. Bunyi berasal dari Sumber bunyi, yang digetarkan oleh tenaga atau energi. Kemudian getaran tersebut oleh pengantar diantarkan atau dipancarkan keluar. Dan bila getaran ini sampai di telinga kita, barulah kita dapat mendengarkannya.

☻Pembahasan :
a. Sumber bunyi

Ada beberapa Sumber bunyi
1.Logam
2.Kulit
3.Udara

Selain perbedaan bahannya, sumber bunyi dapat dibedakan oleh bentuk dan ukurannya. Bila bentuknya berbeda, maka berbeda pula bunyinya. Jadi sumber bunyi akan berbeda oleh perbedaan bahan, bentuk dan ukurannya.

b. Tenaga

Sumber bunyi akan bergetar, bila adanya tenaga atau energi yang menggetarkannya. Tenaga ini bisa berupa :
1.Tenaga Manusia 4. Tenaga Listrik
2.Tenaga Angin 5. Tenaga Uap
3.Tenaga Air 6.. dll

Dari bermacam-macam yenaga tersebut ada beberapa kesamaan sifat, yaitu bahwa tenaga itu :
1.Dapat diubah atau dikurangi
2.Dapat disimpan
3.Dapat dialihkan
4.Dapat dighabungkan

Contoh :
Jam weker, tenaganya dapat disimpan untuk berbunyi
Pemain biola tidak langsung menyentuh sumber bunyinya.

c. Pengantar

Udara adalah pengantar bunyi yang paling banyak kita gunakan. Namun sebenarnya udara pengantar bunyi yang lamban, bukan berarti tidak baik. Kecepatan merambat bagi udara sebagai pengantar bunyi hanyalah 345 meter per detik. Bandingkan dengan kecepatan rambat bunyi pada zat pengantar lain :

Gabus…………………………………500 meter per detik
Timah…………………………………1190 meter per detik
Air……………………………………..1440 meter per detik
Besi……………………………………5120 meter per detik

Angka-angka tersebut memang dapat berubah oleh peruubahan suhu. Namun perubahan ini kecil sekali shingga praktis kurang begitu berarti.

d. Frekuensi

Tinggi-rendahnya bunyi ditentukan oleh cepat-lambatnya getaran dari sumber bunyi. Biasanya dari banyaknya getaran per detik. Semakin banyak getaran per detiknya, semakin tinggi bunyinya. Dan banyaknya getaran per detik ini disebut Frekuensi. Dalam penguluran frekuensi biasanya dihitung denga satuan Cps ( cyeles per second) yang berarti getaran per detik. Disamping itu, khususnya dalam tehnik radio di pakai pula satuan Hz (hertz) ini diambil dari nama Heinric Hertz (1857-1894) seorang ahli pengetahuan alam bangsa Jerman.

Maka : 440 Cps = 440 Hz = 440 getar per detik

Secara umum daya dengar manusia antara 16 Hz sampai dengan 16.000 Hz.
Usia merupakan salah satu pengaruh frekuensi tinggi-rendahnya daya dengar manusia.

d. Kekuatan bunyi

Bunyi yang kuat bebeda dengan bunyi yang tinggi. Kekuatan bunyi tidak ditentukan oleh frekuensi bunyi, tetapi oleh hal-hal yang lain, khususnya; amplitudo, resonansi, dan jarak.

amplitudo adalah lebar getar atau simpang getar yang dibuat oleh sumber bunyi. Semakin lebar getaranya, semakin kuat pula bunyinya.

Resonansi berarti ikut bergetar sejalan getaran bunyi. Biasanya dilakukan oleh benda atau bagian terdekatnya. Dan sedikit banyak kejadian ini akan menambah kekuatan getar sumber buyi.

Contoh gitar; walaupun sumber bunyinya pada senar, namun kekuatannya bunyinya lebih berasal dari kotak kayunya. Sebab, udara di dalam kotak itulah pelaku resonansi, yang justru lebih kuat daripada sumber bunyi. Sehingga kotak tersebut dinamakan kotak resonator. Namun kotak resonatornya hanya berlaku pada gitar accostic. Pada gitar elektrik resonansi dibuat oleh proses elektrik.

Jarak dimaksukan bahwa kekutan bunyi juga ditentukan oleh jarak antara sumber bunyi dengan alat pendengar atau penerima. Memakin dekat, akan semakin keras bunyinya. Sebagaimana frekuensi, kekuatan bunyi juga dapat diiukur. Biasanya digunakan satuan decibel yang disngkat db.

Angka petunjuk antara 0 db sampai kurang lebih 120 db. Sebagai bandingan; bunyi biola selembut-lembutnya yang setara dengan siulan kita lebih kurang 20 db. Sedangkan bagian kuat dari pemain orkes besar kurang lebih hanya mencapai 95 db.

e. Timbre

Timbre adalah warna bunyi, berupa keseluruhan kesan pendengaran yang kita peroleh dari sumber bunyi, setelah dipengaruhi resonansi dan zat pengantar.
Mengapa warna bunyi benda berbeda-beda?

Sumber ::http://id.shvoong.com/books/1926402-pengertian-bunyi/

Fisika: Kecepatan, Kelajuan, & Hukum Newton Kedua

Menerapkan rumus-rumus Fisika dalam aplikasi Flash nggak susah – walaupun nggak gampang juga. Kuncinya adalah tahu dasar-dasar matematika Vektor (dan Trigonometri tentunya) dan sedikit improvisasi dalam penerapan rumus Fisika. Dalam tutorial ini, saya akan menjelaskan beberapa contoh penerapan rumus-rumus fisika dengan ActionScript 2.0 .

Kalo Anda belum mengerti Trigonometri dan Matematika Vektor, saya sarankan agar mencari tutorial di Internet atau mungkin buku-buku SMU. Kedua topik tersebut menjadi dasar tutorial ini.
Kelajuan (speed)

Sekilas Kecepatan dan Kelajuan adalah hal yang sama. Secara teknis nggak begitu. Kelajuan adalah besaran skalar sedangkan Kecepatan adalah besaran vektor. Kelajuan nggak mempunyai arah, sedangkan kecepatan punya.

Rumus dasar kelajuan adalah :

v = d/t
d : jarak
t : waktu
Kecepatan (velocity)

Kecepatan adalah kelajuan suatu benda yang bergerak ke arah tertentu. Rumusnya sama dengan kelajuan, hanya saja ada komponen vektor (arah) di situ.

Gimana implementasinya dalam ActionScript? Gampang. Komponen d adalah jarak dalam satuan pixel dan komponen t adalah waktu atau frame . Misalnya gini, suatu MovieClip berpindah tempat sejauh 30 px dalam 10 frame. Maka dapat dikatakan bahwa kecepatannya adalah 3 px/frame. Karena menggunakan frame, seberapa cepat pergerakan MovieClip tersebut sangat ditentukan oleh nilai fps Flash movie. Makin tinggi fps semakin cepat MovieClip bergerak.

Contoh berikut ini menunjukkan sebuah MovieClip yang bergerak searah sumbu X dengan kecepatan 3 px/frame;
Actionscript:

1.
_root.onEnterFrame = function(){
2.
myMC._x += 3;
3.
}

Untuk mendapatkan kecepatan dengan satuan waktu (detik), kita bisa menggunakan fungsi setInterval(). Kita ambil contoh di atas untuk membuat MyMC bergerak dengan kecepatan 3 px per 30 milidetik searah sumbu X.
Actionscript:

1.
var intID = setInterval(moveMe,30);
2.
function moveMe(){
3.
myMC._x += 3;
4.
}

Catatan – Penggunaan function setInterval() membuat kecepatan myMC nggak tergantung fps. Berapapun fps yang digunakan, kecepatannya tetap 3px/ frame 30ms. Saya sendiri lebih suka menggunakan setInterval() daripada onEnterFrame karena lebih lebih ringan untuk CPU dan itu yang saya gunakan dalam tutorial ini. Untuk mendapatkan animasi yang kurang lebih sama dengan fps= 31, saya gunakan setInterval( … , 30). Jadi, saya harap Anda nggak bingung karena dalam teks saya tulis kecepatan xx/frame sedangkan di dalam contoh saya gunakan setInterval bukan onEnterFrame.

Terkadang dalam membuat sebuah scripted animation Anda hanya punya sudut dan kecepatan, tanpa mengetahui berapa kecepatan di sumbu X & sumbu Y. Untuk mengetahui kecepatan linear sebuah objek yang bergerak dalam sudut tertentu, Anda dapat menggunakan rumus berikut:

vx = Math.cos(sudut) * kecepatan
vy = Math.sin(sudut) * kecepatan

Ingat bahwa fungsi trigonometri dalam Flash membutuhkan nilai dalam satuan Radian.Jadi Anda perlu mengkonversi sudut ke dalam Radian.

Sebagai contoh, kita ingin membuat sebuah movieClip yang bergerak dalam kecepatan 3px/frame dalam sudut 45 derajat. Pertama kita harus tahu berapa sudut tersebut dalam Radian. Kemudian baru kita bisa menggerakkan MovieClip dengan mengeset properti _x dan _y .
Actionscript:

1.
var angle:Number = 45;
2.
var speed:Number = 3;
3.
var intID = setInterval(moveMe,30);
4.
function moveMe(){
5.
var rad:Number = angle*Math.PI/180;
6.
var vx:Number = Math.cos(rad) * speed;
7.
var vy:Number = Math.sin(rad) * speed;
8.

9.
myMC._x += vx;
10.
myMC._y += vy;
11.

12.
}

Percepatan (acceleration)

Seperti halnya kecepatan, percepatan adalah vektor. Bedanya adalah kelajuan mengubah posisi sebuah objek, percepatan mengubah kecepatannya. Sederhananya, percepatan adalah nilai yang ditambahkan ke kecepatan.

Sebagai contoh, dalam snippet di bawah ini, myMC bergerak dalam kecepatan 3px/frame dengan percepatan 0.1. Artinya, dalam setiap frame, kecepatannya bertambah 0.1px/frame .
Actionscript:

1.
var vx:Number = 3;
2.
var ax:Number = 0.1;
3.
var intID = setInterval(moveMe,30);
4.
function moveMe(){
5.
vx += ax;
6.
myMC._x += vx;
7.
}

Catatan – Percepatan nggak selalu bernilai positif, bisa saja negatif. Percepatan yang bernilai negatif disebut perlambatan (deceleration).
Hukum Newton II

Percepatan sebuah objek berbanding terbalik dengan massa dan berbanding lurus dengan gaya eksternal

F = m * a
F = force (gaya)
m = massa
a = percepatan

Sebagai contoh penerapannya dalam ActionScript kita buat sebuah movieclip bernama balon_mc yang menerima gaya dorong (ke atas) dan gaya tarik (ke bawah). Jika gaya dorong lebih besar dari gaya tarik, maka balon bergerak ke atas.
Actionscript:

1.
var gayadorong:Number = 3 ;
2.
var gayatarik:Number = -2;
3.
var massa:Number = 10;
4.
var ay:Number = (gayadorong + gayatarik)/10;
5.
var vy:Number = 0;
6.
var intID = setInterval(moveMe,30);
7.
function moveMe(){
8.
vy += ay;
9.
balon_mc._y += vy;
10.
}

Gravitasi

Gaya tarik gravitasi antara 2 objek dapat dihitung dengan rumus:

F = G * m1 * m2 / r^2
F = gaya tarik
G = konstanta gravitasi
m1 = massa objek 1
m2 = massa objek 2
r = jarak antara objek 1 dan 2

Dalam membuat aplikasi Flash, kadang kita perlu menyederhanakan rumus-rumus fisika. Rumus gravitasi di atas adalah salah satu diantara rumus-rumus yang perlu disederhanakan.

Kita nggak perlu menggunakan konstanta gravitasi beneran. Kita anggap saja nilainya adalah 1. Jadi rumus gravitasi dalam Flash adalah

F = m1 * m2 / r^2

Contoh penerapannya ada dalam Flash demo berjudul “Particle Attractor” yang saya buat beberapa waktu yg lalu dan bisa Anda lihat di sini
Friksi

Sederhananya, friksi adalah besaran yang berlawanan arah dengan kecepatan. Friksi mengakibatkan kecepatan sebuah objek berkurang. Rumusnya adalah:

F = u * m * g

F = friksi
u = konstanta friksi
m = massa
g = percepatan gravitasi

Dengan melakukan substitusi sisi kiri persamaan dengan rumus Hukum Newton Kedua kita dapatkan:

m * a = u * m * g
a = u * g

Implementasi Friksi dengan ActionScript dapat Anda lakukan dengan 2 langkah dasar yaitu :

1. Hitung akselerasi berdasarkan konstanta u dan g (yang Anda tentukan sendiri)
2. Jumlahkan akselerasi dengan kelajuan objek

Contohnya sebagai berikut:
Actionscript:

1.
var vx:Number = 10;
2.
var g:Number = 2;
3.
var u:Number = 0.2;
4.
a = u*g;
5.
var intID:Number = setInterval(moveMe, 30);
6.
function moveMe() {
7.
if (vx>0) {
8.
vx -= a;
9.
} else {
10.
vx = 0;
11.
}
12.
ball_mc._x += vx;
13.
}

Cara di atas dapat disederhanakan lagi (dan ini cara yang paling gampang) yaitu dengan mengalikan kecepatan dengan sebuah konstanta yang nilainya antara 0 dan 1. Contoh di atas dapat kita ubah menjadi :
Actionscript:

1.
var vx:Number = 10;
2.
var k:Number = 0.85;
3.
var intID:Number = setInterval(moveMe, 30);
4.
function moveMe() {
5.
vx *= k;
6.
ball_mc._x += vx;
7.
}

Jika k bernilai 1, maka kecepatannya tetap. Jika 0, objek berhenti.

Akhirnya …

Seperti yang Anda lihat, penerapan hukum-hukum Fisika untuk menghasilkan animasi yang realistis relatif gampang. Hanya perlu sedikit pengetahuan matematika dan logika serta improvisasi. Ingat, untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan, tidak selamanya kita harus benar-benar mengikuti rumus Fisika yang ada. Seringkali diperlukan penyederhanaan, bahkan pengabaian beberapa variabel. Tentu saja ini akan membuat animasi sistem tidak akurat secara Fisika, tapi siapa peduli? Yang penting animasi kita cukup akurat secara visual.

Ok, sekian tutorial ini. Semoga bermanfaat. Amin.

Update – Ada kesalahan penterjemahan velocity & speed. Yang betul kelajuan = speed (skalar), kecepatan = velocity (vektor). Maklum bukan orang Fisika. Makasih untuk mas umar atas koreksinya.

sumber : http://old.masputih.com/fisika-kecepatan-kelajuan-hukum-newton-kedua

Hukum Archimedes (Hukum Pengapungan)

Hukum Archimedes mengatakan bahwa apabila sebuah benda sebagian atau seluruhnya terbenam kedalam air, maka benda tersebut akan mendapat gaya tekan yang mengarah keatas yang besarnya sama dengan berat air yang dipindahkan oleh bagian benda yang terbenam tersebut. Telah sama-sama kita ketahui bahwa berat jenis air tawar adalah 1.000 kg/m3, apabila ada sebuah benda yang terbenam kedalam air tawar; maka berat benda tersebut seolah-olah akan berkurang sebesar 1.000 kg untuk setiap 1 m3 air yang dipindahkan. Konsep ini akan lebih jelas bila diterangkan dengan gambar dibawah ini.

 


a. Berat benda pada saat diudara dan setelah terbenam dalam air tawar

 

Pada saat ditimbang diudara benda mempunyai berat 4.000 kg pada skala pengukur berat, sedang setelah dimasukan kedalam air berat benda menjadi 3.000 kg. Padahal masa benda tidak berubah, berkurangnya berat benda tersebut diakibatkan adanya gaya tekan keatas dari air yang dipindahkan oleh bagian benda yang ada didalam air (force of buoyancy), dengan arah kerja gayanya mengarah keatas; sedang garis kerja gayanya segaris dengan garis kerja dari gaya berat benda. Titik tangkap garis kerja gaya buoyancy biasa disebut dengan titik buoyancy atau titik B. Didalam sistem bangunan terapung titik B ini disebut juga dengan titik berat dari volume benda yang ada dibawah garis air (gambar dibawah ini)


b. Ilustrasi letak titik G dan titik B dari bangunan apung

Selanjutnya perhatikan gambar c dibawah ini; dimana pada gambar tersebut mengilustrasikan sebuah benda dengan masa sebesar 4.000 kg namun volume bendanya 8 m3. Pada awalnya benda tersebut dibenamkan kedalam air, kemudian dilepaskan. Apabila keseimbangan telah terjadi, maka benda tersebut akan mengapung seperti ditunjukan pada gambar a. Keseimbangan akan tercapai apabila besarnya gaya buoyancy sama dengan berat air yang dipindahkan oleh bagian benda yang ada didalam air atau apabila benda tersebut mengapung dengan separuh dari volumenya.

Berat benda     = berat dari volume air yang dipindahkan

4000          = S x V

4000          = 1000 kg/m3 x V

atau

V          = 4 m3

c. Benda terapung pada posisi seimbang

 

 

sumber : http://rahmat88aceh.wordpress.com/2009/12/03/hukum-archimedes-hukum-pengapungan/

STINA Rabu, 12 Agustus 2009 Materi Gaya Kelas VIII Dikutip dari Sumber: http://id.wikipedia.org Gaya (fisika)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Di dalam ilmu fisika, gaya atau kakas adalah apapun yang dapat menyebabkan sebuah benda bermassa mengalami percepatan.[1]. Gaya memiliki besar dan arah, sehingga merupakan besaran vektor. Satuan SI yang digunakan untuk mengukur gaya adalah Newton (dilambangkan dengan N). Berdasarkan Hukum kedua Newton, sebuah benda dengan massa konstan akan dipercepat sebanding dengan gaya netto yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan massanya.

\vec{a} =\frac{\vec{F}}{m}

Penjelasan lain yang mirip, gaya netto yang bekerja pada sebuah benda adalah sebanding dengan laju perubahan momentum yang dialaminya.[2]

\vec{F} = \frac{\mathrm{d}\vec{p}}{\mathrm{dt}} = \frac{\mathrm{d}(m \vec{v})}{\mathrm{dt}} = \frac{\mathrm{d}m}{\mathrm{dt}}\vec{v}+m\frac{\mathrm{d}\vec{v}}{\mathrm{dt}}
=\frac{\mathrm{d}m}{\mathrm{dt}}\frac{\mathrm{d}\vec{x}}{\mathrm{dt}}+m\frac{\mathrm{d}^2\vec{x}}{\mathrm{dt}^2}

Gaya bukanlah sesuatu yang pokok dalam ilmu fisika, meskipun ada kecenderungan untuk memperkenalkan ilmu fisika lewat konsep ini. Yang lebih pokok ialah momentum, energi dan tekanan. Sebenarnya, tak seorang pun dapat mengukur gaya secara langsung. Tetapi, kalau sesuatu mengatakan seseorang mengukur gaya, sedikit berpikir akan membuat seseorang menyadari bahwa apa yang diukur sebenarnya adalah tekanan (atau mungkin kemiringannya). “Gaya” yang Anda rasakan saat meraba kulit anda, misalnya, sebenarnya adalah sel syaraf tekanan Anda yang mendapat perubahan tekanan. Ukuran neraca pegas mengukur ketegangan pegas, yang sebenarnya adalah tekanannya, dll.

Dalam bahasa sehari-hari gaya dikaitkan dengan dorongan atau tarikan, mungkin dikerahkan oleh otot-otot kita.

Di fisika, kita memerlukan definisi yang lebih presisi. Kita mendefinisikan gaya di sini dalam hubungannya dengan percepatan yang dialami benda standar yang diberikan ketika ditempatkan di lingkungan sesuai.

Sebagai benda standar kita menggunakan (atau agaknya membayangkan bahwa kita menggunakannya!) silinder platinum yang disimpan di International Bureau of Weights and Measures dekat Paris dan disebut kilogram standar.

Di fisika, gaya adalah aksi atau agen yang menyebabkan benda bermassa bergerak dipercepat. Hal ini mungkin dialami sebagai angkatan, dorongan atau tarikan. Percepatan benda sebanding dengan penjumlahan vektor seluruh gaya yang beraksi padanya (dikenal sebagai gaya netto atau gaya resultan).

Dalam benda yang diperluas, gaya mungkin juga menyebabkan rotasi, deformasi atau kenaikan tekanan terhadap benda. Efek rotasi ditentukan oleh torka, sementara deformasi dan tekanan ditentukan oleh stres yang diciptakan oleh gaya.

Gaya netto secara matematis sama dengan laju perubahan momentum benda dimana gaya beraksi. Karena momentum adalah kuantitas vektor (memiliki besar dan arah), gaya adalah juga kuantitas vektor.

Konsep gaya telah membentuk bagian dari statika dan dinamika sejak zaman kuno. Kontribusi kuno terhadap statika berpuncak dalam pekerjaan Archimedes di abad ke tiga sebelum Masehi, yang masih membentuk bagian fisika modern.

Sebaliknya, dinamika Aristoteles disatukan kesalahpahaman intuisi peranan gaya yang akhirnya dikoreksi dalam abad ke 17, berpuncak dalam pekerjaan Isaac Newton.

Menurut perkembangan mekanika kuantum, sekarang dipahami bahwa partikel saling mempengaruhi satu sama lain melalui interaksi fundamental, menjadikan gaya sebagai konsep yang berguna hanya pada konsep makroskopik.

Hanya empat interaksi fundamental yang dikenal: kuat, elektromagnetik, lemah (digabung menjadi satu interaksi elektrolemah pada tahun 1970-an), dan gravitasi (dalam urutan penurunan kuat interaksi).

//

[sunting] Sejarah

Aristoteles dan pengikutnya meyakini bahwa keadaan alami objek di bumi tak bergerak dan bahwasannya objek-objek tersebut cenderung ke arah keadaan tersebut jika dibiarkan begitu saja. Aristoteles membedakan antara kecenderungan bawaan objek-objek untuk menemukan “tempat alami” mereka (misal benda berat jatuh), yang menuju “gerak alami”, dan tak alami atau gerak terpaksa, yang memerlukan penerapan kontinyu gaya.

Namun teori ini meskipun berdasarkan pengalaman sehari-hari bagaimana objek bergerak (misal kuda dan pedati), memiliki kesulitan perhitungan yang menjengkelkan untuk proyektil, semisal penerbangan panah.

Beberapa teori telah dibahas selama berabad-abad, dan gagasan pertengahan akhir bahwa objek dalam gerak terpaksa membawa gaya dorong bawaan adalah pengaruh pekerjaan Galileo.

Galileo melakukan eksperimen dimana batu dan peluru meriam keduanya digelindingkan pada suatu kecuraman untuk membuktikan kebalikan teori gerak Aristoteles pada awal abad 17.

Galileo menunjukkan bahwa benda dipercepat oleh gravitasi yang mana tak gayut massanya dan berargumentasi bahwa objek mempertahankan kecepatan mereka jika tidak dipengaruhi oleh gaya – biasanya gesekan.

Isaac Newton dikenal sebagai pembantah secara tegas untuk pertama kalinya, bahwa secara umum, gaya konstan menyebabkan laju perubahan konstan (turunan waktu) dari momentum. Secara esensi, ia memberi definisi matematika pertama kali dan hanya definisi matematika dari kuantitas gaya itu sendiri – sebagai turunan waktu momentum: F = dp/dt.

Pada tahun 1784 Charles Coulomb menemukan hukum kuadrat terbalik interaksi antara muatan listrik menggunakan keseimbangan torsional, yang mana adalah gaya fundamental kedua.

Gaya nuklir kuat dan gaya nuklir lemah ditemukan pada abad ke 20. Dengan pengembangan teori medan kuantum dan relativitas umum, disadari bahwa “gaya” adalah konsep berlebihan yang muncul dari kekekalan momentum (momentum 4 dalam relativitas dan momentum partikel virtual dalam elektrodinamika kuantum).

Dengan demikian sekarang ini dikenal gaya fundamental adalah lebih akurat disebut “interaksi fundamental”.

[sunting] Jenis-jenis Gaya

Meskipun terdapat dengan jelas banyak tipe gaya di alam semesta, mereka seluruhnya berbasis pada empat gaya fundamental. Gaya nuklir kuat dan gaya nuklir lemah hanya beraksi pada jarak yang sangat pendek dan bertanggung jawab untuk “mengikat” nukleon tertentu dan menyusun nuklir. Gaya elektromagnetik beraksi antara muatan listrik dan gaya gravitasi beraksi antara massa.

Prinsip perkecualian Pauli bertanggung jawab untuk kecenderungan atom untuk tak “bertumpang tindih” satu sama lain, dan adalah jadinya bertanggung jawab untuk “kekakuan” materi, namun hal ini juga bergantung pada gaya elektromagnetik yang mengikat isi-isi setiap atom.

Seluruh gaya yang lain berbasiskan pada keempat gaya ini. Sebagai contoh, gesekan adalah perwujudan gaya elektromagnetik yang beraksi antara atom-atom dua permukaan, dan prinsip perkecualian Pauli, yang tidak memperkenankan atom-atom untuk menerobos satu sama lain.

Gaya-gaya dalam pegas dimodelkan oleh hukum Hooke adalah juga hasil gaya elektromagnetik dan prinsip perkecualian Pauli yang beraksi bersama-sama untuk mengembalikan objek ke posisi keseimbangan. Gaya sentrifugal adalah gaya percepatan yang muncul secara sederhana dari percepatan rotasi kerangka acuan.

Pandangan mekanika kuantum modern dari tiga gaya fundamental pertama (seluruhnya kecuali gravitasi) adalah bahwa partikel materi (fermion) tidak secara langsung berinteraksi dengan satu sama lain namun agaknya dengan mempertukarkan partikel virtual (boson). Hasil pertukaran ini adalah apa yang kita sebut interaksi elektromagnetik (gaya Coulomb adalah satu contoh interaksi elektromagnetik).

Dalam relativitas umum, gravitasi tidaklah dipandang sebagai gaya. Melainkan, objek yang bergerak secara bebas dalam medan gravitasi secara sederhana mengalami gerak inersia sepanjang garis lurus dalam ruang-waktu melengkung – didefinisikan sebagai lintasan ruang-waktu terpendek antara dua titik ruang-waktu. Garis lurus ini dalam ruang-waktu dipandang sebagai garis lengkung dalam ruang, dan disebut lintasan balistik objek. Sebagai contoh, bola basket yang dilempar dari landasan bergerak dalam bentuk parabola sebagaimana ia dalam medan gravitasi serba sama.

Lintasan ruang-waktunya (ketika dimensi ekstra ct ditambahkan) adalah hampir garis lurus, sedikit melengkung (dengan jari-jari kelengkungan berorde sedikit tahun cahaya). Turunan waktu perubahan momentum dari benda adalah apa yang kita labeli sebagai “gaya gravitasi”.

Contoh:

  • Objek berat dalam keadaan jatuh bebas. Perubahan momentumnya sebagaimana

dp/dt = mdv/dt = ma =mg (jika massa m konstan), jadi kita sebut kuantitas mg “gaya gravitasi” yang beraksi pada objek. Hal ini adalah definisi berat (W = mg) objek.

  • Objek berat di atas meja ditarik ke bawah menuju lantai oleh gaya gravitasi (yakni beratnya). Pada waktu yang sama, meja menahan gaya ke bawah dengan gaya ke atas yang sama (disebut gaya normal), menghasilkan gaya netto nol, dan tak ada percepatan. (Jika objek adalah orang, ia sesungguhnya merasa aksi gaya normal terhadapnya dari bawah.)
  • Objek berat di atas meja dengan lembut didorong dalam arah menyamping oleh jari-jari.
  • Akan tetapi, ia tidak pindah karena gaya dari jari-jari tangan pada objek sekarang dilawan oleh gaya baru gesekan statis, dibangkitkan antara objek dan permukaan meja.
  • Gaya baru terbangkitkan ini secara pasti menyeimbangkan gaya yang dikerahkan pada objek oleh jari, dan lagi tak ada percepatan yang terjadi.
  • Gesekan statis meningkat atau menurun secara otomatis. Jika gaya dari jari-jari dinaikkan (hingga suatu titik), gaya samping yang berlawanan dari gesekan statis meningkat secara pasti menuju titik dari posisi sempurna.
  • Objek berat di atas meja didorong dengan jari cukup keras sehingga gesekan statis tak dapat membangkitkan gaya yang cukup untuk menandingi gaya yang dikerahkan oleh jari, dan objek mulai terdorong melintasi permukaan meja. Jika jari dipindah dengan kecepatan konstan, ini perlu untuk menerapkan gaya yang secara pasti membatalkan gaya gesek kinetik dari permukaan meja dan kemudian objek berpindah dengan kecepatan konstan yang sama. Kecepatan adalah konstan hanya karena gaya dari jari dan gesekan kinetik saling menghilangkan satu sama lain. Tanpa gesekan, objek terus-menerus bergerak dipercepat sebagai respon terhadap gaya konstan.
  • Objek berat mencapai tepi meja dan jatuh. Sekarang objek, yang dikenai gaya konstan dari beratnya, namun dibebaskan dari gaya normal dan gaya gesek dari meja, memperoleh dalam kecepatannya dalam arah sebanding dengan waktu jatuh, dan jadinya (sebelum ia mencapai kecepatan dimana gaya tahanan udara menjadi signifikan dibandingkan dengan gaya gravitasi) laju perolehan momentum dan kecepatannya adalah konstan. Fakta ini pertama kali ditemukan oleh Galileo.
  • Objek berat suspended pada timbangan. Karena objek tidak bergerak (sehingga turunan waktu dari momentumnya adalah nol) maka selama percepatan jatuh bebas g ia harus mengalami percepatan yang diarahkan sama dan berlawanan a = -g dikarenakan aksi pegas.
  • Percepatan ini dikalikan dengan massa objek adalah apa yang kita labeli sebagai “gaya reaksi pegas” yang mana secara nyata sama dan berlawanan dengan berat objek mg.
  • Mengetahui massa (katakanlah, 1 kg) dan percepatan jatuh bebas (katakanlah, 9,8 meter/detik2) kita dapat menentukan timbangan dengan tanda “9,8 N”. Pasang beragam massa (2 kg, 3 kg, …) kita dapat mengkalibrasi timbangan dan kemudian menggunakan skala tertentu ini untuk mengukur banyak gaya yang lain (gesek, gaya reaksi, gaya listrik, gaya magnetik, dst).

[sunting] Definisi Kuantitatif

Kita memiliki pemahaman intuitif ide gaya, karena gaya dapat secara langsung dirasakan sebagai dorongan atau tarikan. Sebagaimana dengan konsep fisika yang lain (misal temperatur), ide intuitif dikuantifikasi menggunakan definisi operasional yang konsisten dengan persepsi langsung, namun lebih presisi.

Secara historis, gaya pertama kali secara kuantitatif diselidiki dalam keadaan keseimbangan statis dimana beberapa gaya membatalkan satu sama lain. Eksperimen demikian membuktikan sifat-sifat yang rumit bahwa gaya adalah kuantitas vektor aditif: mereka memiliki besar dan arah. Sehingga, ketika dua gaya berkasi pada suatu objek, gaya hasil, resultan, adalah penjumlahan vektor gaya asal. Hal ini disebut prinsip superposisi. Besar resultante bervariasi dari perbedaan besar dua gaya terhadap penjumlahan mereka, gayut sudut antara garis-garis aksi mereka.

Sebagaimana dengan seluruh penambahan vektor hasil-hasil ini dalam aturan jajaran genjang: penambahan dua vektor yang diwakili oleh sisi-sisi jajaran genjang, memberi vektor resultan ekivalen yang sama dalam besar dan arah terhadap transversal jajaran genjang.

Sebagaimana dapat ditambahkan, gaya juga dapat diuraikan (atau dipecah). Sebagai contoh, gaya horisontal menunjuk timur laut dapat dipecah menjadi dua gaya, satu menunjuk ke utara dan satu menunjuk timur. Jumlahkan komponen-komponen gaya ini menggunakan penambahan vektor menghasilkan gaya asal. Vektor-vektor gaya dapat juga menjadi tiga dimensi, dengan komponen ketiga (vertikal) pada penjuru sudut terhadap dua komponen horisontal.

Kasus paling sederhana dari keseimbangan statis adalah ketika dua gaya adalah sama dalam besar namun berlawanan arah. Ini menyisakan cara yang paling biasa dari pengukuran gaya, menggunakan peralatan sederhana semisal timbangan berat dan neraca pegas. Menggunakan peralatan demikian, beberapa hukum gaya kuantitatif ditemukan: gaya gravitasi sebanding dengan volume objek yang terdiri dari material (secara luas dimanfaatkan saat ini untuk mendefinisikan standar berat); prinsip Archimedes untuk gaya apung; analisis Archimedes dari pengungkit; hukum Boyle untuk tekanan gas; dan hukum Hooke untuk pegas: seluruhnya diformulasikan dan secara eksperimental dibuktikan sebelum Isaac Newton menguraikan secara rinci tiga hukum geraknya.

Gaya terkadang didefinisikan menggunakan hukum kedua Newton, sebagai perkalian massa m kali percepatan atau lebih umum, sebagai laju perubahan momentum. Pendekatan ini diabaikan oleh sejumlah besar buku teks.

Dengan pertimbangan yang lebih, hukum kedua Newton dapat diambil sebagai definisi kuantitatif massa; secara pasti dengan menuliskan hukum sebagai persamaan, satuan relatif gaya dan massa ditetapkan.

Sukses empirik yang diberikan hukum Newton, hal itu terkadang digunakan untuk mengukur kuat gaya (sebagai contoh, menggunakan orbit astronomi untuk menentukan gaya gravitasi).

[sunting] Gaya dalam Relativitas Khusus

Dalam teori relativitas khusus, massa dan energi adalah sama (sebagaimana dapat dilihat dengan menghitung kerja yang diperlukan untuk mempercepat benda). Ketika kecepatan suatu objek meningkat demikian juga energinya dan oleh karenanya ekivalensi massanya (inersia). Hal ini memerlukan gaya yang lebih besar untuk mempercepat benda sejumlah yang sama daripada itu lakukan pada kecepatan yang lebih rendah. Definisi masih valid.

[sunting] Gaya dan Potensial

Disamping gaya, konsep yang sama secara matematis dari medan energi potensial dapat digunakan untuk kesesuaian. Sebagai contoh, gaya gravitasi yang beraksi pada suatu benda dapat dipandang sebagai aksi medan gravitasi yang hadir pada lokasi benda. Pernyataan ulang secara matematis definisi energi (melalui definisi kerja), medan skalar potensial didefinisikan sebagai medan yang mana gradien adalah sama dan berlawanan dengan gaya yang dihasilkan pada setiap setiap titik.

Gaya dapat diklasifikasi sebagai konservatif atau non konservatif. Gaya konservatif sama dengan gradien potensial.

[sunting] Gaya konservatif

Gaya konservatif yang beraksi pada sistem tertutup memiliki sebuah kerja mekanis terkait yang memperkenankan energi untuk mengubah hanya antara bentuk kinetik atau potensial.

Hal ini berarti bahwa untuk sistem tertutup, energi mekanis netto adalah kekal kapan pun gaya konservatif beraksi pada sistem.

Gaya, oleh karena itu, terkait secara langsung dengan perbedaan energi potensial antara dua lokasi berbeda dalam ruang dan dapat ditinjau sebagai artifak, benda (artifact) medan potensial dalam cara yang sama bahwa arah dan jumlah aliran air dapat ditinjau sebagai artifak pemetaan kontur (contour map) dari ketinggian area.

Gaya konservatif meliputi gravitasi, gaya elektromagnetik, dan gaya pegas. Tiap-tiap gaya ini, oleh karena itu, memiliki model yang gayut pada posisi seringkali diberikan sebagai vektor radial eminating dari potensial simetri bola.

[sunting] Gaya non konservatif

Untuk skenario fisis tertentu, adalah tak mungkin untuk memodelkan gaya sebagaimana dikarenakan gradien potensial.

Hal ini seringkali dikarenakan tinjauan makrofisis yang mana menghasilkan gaya sebagai kemunculan dari rata-rata statistik makroskopik dari keadaan mikro. Sebagai contoh, friksi disebabkan oleh gradien banyak potensial elektrostatik antara atom-atom, namun mewujud sebagai model gaya yang tak gayut sembarang vektor posisi skala makro.

Gaya non konservatif selain friksi meliputi gaya kontak yang lain, tegangan, tekanan, dan seretan (drag). Akan tetapi, untuk sembarang deskripsi detil yang cukup, seluruh gaya ini adalah hasil gaya konservatif karena tiap-tiap gaya makroskopis ini adalah hasil netto gradien potensial mikroskopis.

Hubungan antara gaya non konservatif makroskopis dan gaya konservatif mikroskopis dideskripsikan oleh perlakuan detil dengan mekanika statistik. Dalam sistem tertutup makroskopis, gaya non konservatif beraksi untuk mengubah energi internal sistem dan seringkali dikaitkan dengan transfer panas.

Menurut Hukum Kedua Termodinamika, gaya non konservatif hasil yang diperlukan dalam transformasi energi dalam sistem tertutup dari kondisi terurut menuju kondisi lebih acak sebagaimana entropi meningkat.

[sunting] Satuan Ukuran

Satuan SI yang digunakan untuk mengukur gaya adalah newton (simbol N), yang mana adalah ekivalen dengan kg.m.s-2. Satuan CGS lebih awal adalah dyne. Hubungan F = m.a dapat digunakan dengan yang mana pun.

MAKALAH FISIKA ATOM TEORI ATOM BOHR

TEORI ATOM BOHR

 

 

  1. I. PENDAHULUAN

 

Atom adalah satuan unit terkecil dari sebuah unsur yang memiliki sifat-sifat dasar tertentu. Setiap atom terdiri dari sebuah inti kecil yang terdiri dari proton dan neutron dan sejumlah elektron pada jarak yang jauh.

Pada tahun 1913 Neils Bohr pertama kali mengajukan teori kuantum untuk  atom hydrogen. Model ini merupakan transisi antara model mekanika klasik dan mekanika gelombang. Karena pada prinsip fisika klasik tidak sesuai dengan kemantapan hidrogen atom yang teramati.

Model atom Bohr memperbaiki kelemahan model atom Rutherford. Untuk menutupi kelemahan model atom Rutherford, Bohr mengeluarkan empat postulat. Gagasan Bohr menyatakan bahwa elektron harus mengorbit di sekeliling inti.

Namun demikian, teori atom yang dikemukakan oleh Neils Bohr juga memiliki banyak kelemahan. Model Bohr hanyalah bermanfaat untuk atom-atom yang mengandung satu elektron tetapi tidak untuk atom yang berelektron banyak.

 

 

  1. ISI
  • Sejarah

Di awal abad ke-20, percobaan oleh Ernest Rutherford telah dapat menunjukkan bahwa atom terdiri dari sebentuk awan difus elektron bermuatan negatif mengelilingi inti yang kecil, padat, dan bermuatan positif. Berdasarkan data percobaan ini, sangat wajar jika fisikawan kemudian membayangkan sebuah model sistem keplanetan yang diterapkan pada atom, model Rutherford tahun 1911, dengan elektron-elektron mengorbit inti seperti layaknya planet mengorbit matahari. Namun demikian, model sistem keplanetan untuk atom menemui beberapa kesulitan. Sebagai contoh, hukum mekanika klasik (Newtonian) memprediksi bahwa elektron akan melepas radiasi elektromagnetik ketika sedang mengorbit inti. Karena dalam pelepasan tersebut elektron kehilangan energi, maka lama-kelamaan akan jatuh secara spiral menuju ke inti. Ketika ini terjadi, frekuensi radiasi elektromagnetik yang dipancarkan akan berubah. Namun percobaan pada akhir abad 19 menunjukkan bahwa loncatan bunga api listrik yang dilalukan dalam suatu gas bertekanan rendah di dalam sebuah tabung hampa akan membuat atom atom gas memancarkan cahaya (yang berarti radiasi elektromagnetik) dalam frekuensi-frekuensi tetap yang diskret.

Pada tahun 1913, Niels Bohr, fisikawan berkebangsaan Swedia, mengikuti jejak Einstein menerapkan teori kuantum untuk menerangkan hasil studinya mengenai spektrum atom hidrogen. Bohr mengemukakan teori baru mengenai struktur dan sifat-sifat atom. Teori atom Bohr ini pada prinsipnya menggabungkan teori kuantum Planck dan teori atom dari Ernest Rutherford yang dikemukakan pada tahun 1911. Bohr mengemukakan bahwa apabila elektron dalam orbit atom menyerap suatu kuantum energi, elektron akan meloncat keluar menuju orbit yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika elektron itu memancarkan suatu kuantum energi, elektron akan jatuh ke orbit yang lebih dekat dengan inti atom.

 

  • Gagasan Kunci Model atom Bohr

Dua gagasan kunci adalah:

  1. Elektron-elektron bergerak di dalam orbit-orbit dan memiliki momentum yang terkuantisasi, dan dengan demikian energi yang terkuantisasi. Ini berarti tidak setiap orbit, melainkan hanya beberapa orbit spesifik yang dimungkinkan ada yang berada pada jarak yang spesifik dari inti.
  2. Elektron-elektron tidak akan kehilangan energi secara perlahan-lahan sebagaimana mereka bergerak di dalam orbit, melainkan akan tetap stabil di dalam sebuah orbit yang tidak meluruh.

 

  • Postulat  Dasar Model Atom Bohr

Ada empat postulat yang digunakan untuk menutupi kelemahan model atom Rutherford, antara lain :

  1. Atom Hidrogen terdiri dari sebuah elektron yang bergerak dalam suatu lintas edar berbentuk lingkaran mengelilingi inti atom ; gerak elektron tersebut dipengaruhi oleh gaya coulomb sesuai dengan kaidah mekanika klasik.
  2. Lintas edar elektron dalam hydrogen yang mantap hanyalah memiliki harga momentum angular L yang merupakan kelipatan dari tetapan Planck dibagi dengan 2π.

 

dimana n = 1,2,3,… dan disebut sebagai bilangan kuantum utama, dan h adalah konstanta Planck.

  1. Dalam lintas edar yang mantap elektron yang mengelilingi inti atom tidak memancarkan energi elektromagnetik, dalam hal ini energi totalnya E tidak berubah.
  2. Jika suatu atom melakukan transisi dari keadaan energi tinggi EU ke keadaan energi lebih rendah EI, sebuah foton dengan energi hυ=EU-EI diemisikan. Jika sebuah foton diserap, atom tersebut akan bertransisi ke keadaan energi rendah ke keadaan energi tinggi.

 

  • Model Atom Bohr

”Bohr menyatakan bahwa elektron-elektron hanya menempati orbit-orbit tertentu disekitar inti atom, yang masing-masing terkait sejumlah energi kelipatan dari suatu nilai kuantum dasar. (John Gribbin, 2002)”

 

Model Bohr dari atom hidrogen menggambarkan elektron-elektron bermuatan negatif mengorbit pada kulit atom dalam lintasan tertentu mengelilingi inti atom yang bermuatan positif. Ketika elektron meloncat dari satu orbit ke orbit lainnya selalu disertai dengan pemancaran atau penyerapan sejumlah energi elektromagnetik hf.

Menurut Bohr :

Ada aturan fisika kuantum yang hanya mengizinkan sejumlah tertentu elektron dalam tiap orbit. Hanya ada ruang untuk dua elektron dalam orbit terdekat dari inti. (John Gribbin, 2005)”

 

Gambar 1. Model Atom Bohr

Model ini adalah pengembangan dari model puding prem (1904), model Saturnian (1904), dan model Rutherford (1911). Karena model Bohr adalah pengembangan dari model Rutherford, banyak sumber mengkombinasikan kedua nama dalam penyebutannya menjadi model Rutherford-Bohr.

Kunci sukses model ini adalah dalam menjelaskan formula Rydberg mengenai garis-garis emisi spektral atom hidrogen, walaupun formula Rydberg sudah dikenal secara eksperimental, tetapi tidak pernah mendapatkan landasan teoritis sebelum model Bohr diperkenalkan. Tidak hanya karena model Bohr menjelaskan alasan untuk struktur formula Rydberg, ia juga memberikan justifikasi hasil empirisnya dalam hal suku-suku konstanta fisika fundamental.

Model Bohr adalah sebuah model primitif mengenai atom hidrogen. Sebagai sebuah teori, model Bohr dapat dianggap sebagai sebuah pendekatan orde pertama dari atom hidrogen menggunakan mekanika kuantum yang lebih umum dan akurat, dan dengan demikian dapat dianggap sebagai model yang telah usang. Namun demikian, karena kesederhanaannya, dan hasil yang tepat untuk sebuah sistem tertentu, model Bohr tetap diajarkan sebagai pengenalan pada mekanika kuantum.

 

 

 

Keterangan

 

 

Gambar 2. Model Bohr untuk atom hydrogen

n Lintasan yang diizinkan untuk elektron dinomori n = 1, n = 2, n =3 dst. Bilangan ini dinamakan bilangan kuantum, huruf K, L, M, N juga digunakan untuk menamakan lintasan

n Jari-jari orbit diungkapkan dengan 12, 22, 32, 42, …n2. Untuk orbit tertentu dengan jari-jari minimum a0 = 0,53 Å

 

n Jika elektron tertarik ke inti dan dimiliki oleh orbit n, energi dipancarkan dan energi elektron menjadi lebih rendah sebesar

 

 

 

Gambar 3. Tingkat-tingkat energi atom Hydrogen

·         Tingkatan energi elektron dalam atom hidrogen

Model Bohr hanya akurat untuk sistem satu elektron seperti atom hidrogen atau helium yang terionisasi satu kali. Penurunan rumusan tingkat-tingkat energi atom hidrogen menggunakan model Bohr.

Penurunan rumus didasarkan pada tiga asumsi sederhana:

1) Energi sebuah elektron dalam orbit adalah penjumlahan energi kinetik dan energi potensialnya:

   
   

dengan k = 1 / (4πε0), dan qe adalah muatan elektron.

2) Momentum sudut elektron hanya boleh memiliki harga diskret tertentu:

 

dengan n = 1,2,3,… dan disebut bilangan kuantum utama, h adalah konstanta Planck, dan .

3) Elektron berada dalam orbit diatur oleh gaya coulomb. Ini berarti gaya coulomb sama dengan gaya sentripetal:

 

Dengan mengalikan ke-2 sisi persamaan (3) dengan r didapatkan:

 

Suku di sisi kiri menyatakan energi potensial, sehingga persamaan untuk energi menjadi:

 

Dengan menyelesaikan persamaan (2) untuk r, didapatkan harga jari-jari yang diperkenankan:

 

Dengan memasukkan persamaan (6) ke persamaan (4), maka diperoleh:

 

Dengan membagi kedua sisi persamaan (7) dengan mev didapatkan

 

Dengan memasukkan harga v pada persamaan energi (persamaan (5)), dan kemudian mensubstitusikan harga untuk k dan , maka energi pada tingkatan orbit yang berbeda dari atom hidrogen dapat ditentukan sebagai berikut:

   
   
   

Dengan memasukkan harga semua konstanta, didapatkan,

 

Dengan demikian, tingkat energi terendah untuk atom hidrogen (n = 1) adalah -13.6 eV. Tingkat energi berikutnya (n = 2) adalah -3.4 eV. Tingkat energi ketiga (n = 3) adalah -1.51 eV, dan seterusnya. Harga-harga energi ini adalah negatif, yang menyatakan bahwa elektron berada dalam keadaan terikat dengan proton. Harga energi yang positif berhubungan dengan atom yang berada dalam keadaan terionisasi yaitu ketika elektron tidak lagi terikat, tetapi dalam keadaan tersebar.

Dengan teori kuantum, Bohr juga menemukan rumus matematika yang dapat dipergunakan untuk menghitung panjang gelombang dari semua garis yang muncul dalam spektrum atom hidrogen. Nilai hasil perhitungan ternyata sangat cocok dengan yang diperoleh dari percobaan langsung. Namun untuk unsur yang lebih rumit dari hidrogen, teori Bohr ini ternyata tidak cocok dalam meramalkan panjang gelombang garis spektrum. Meskipun demikian, teori ini diakui sebagai langkah maju dalam menjelaskan fenomena-fenomena fisika yang terjadi dalam tingkatan atomik. Teori kuantum dari Planck diakui kebenarannya karena dapat dipakai untuk menjelaskan berbagai fenomena fisika yang saat itu tidak bisa diterangkan dengan teori klasik.

 

  • Kelebihan dan Kelemahan Teori Bohr
  • Keberhasilan teori Bohr terletak pada kemampuannya untuk meeramalkan garis-garis dalam spektrum atom hidrogen
  • Salah satu penemuan adalah sekumpulan garis halus, terutama jika atom-atom yang dieksitasikan diletakkan pada medan magnet

 

Kelemahan

Struktur garis halus ini dijelaskan melalui modifikasi teori Bohr tetapi teori ini tidak pernah berhasil memerikan spektrum selain atom hydrogen

Belum mampu menjelaskan adanya stuktur halus(fine structure) pada spectrum, yaitu 2 atau lebih garis yang sangat berdekatan

Belum dapat menerangkan spektrum atom kompleks

Itensitas relatif dari tiap garis spektrum emisi.

Efek Zeeman, yaitu terpecahnya garis spektrum bila atom berada dalam medan magnet.

  1. III. KESIMPULAN

Teori atom Bohr menyatakan bahwa elektron harus mengorbit di sekeliling inti seperti planet mengorbit Matahari.

Model Bohr disambut sebagai langkah maju yang penting karena dengan cara memberi jarak pada orbit elektron,dapat menjelaskan spektrum cahaya dari sebuah atom.

Elektron dapat berpindah dari satu orbit ke orbit lain dengan cara lompatan kuantum, dan lompatannya selalu melibatkan emisi atau absorpsi kuantum utuh dengan jumlah energi ekuivalen dengan hf atau kelipatannya,tapi tidak pernah ada nilai diantaranya.

Bohr masih memakai hukum newton disamping beberapa postulat lain, nilai teori bohr tidaklah pada prediksi yang dapat dihasilkan tetapi pada pengertian dan hukum yang baru di ungkapkan.

 

 

 

  1. IV. DAFTAR PUSTAKA

Beiser, Arthur. 1999. Konsep Fisika Modern. Jakarta : Erlangga

Gribbin, John. 2003. Fisika Kuantum. Jakarta : Erlangga

——. 2005. Bengkel Ilmu : Fisika Modern. Jakarta : Erlangga

Krane, Kenneth. 1988. Fisika Modern. Jakarta : UI Press

http://id.wikipedia.org/wiki/Model_Bohr

Elektro Indonesia no. 31/VI (Mei 2000)

PEMBIASAN CAHAYA.

Pembiasan cahaya adalah pembelokan cahaya ketika berkas cahaya melewati bidang batas dua medium yang berbeda indeks biasnya. Indeks bias mutlak suatu bahan adalah perbandingan kecepatan cahaya di ruang hampa dengan kecepatan cahaya di bahan tersebut. Indeks bias relatif merupakan perbandingan indeks bias dua medium berbeda. Indeks bias relatif medium kedua terhadap medium pertama adalah perbandingan indeks bias antara medium kedua dengan indeks bias medium pertama. Pembiasan cahaya menyebabkan kedalaman semu dan pemantulan sempurna.

1. Persamaan indeks bias mutlak

1

2. Hukum Pembiasan Cahaya

2

Lensa adalah peralatan sangat penting dalam kehidupan manusia. Mikroskop menggunakan susunan lensa untuk melihat jasad-jasad renik yang tak terlihat oleh mata telanjang. Kamera menggunakan susunan lensa agar dapat merekam obyek dalam film. Teleskop juga memanfaatkan lensa untuk melihat bintang-bintang yang jaraknya jutaan tahun cahaya dari bumi.

Kuat lensa berkaitan dengan sifat konvergen (mengumpulkan berkas sinar) dan divergen (menyebarkan sinar) suatu lensa. Untuk Lensa positif, semakin kecil jarak fokus, semakin kuat kemampuan lensa itu untuk mengumpulkan berkas sinar. Untuk Lensa negatif, semakin kecil jarak fokus semakin kuat kemampuan lensa itu untuk menyebarkan berkas sinar. Oleh karenanya kuat lensa didefinisikan sebagai kebalikan dari jarak fokus.

Rumus Kuat Lensa

3

Pembentukan Bayangan Pada Lensa

4

Lensa Gabungan

5

 

http://swastikayana.wordpress.com/2009/04/08/pembiasan-cahaya/

kenapa pensel terlihat bengkok ketita dimasukan kedalam gelas?

Pernahkah anda melihat peristiwa dalam gambar disamping? Sebuah pensil terlihat patah atau bengkok ketika dimasukkan ke dalam gelas berisi air. Ketika pensil itu ditarik keluar, pensil tetap lurus dan tidak patah. “Sihir” apa yang terjadi dalam peristiwa ini? ;) Dalam kesempatan ini, kita akan sedikit mengungkap rahasia dibalik peristiwa itu. Namun, sebelum menuju kejawabannya, perlu diperkenalkan konsep pembiasan cahaya (sudah pernah disinggung dalam masalah postingan KENAPA PELANGI BERWARNA-WARNI?)

Pembiasan yaitu peristiwa pembelokan arah rambatan cahaya ketika memasuki batas dua medium rambatan cahaya yang berbeda. Nah, dalam peristiwa yang sedang kita bahas, dua medium yang dimaksud yaitu udara dan air. Berdasarkan pengertian dari pembiasan cahaya tersebut, seandainya ada cahaya lurus yang datang dari udara dan masuk kedalam air, cahaya itu pasti akan berbelok. Kenapa cahaya bisa berbelok dalam peristiwa pembiasan ? Mungkin ini akan menjadi postingan selanjutnya. Jadi, simak terus blog ini ya?:)

kembali ke pertanyaan KENAPA PENSIL TERLIHAT BENGKOK KETIKA MASUK KE DALAM AIR?

Jawabannya KARENA ADANYA PEMBIASAN CAHAYA “YANG DITANGKAP PENSIL” OLEH BIDANG BATAS ANTARA UDARA DAN AIR. Penjelasannya sebagai berikut: Sebuah benda akan dapat kita lihat jika benda tersebut memancarkan cahaya ke mata kita. Cahaya itu bisa berasal dari dirinya sendiri atau pantulan cahaya dari benda selainnya. Nah, pensil yang sedang kita bahas ini menangkap cahaya dari luar dirinya lalu memantulkannya ke mata kita. Namun, jangan lupa cahaya yang ditangkap oleh seluruh permukaan pensil ini mengikuti hukum dari pembiasan cahaya diatas, yaitu dibelokkan jika masuk kedalam bidang batas dua medium yang berbeda. Dengan sebab inilah, pensil yang telah menangkap dan memantulkan cahayanya ke mata kita menjadi terlihat bengkok sedangkan secara nyata hal itu tidak terjadi. Bayangkan jika disekitar pensil tidak ada sumber cahaya, apakah pensil masih terlihat bengkok?

 

http://www.kenapakarena.com/2010/04/kenapa-pensil-terlihat-bengkok-ketika.html

Judul Skripsi Fisika Terbaru 2010

 

  1. PENERAPAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DALAM PEMBELAJARAN FISIKA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA Pendidikan Fisika
  2. MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KELAS VIII MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DENGAN METODE PICTORIAL RIDDLE (Pada Pokok Bahasan Alat-alat Optika) (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VIII-F SMPN 1 Conggeang Kab. Sumedang Semester Genap Tahun Ajaran 2005/2006) Pendidikan Fisika
  3. IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS-GAMES-TOURNAMENT (TGT) PADA PEMBELAJARAN FLUIDA STATIS DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (Penelitian Kuasi Eksperimen Terhadap Siswa SMA Pasundan 8 Kelas XI IPA 2 Tahun Ajaran 2005/2006) Pendidikan Fisika
  4. PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA Pendidikan Fisika
  5. PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN CHILDREN LEARNING IN SCIENCE (CLIS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW Pendidikan Fisika
  6. PEMODELAN STRUKTUR PANASBUMI BERDASARKAN DATA MAGNETIK DI GUNUNG UNGARAN, JAWA TENGAH Fisika
  7. UJI SIFAT LISTRIK I-V BaxSr1-xTiO3 (BST) DOPING Ga2O3 (BGST) Fisika
  8. PENENTUAN UMUR BATUAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE PENTARIKHAN JEJAK BELAH (FISSION TRACK DATING) BERDASARKAN MINERAL ZIRKON PADA BATUAN GRANITIK DARI DAERAH KAYUTANAM SUMATERA BARAT Fisika
  9. PENGEMBANGAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA MELALUI MODEL KOOPERATIF PADA KONSEP PESAWAT SEDERHANA Pendidikan Fisika

10.  PENGARUH HEAT TREATMENT TERHADAP KARAKTERISTIK TERMISTOR ZnFe2O4 YANG DITAMBAH DOPING SiO2 Fisika

11.  PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMP Pendidikan Fisika

12.  PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SD PADA PEMBELAJARAN SAINS (Suatu penelitian terhadap siswa kelas IV SD Negeri Sentral Kabupaten Sukabumi)

Judul Skripsi Kimia Terbaru 2010

  1. Stabilisasi tanah semen dan kimia pada tanah lempung Bandung
  2. Perbaikan sifat-sifat fungsional protein dedak padi secara kimiawi
  3. Kemampuan saringan pasir, ijuk, dan arang dalam meningkatkan kualitas fisik dan kimia air DAS Ciliwung
  4. The Effects of schooling factors on personal earnings within the context of the internal labor market in PT Petrokimia Gresik (Persero), Indonesia
  5. Penentuan senyawa kimia tanaman Cleome viscosa L. dan aktivitas biologi
  6. Pengaruh penyawahan terhadap morfologi, pedogenesis, elektrokimia dan klasifikasi tanah
  7. Pengaruh pemberian terak baja pada podzolik merah kuning terhadap ciri kimia tanah, kadar dan serapan hara, serta produksi tanaman tebu (Saccharu mofficinarum L.)
  8. Minyak Thymus vulgaris L. dan herba sumbernya : karakteristika kimia minyak timi asal Thymus vulgaris L. dari Tawangmangu, kaitannya dengan herbanya mengacu pada persyaratan farmakope dan pengadaan herbanya
  9. Pengaruh pemantap tanah terhadap sifat-sifat fisik dan kimia serta erosi tanah podsolik merah kuning pada intensitas hujan dan kemiringan lereng yang berbeda

10.  K-cycles to analyse physical-chemical equilibria daur-k untuk menganalisa keseimbangan kimia-fisika

11.  Perpaduan pengendalian secara hayati dan kimiawi hama ulat daun kubis (Plutella xylostella L.) (Lepisoptera : Yponomeutidae) pada tanaman kubis

12.  Pengaruh jenis aspirasi, sikap ilmiah dan inteligensi pada hasil belajar murid SMA klas I di enam kota madya di Jawa Tengah, dalam mata pelajaran kimia

13.  Perbaikan beberapa sifat kimia dan kandungan air tanah podsolik merah kuning Sitiung dengan pemberian kapur pada berbagai kedalaman serta efeknya terhadap perakaran dan hasil jagung

14.  Silanisasi monomer sebagai upaya peningkatan kekuatan polimer resin akrilat : studi dengan pendekatan dari segi mekanis kimiawi dan biokompatibilitas

15.  Kompetisi akademik mahasiswa FKIE IKIP jurusan biologi, fisika dan kimia ditinjau dari peranannya dalam mengelola kegiatannya inkuiri sebagai dasar pengembangan pelajaran sains di sekolah menengah atas

16.  Hubungan hepatitis B surface antigen dalam hepatosit dengan perubahan morfologik jaringan hati : suatu pendekatan dengan tehnik histokimia

17.  Pengaruh strategi pembelajaran dan bakat skolastik terhadap retensi siswa : suatu studi pembelajaran kimia pada SMA negeri di Ujung Pandang tahun 1990

18.  Pembangkitan gelombang kejut plasma oleh laser CO2 dan aplikasinya untuk analisis spektrokimia

19.  Pengaruh penggantian hara K dengan Na, pembasahan dan pengeringan terhadap sifat kimia tanah, pertumbuhan dan hara makro tebu (Saccharum officinarum L.) di tanah oksisol, alfisol dan vertisol

20.  Penerapan prinsip akuntansi Indonesia dan faktor-faktor yang mempengaruhi mutu laporan keuangan : studi kasus pada industri kimia dasar di Propinsi Jawa Tengah

Judul Skripsi Matematika Terbaru 2010

  1. Pengaruh Penerapan Pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Menengah Umum di Bandung Pendidikan Matematika
  2. Efektivitas model konstruktivis dalam pembelajaran matematika pada siswa SMU Pendidikan Matematika
  3. PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERSTRUKTUR DALAM UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS MATEMATIK SISWA SMP Pendidikan Matematika
  4. PEMODELAN SPACE TIME AUTOREGRESSIVE MOVING AVERAGE (STARMA) Pendidikan Matematika
  5. PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA (Suatu Penelitian Terhadap Siswa Kelas X di SMA Negeri 6Bandung) Pendidikan Matematika
  6. MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENTS (TGT) (Penelitian Terhadap Siswa MAN 1Bandung Kelas X Tahun Ajaran 2004-2005) Pendidikan Matematika
  7. TEKNIK PROBING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA SMP (Suatu Penelitian Tindakan Kelas terhadap Siswa SMP Negeri 1 Margahayu Kelas VIII?I Semester 1 Tahun Ajaran 2006/2007 di KabupatenBandung) Pendidikan Matematika
  8. Suatu pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan penalaran analogi matematika : studi eksperimen pada Madrasah Aliyah Negeri Kodya Bandar Lampung Pendidikan Matematika
  9. ALJABAR OPERATOR PADA MEKANIKA KUANTUM DAN APLIKASINYA PADA PARTIKEL DALAM KISI SATU DIMENSI Matematika

10.  UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS MATEMATIK SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN AUDITORY INTELLECTUALY REPETITION (AIR) (Penelitian Tindakan Kelas terhadap Siswa Kelas II SMKN 12Bandung pada Pokok Bahasan Geometri Dimensi Dua) Pendidikan Matematika

11.  PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL RECIPROCAL TEACHING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIKA SISWA SMP (Studi Eksperimen Terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 12Bandung) Pendidikan Matematika

12.  PENERAPAN METODE IMPROVE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA KOMPUTER UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SMP (Penelitian Tindakan Kelas terhadap Siswa Kelas IXH di SMPN 26Bandung)

 

 

PEMBELAJARAN BIOLOGI YANG BERBASIS IMTAQ DENGAN PENDEKATAN INTEGRATIF (SCIENCE, ENVIORENMENT ,SOCIETY,TECHNOLOGY AND RELIGION) Oleh Agus Wasisto Dwi DDW,MPd (WIDYAISWARA LPMP DIY)

Pendahuluan

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta perada­ban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, keatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jika mengacu pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut jelas sekali bahwa peran nilai-nilai agama menjadi sangat penting dalam setiap proses pendidikan yang terjadi di sekolah. Karena terbentuknya manusia yang beriman dan bertaqwa serta ber­akhlak mulia tidak mungkin terbentuk tanpa peran dari agama.

Peningkatan keimanan dan ketaqwaan siswa sesuai dengan tujuan penfidikan nasional tersebut bisa dilakukan melalui mata pelajaran, kegiatan ekstra kurikuler, pen ciptaan situasi yang kondusif maupun kerjasama sekolah dengan orang tua dan masyarakat.

Peningkatan irnan dan taqwa melalui mata pelajaran dilakukan oleh guru yaitu dengan cara mengkaitkan nilai-nilai Imtaq dan Iptek dalam pembelajaran tanpa mengubah kurikulum yang.

Keberhasilan siswa dalam belajar yang bisa meningkatkan Imtaq sangat dipengaruhi oleh kondisi internal siswa maupun faktor eksternal siswa. Salah satu faktor eksternal yang ikut berpe­ngaruh atas keberhasilan siswa dalam memahami suatu topik pembelajaran yang berasal dari guru adalah kemampuan guru dalam memilih metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat sehingga nilai-nilai Imtaq bisa mewarnai dalam pembelaja­ran tersebut.

Dalam suatu proses pembelajaran tidak ada suatu pendekatan pembelajaran yang tepat untuk semua topik dan semua situasi, oleh karena itu guru dalam menentukan metode dan pendeka­tan pembelajaran apa yang harus dipilih harus senantiasa mem­perhatikan kondisi siswa, sarana prasarana yang ada maupun mated pembelajaran apa yang akan dibahas.

Begitu juga di setiap sekolah tidak semua siswa mempunyai latar belakang sosiai budaya, ekonomi, agama serta motivasi yang sama dalarn setiap’belajarnya, kondisi ini mengharuskan setiap guru memahami karakteristik dari siswa atau kelas yang dihadapi jika ingin proses pembelajarannya bisa berhasil.

Kondisi yang berbeda-beda tentang latar belakang kemampu­an, ekonomi, sosial budaya, agama dan motivasi siswa tersebut dalam belajar, bisa terlihat dari prestasi belajar yang dicapai, akhlak, budi pekerti clan perilaku siswa yang ditunjukkan oleh siswa-siswa dalam kehidupannya sehari-hari

Permasalahan yang muncul adalah: Bagaimana integrasi materi pelajaran dan nilai-nilai agama Islam dalam penibelajaran? Dan Pendekatan pembelajaran apa yang kiranya sesuai dengan materi pembelajaran? `perta nilai-nilai Imtaq apa saja yang bisa dikem­bangkan dalarr: pembelajaran tersebut ? Itulah beberapa persolan yang akan ditelaah dalam artikel ini.

 

Pengintegrasian nilai-nilai agama Islam dalam pembelajaran Biologi pada pokok bahasan  Ekologi.

Munculnya ilmu tentang ekologi merupakan hasil kajian dari berbagai fenomena alam sendiri yang teratur (sunatullah). Ketera­turan yang ada di alam membuat manusia bisa membuat prediksi-­prediksi tentang apa yang akan terjadi berdasarkan pada fakta-fakta yang ada, sehingga manusia bisa membuat antisipasi -antisipasi, Keteraturan­-ketraturan yang ada di alam ini merupakan bukti bahwa alam ini tidak terjadi dengan sendirinya dan tanpa tujuan, tetapi jelas diciptakan oleh Dzat yang Maha Kuasa dengan tujuan clan maksud tertentu, sehingga kita manusia wajib mensyukurinya.

Petunjuk-petunjuk tentang gejala alam yang teratur dan seimbang itu bagi kita dapat, mentafakuri ke Esaan sang Pencipta, sehingga mampu meningkatkan keimanan dan Ketaqawaan kepadaNya.

Alam semesta beserta isinya diserahkan sepenuhnya untuk dipelihara dan dimanfaatkan untuk keperluan hidup manusia secara bijak agar kita bisa melaksa­nakan amanah Allah dengan sebaik-baiknya.

Pada dasarnya setiap pokok bahasan dalam Ekologi bisa diintegrasikan dengan nilai-nilai agama Islam, untuk menambah keimanan, dan ketaqwaan siswa, terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Ternyata berdasarkan hasil pengamatan, kajian dan evaluasi yang penulis lakukan sewaktu masih menjadi guru ternyata pembelajaran yang menggunakan pendekatan integratif ini mempu­nyai pengaruh yang baik terhadap prestasi belajar, motivasi, perilaku dan sikap siswa.

Sebagai contoh nilai-nilai agama Islam yang bisa diintegrasikan pada pokok bahasan ekologi pada mata pelajaran  biologi. Dalam perspektif ekologi,  lingkungan hidup mencakup segala sesuatu yang ada disekitar kita yang terdiri dari faktor biotik dan abiotik serta budaya manusia.

Realitas menunjukkan bahwa makhluk hidup tidak dapat hidup sendiri-sendiri, ada saling ketergan­tungan antara makhluk hidup dengan sesamanya maupun dengan lingkungannya. Di samping itu bahwa aktifitas makhluk hidup termasuk manusia ternyata sangat dipengaruhi dan mempengaruhi terhadap lingkungan tempat hidupnya baik lingkungan abiotik maupun biotik. Sebagai contoh penulis mengintegrasikan nilai imtaq ke dalam materi lingkungan dalam suatu proses pembelajaran.

Lingkungan abiotik, yang meliputi segala sesuatu yang tidak hidup yang berupa benda mati yang secara tidak langsung terkaait pada keberadaan hidup, seperti air, tanah, cahaya, kelembaban, udara, pH, keadaan tanah tempat mahkluk hidup berada.

Air merupakan komponen utama yang sangat diperlukan oleln makhluk hidup, tanpa air tidak akan ada kehidupan. Air sebagai sumber kehidupan utama bagi kehidupan makhluk hidup, dijelaskan Allah pada al-Quran Surat al-Jatsiyah ayat 5, yang artinya: “Dan pada pergantian malam dan stang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkannya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda­tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. “. (QS. al-Jatsiyah [45 ) : 5)

Tanah menjadikan tempat tinggal sebagian besar makhluk hidup, peranan tanah sebagai lingkungan hidup sangat menentu­kan, Allah berfirman d~alam Surat al-Hijr ayat 19 yang artinya: "Dan kami telah mengham-parkan bumi dan mEnjadikan padanya gunung­gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran." (QS. Al-Hijr [ 151: 19)

Dan juga diterangkan oleh Allah bagaimana fungsi tanah bagi kehidupan seperti yang terdapat dalam firman Allah yang artinya: "Dan tanah yang baik, tanaman­tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; clan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya

tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran Kami bagi orang-orang yang bersyukur". (QS. al-A'Raf [7] : 58)

Angin, merupakan udara yang bergerak terjadi karena perbedaan tekanan udara, adanya angin menjadi tanda akan adanya hujan, dimana air hujan menj adi sesuatu yang sangat penting bagi mahkluk hidup, disamping itu angin akan mempengaruhi kehidupan teru­tama untuk tumbuh-tumbuhan yang sangat penting dalam penyer­bukan sehingga dapat mempertahan­kan kelangsungan hidupnya, dan selain itu angin dapat membantu dalam penyebaran organisme.

Adanya angin j uga akan menga­_tur suhu udara, kelembaban udara, terj adinya hujan seperti apa yang ada pada firman Allah yang artinya “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah­celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dilcehendakiNya tiba-tiba mereka menjadi gembira”. ( QS. ar­Rum [301:48)

Cahaya, merupakan sumber energi bagi kehidupan di bumi, dengan proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan maka cahaya matahari ini akan diubah menjadi energi yang tersimpan dalam senyawa kimia. Senyawa

kimia hasil fotosintesis (karbohi­drat) inilah yang nanti dij adikan sebagi sumber energi dan makanan bagi organisme hidup. Apal:ah yang akan terj adi bila matahari tidak lagi memancarkan cahaya ? Tentunya akan terjadi malapetaka yang sangat hebat di permukaan bumi ini, maka perlu kita renungkan firman Allah SWT dalam al- Qur'an surat at-Takwir ayat 1 yang artinya "Apabila matahari telah digulung ( hiiang cahayanya) ". (QS. At-Taqwir [81]:1).

Dan juga dalam firman Allah dijelaskan begitu pentingnya matahari bagi kehidupan, yang artinya “Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari) “. (QS. an-Naba’ [?8]: 13), “Dan Kami( Allah) telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, da.n (kami menciptakan pula) makhluk yang kamu sekali-kali bukan, pemberi rezeki.” (QS. al-Hijr [15]:20).

Sedangkan lingkungan biotik, secara garis besar meliputi mikro­organisme, tumbuhan, hewan dan manusia.

Mikroorganisme, merupakan jasad makhluk kecil yang berperan penting sebagai jembatan hubungan antara lingkungan biotik dengan abiotik. Keanekaragaman makh­luk hidup yang di ada di bumi ini, sesuai dengan firman Allah yang artinya : “Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami- tidak

menurunkannycz melainkan dengan ukuran yang tertentu”. (QS. al-Hijr [15): 21)

Tumbuhan, merupakan makh­luk yang menyediakan sumber makanan dan oksigen bagi makhluk hidup yang lain misalnya manusia, hewan maupun mikroor­ganisme karena kemampuannya bisa meiakukan fotosintesis. Firman Allah dalam al-Qu'ran yang artinya "Dan Kami turunkan air yang banyak tercurah. Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji­bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat ". (QS an­Naba' [781: 14-16).

Adanya interaksi yang kompleks antara organisme hidup (biotik) dan abiotik dengan lingkungan­nya menunjukkan bahwa di alam ini antara makhluk hidup (biotik) dengan benda mati (abiotik) tidak bisa berdiri sendiri tetapi kebera­daannya saling mendukung satu sama lain. Organisme hidup tidak bisa hidup tanpa adanya faktor-faktor abiotik yang ada disekitarnya, begitu juga antara organisme satu dengan organisme yang lain juga saling membutuhkan: misalnya ttimbuhan tidak bisa hidup tanpa air dan canah, hewan dan manusia tidak bisa hidup tanpa ada tumbuhan, tumbuhan r_idak bisa hidup tanpa jasa mikroba sebagai pengurai bahan organik.

Sehingga kalau dicermati, ternyata di dalam ekosistem yang normal akan selalu ditemukan kaidah-kaidah yang akan mengatur keseimbangan ekosistem yang ada di dalam ekosistem, misalnya hahwa di suatu ekosistem itu secara alamiah (homeostatis) akan terkendali, karena di dalamnya akan terjadi interaksi antara seluruh unsur-unsur lingkungan yang saling mempengaruhi dan besifat timbal balik, interaksi tersebut terjadi antara komponen biotik dengan kompo­nen abiotik, komponen biotik dengan komponen biotik maupun komponen abiotik dengan kom­ponen abiotik.

Kaidah ekosistem tergantung dan dapat dipengaruhi oleh faktor tempat, waktu dan masing-masing mencer­minkan sifat-sifat yang khas. Kaidah-kaidah dalam ekosistem tersebut mencerminkan bahwa pada dasarnya alam ini sebetulnya dalam keadaan seimbang dan selaras, ini merupakan bukti kekusaan Allah, sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur'an surat al-Mulk ayat 3 yang artinya: "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali--ka.li ti.lak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak scimbang. Ivtaka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang idak seimbang". (QS. al­Mulk [67J: 3).

Ekosistem sebetulnya merupa­kan sistenu yang dinamis yang terdiri dari tcomponen-komponen abiotik dan biotik yang saling berinteraksi. Di dalam ekosistern akan selalu terjadi aliran energi

melalui serangkaian rantai makanan dan siklus hara (siklus biogeokimia yang selalu dalam keadaan seimbang) .

Interkasi antara komponen ekosistem yang meliputi komponen biotik dan komponen abiotik diatas merupakan sunnatullah yang perlu kita pikirkan dan kita syukuri sebagaimana firman Allah dalam al-Qur'an surat al-Hijr ayat 19 sampai ayat 21 di atas.

Pendekatan Pembelajaran yang Bisa Dikembangkan

Kegiatan pembelajaran IPA khususnya biologi lebih diarahkan kepada kegiatan yang mendorong siswa  belaj ar        aktif.  Dalarn pemilihan pendekatan pembelaja­ran IPA guru selalu mempertim­bangkan tentang fasilitas sekolah yang ada, misalnya laboratorium serta sumber belaj ar lainnya. Ada beberapa pendekatan yang bisa dipertimbangkan dalam melakukan pembelajaran antara lain :1) pendekatan konsep; 2) pendekatan ketrampilan proses; 3) pendekatan pemecahan masalah; 4) pendekatan induktif dan deduktif dan 5) pendekatan lingkungan ( Depag, 1996:81). Disamping pendekatan­pendekatan tersebut ada pendekatan dalam pembelajaran yang cende­rung bersifat integratif dalam memaizdang suatu permasalahan yaitu pendekatan SETS (Science, Environ­ment, Technologi, and Society).

Dalam dunia pendidikan dikenal pendidikan STS (Science, Technologi, and Society) terpisah dengan pendidikan EE (Environ­ment Education). Menurut Binadja (1999) apabila kita membicarakan pendidikan (Science, Technologry, and Society) dan pendidikan Lingku­ngan(Environmental Education) sebagai dua mata pelaj aran terpisah, maka akan terlihat adanya pembahasan materi yang saling tumpang tindih. '

Permasalahan yang tampak pada masalah lingkungan yang dibahas di STS, akan dibahas juga pada pendidikan lingkungan. Pada saat yang sama, pendidikan lingkungan j uga membicarakan hakekat iltnu pengetahuan dan penerapan teknologi yang menimbulkan dampak pada lingkungan. Dengan kata lain, dalam praktek penga­jaran, pemberian kedua subjek ini secara terpisah tidaklah efektif. Ini berarti bahwa peserta didik telah membuang waktu dan tenaga karena telah mempelajari sejumlah hal yang sama dua kali. Keduanya dapat digabungkan menj adi satu teknik pendekatan yang integratif yaitu teknik pendekatan SETS (Science, Environment, Technology and Society).

Pada pendekatan pembelaj aran integratif yang penulis gunakan dalam pembelajaran ekologi disini merupakan modifikasi dari pendekatan SETS yang ditambah dengan sudut pandang agama (Religion ), yang penulis gunakan dalam pembelajaran ini adalah sudut pandangan dari agama Islam yang bersumber pada al-Qur'an dan Sunnah Rosul.

Pendekatan integratif (SETSR) merupakan usaha untuk menjadikan lulusan pendidikan setidaknya tahu tentang atau bahkan menyukai Science dan Technology, perkemba­ngan serta implikasinya terhadap lingkungan, masyarakat, pening­katan keimanan dan ketaqwaan.

Dalam gambar tersebut diatas lingkungan digambarkan sebagai pusat perhatian. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan SETSR memiliki makna pengajaran sains yang dikaitkan dengan unsur lain dalam SETSR, yaitu Teknologi, Lingkungan, masyarakat dan nilai-nilai yang ada pada agama, yang masing-masing unsur tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain, saling berkaitan. Perubahan dazi satu variabel juga akan mempengaruhi perubahan variabel lain.

Pada dasarnya pemikiran SETSR adalah pemikiran yang mendalam tentang keberadaan satu bumi untuk semua, sehingga perhatian utama ditumpukan pada penjagaan pelesta­rian alam untuk menjamin kesta­bilan hidup serta keanekaragaman makhluk yang berada di bumi sebagai karunia Allah SWT yang perlu dijaga dan disyukuri bagai umat manusia.Apabila hubungan tersebut digambarkan sebagai berikut:

 

 

Masyarakat

( Society)

Ilmu (Science)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. SETSR konteks dimana lingkungan menjadi fokus perhatian

 

Kelebihan Pendekatan tntegratif dalam Pembelajaran

Dari pemahaman  penulis  setelah diadakan analisis, ada beberapa hal yang dipandang menjadi kelebihan dari pendekatan integratif dibanding menggunakan pendekatan lain, antara lain: Bisa meningkatkan motivasi belajar siswa; bisa meningkatkan prestasi hasil belaj ar siswa; bisa meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar biologi; pendekatan integratif pada pembelajaran biologi diharapkan  bisa melatih siswa dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan multidisiplin ilmu dan interdisi­pliner, sehingga pemahaman siswa terhadap sesuatu masalah lebih bersifat kompreheinsif. Dengan pendekatan integratif siswa akan dilatih bekerjasama dengan ang­gota kelompok dalam memecah­kan permasalahan.

Beberapa Kendala- kendala yang Dihadapi

Sehingga disamping ada bebe­rapa kelebihan yang bisa  diperoleh dari penggunaan pendeka­tan integratif tersebut, penulis juga memperkirakan beberapa kendala yang perlu dicarikan solusinya yaitu guru harus menguasai juga nilai--nilai agama yang ada dalam a1-Qur'ah; perlu kemampuan 'tersendiri dalam mengkaitkan antara ayat- ayat suci al-Qur'an dengan pokok bahasan yang akan diajarkan; dalam test sumatif nilai-nilai agama yang terintegrasi tidak dimasukkan dalam soal evaluasi, masih ada anggapan pada guru bahwa integrasi agama dalam mated pembelajaran hanya menambah beban guru; ada anggapan karena tidak semua siswa itu beragama Islam maka kalau yang dikaitkan itu hanya agama Islam sebagian guru maupun siswa menganggap itu tidak adil .

Demikian beberapa kendala yang penulis hadapi selama pembelajaran yang terintegrasi dengan nilai- nilai Imtaq dilak­sanakan. Namun secara prinsip penulis sangat setuju bahwa pembelajaran berbasis Imtaq ini perlu terus senantiasa ditingkatkan.dalam pelaksanaannya.

Kesimpulan Akhir

Berdasarkan pada uraian tersebut diatas penulis menyimpulkan bahwa penggunaan pendekatan integratif (Science, Envioronment, Technology, Society, Religy) dalam pembelaja­ran ekologi pada mata pelajaran biologi, diharapkan bisa meningkatkan motivasi belajar, prestasi belajar; patisipasi, kerjasama dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa.

Namun demikian walaupun penggunaan pendekatan integra­tif datam pembelajaran mempunyai kelebihan-kelebihan. Pendekatan integratif dalam Pembelajarari biologi juga mempunyai beberapa kendala yang perlu dicarikan jalan keluarnya

Oleh karena itu penulis menya­rankan kepada berbagai pihak yang terkait dengan pembelajaran yang berbasis iman dan taqwa misalnya pemerintah, guru, dan siswa perlu adanya kesamaan persepsi bahwa pengintegrasian nilai-nilai imtaq itu penting dalam pembelajaran, dan untuk itu perlunya peningkatan kualitas guru dalam melaksanakan penginte­grasian nilai-nilai agama dalam materi pembelajaran yang akan diaj arkan.

Semoga tulisan ini bisa berman­faat bagi kita semua dalam upaya meningkatkan kualitas pengetahuan dan keimanan para siswa kita. []

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan 7erjemahnya, 1977. JJakarta: PT. Bumi Restu

Binadja, A. 1999. STL( Science Technology Literacy) in the SETS ( Science, Environment, Technology and Society) Perspective. Paper presented in the regional workshop on scientific and technological Ilitercy for all conducted by SEAMEO RECSAM in collaboration with UNESCO and ICASE. Penang.

E. Choeruman,1998, Pendekatan Metode Pengajaran Ilmu Umum yang Islami. Jakarta: Ditjen Bagais Depag RI

Makalah seminar !;,!’-al,a^-ya Nasional, 1999. Hakekat dan tujuan pendirlikan SETS dalam konteks kehidupan dan pendidikan, UNNES, Semarang.

Muhibbin Syah, 19950,. Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Naskah Keterkaitan 10 Mata Pelajaran Di SMU dengan Imtaq, Depdiknas Dikdasmen Bag. Proyek peningkatan wawasan keagamaan Guru Jakarta.

Nugroho, 2003, Menyusun Instrumen Penelitian (makalah) . Dinas P dan K Propinsi Jawa Tengah.

Rodatun Widayati, 1998. Urgensi Penelusuran bakat Keilmuwan Siswa Madra-jah Aliyah. Jakarta: Ditjen Bagais Depag RI

Rosman Yunus dkk, Suplemen Biologi Untuk Peningkatan IM TAQ Siswa SLTA,2003,- Depdiknas Dikdasmen Bag. Pro peningkatanwawasan keagamaan Guru, Jakarta.

Rustono, 2003,. Kaidah Penulisan Artikel makalah (Makcilah.) . Dinas P dan K Propinsi Jawa Tengah

Tim Teknis Kanwil Propinsi Jawa Tengah, 1999. Petunjuk Mekanisme Dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Departemen P dan K Cantor  Wilayah Prop. Jawa Tengah.

Undang-undang No.20 TH 2003 tentang SISDIKNAS, 2003, PT Sinar Grafika.

Vygotsky, L. S. 1978. Mind in society: the development of higher

psychological proceses. Cambridge, MA: Harvard Univ. Press.

Winataputra, Udin S dan Tita Rosita. 1996. Belajar dan Pembelajaran I Modul 6.Jakarta: Karmila UT.

Winkel,WS. 1985. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta:Gramedia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kumpulan Skripsi Pendidikan Fisika terbaru

  1. EFEKTIFITAS METODE EKSPERIMEN THD PRESTASI BELAJAR
  2. FISIKA POKOK BAHASAN GERAK SISWA KLAS I SMT I SLTP N I CIKAMPEK TA 2002/2003.
  3. BERBEDAAN PRESTASI BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN GERAK ANTARA PENDEKATAN KETRAMPILAN PROSES DAN PENDEKATAN KONSEP SISWA KLAS I CAWU 2 SLTP N 2 KOTA CIREBON TA 01/02
  4. PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR FISIKA ANTARA PEMBELAJARAN DG METODE EKSPOSITORI DAN METODE RESITASI POKOK BAHASAN BUNYI SISWA KLAS I SMT 2 SMU PIRI YK TA 02/03
  5. PENGARUH METODE EKSPERIMEN THD PRESTASI BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN CAHAYA SISWA KLAS II SLTP N 2 SUKOLILO KAB. PATII TA 00/01
  6. PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR FISIKA KELAS II SMT I SLTP N 2 CIKAMPEK TA 02/03 POKOK BAHASAN GELOMBANGYG DIAJAR DG METODE DISKUSI DAN METODE SIMULASI
  7. PENGARUH METODE EKSPERIMEN THD PRESTASI BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN CAHAYA SISWA KELAS II CAWU 2 SLTP N 2 ASTANAJAPURA KAB. CIREBON TA 01/02
  8. ANALISIS MISKONSEPSI POKOK BAHASAN LISTRIK DINAMIS DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR FISIKA DAN PERHATIAN ORANG TUA SISWA KELAS 3 SMT I SLTP N 1 JATISARI KAB. KARAWANG TA 02/03
  9. PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PERAGA THD PRESTASI BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN PENGUKURAN SISWA KELAS I SMT I SLTP N 2 CIKAMPEK TA 02/03
  10. PERBEDAAN ANTARA PENDEKATAN PROSES DG PENDEKATAN KONSEP THD HASIL PEMBELAJARAN FISIKA POKOK BAHASAN CAHAYA SISWA KELAS II CAWU 2 SLTP N 2 PALIMANAN KAB. CIREBON TA 02/02
  11. HUBUNGAN ANTARA NILAI UAS IPA SD, KEMAMPUAN BERHITUNG DAN PERHATIAN ORANG TUA DG PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KELAS I SLTP N SE-KEC. LEMAH ABANG KAB. KARAWANG TA 02/03
  12. STUDI KORELASI ANTARA NEM IPA SD, MOTIVASI BELAJAR DAN PERHATIAN ORANG TUA DG PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KELAS I CAWU 2 MTS ISLAMIC CENTRE CIREBON KEC. CIREBON BARAT TA 01/02
  13. PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR FISIKA ANTARA METODE CERAMAH, METODE PENUGASAN DAN METODE EKSPERIMEN KONSEP KEMAGNETAN SISWA KELAS II CAWU 2 SLTP N 6 CIREBON TA 01/02
  14. PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PERAGA THD PRESTASI BELAJAR FISIKA DLM BAHAN KAJIAN ELEKTROMAGNETIK SISWA KLAS III CAWU 2 SLTP N I LOANO KAB. PURWOREJO TA 00/01
  15. PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR FISIKA ANTARA METODE DEMONSTRASI DAN CERAMAH POKOK BAHASAN KALOR SISWA KLAS 2 SMT I SLTP N 3 TELUKJAMBE KAB. KARAWANG TA 02/03
  16. HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN MATEMATIS, MINAT BELAJAR FISIKA, KEBIASAAN BELAJAR FISIKA DG PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KLAS I CAWU 2 SLTP N 6 CIREBON TA 01/02
  17. PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR FISIKA KONSEP CAHAYA ANTARA METODE EKSPERIMEN DAN METODE DEMONSTRASI SISWA KLAS II CAWU 2 SLTP N 3 ASTANAJAPURA KAB. CIREBON TA 01/02
  18. PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR FISIKA KONSEP ARUS DAN TEGANGAN LISTRIK BOLAK BALIK ANTARA YG DIAJAR DG METODE EKSPERIMEN, METODE DEMONSTRASI DAN METODE CERAMAH PADA SISWA TINGKAT II SMT IV SMK N I KOTA CIREBON TA. PROGRAM DIKLAT 01/02
  19. PENGARUH PENDEKATAN KETRAMPILAN PROSES THD PRESTASI BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN KALOPR SISWA KLAS II SMT I SLTP N 1 JATISARI KAB. KARAWANG TA 02/03
  20. HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MENONTON TV, TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DAN KEMAMPUAN BERHITUNG DG PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KLAS II SMT 4 SMU GAMA YK TA 02/03
  21. HUBUNGAN TINGKAT PERHATIAN ORANG TUA DAN STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DG PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KLAS II CAWU 3 SLTP N 14 YK TA 00/01
  22. HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN BERFIKIR MATEMATIS, PERHATIAN ORANG TUA DAN MINAT BELAJAR FISIKA DG PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KLAS I CAWU III TAMAN MADYA JETIS YK TA 01/02
  23. HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN BELAJAR , FASILITAS BELAJAR DAN PERHATIAN ORANG TUA DG PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KLAS 2 SMT IV SMU N SE-KEC. NGEMPLAK SLEMAN TA 02/03
  24. PENGARUH PEMBERIAN TUGAS THD PRESTASI BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN PENGUKURAN SISWA KLAS I SMT I SLTP N I JATISARI KAB. KARAWANG TA 02/03
  25. PENGARUH PENGGUNAAN LKS THD PRESTASI BELAJAR  FISIKA KONSEP USAHA SISWA KLAS I SMT 2 SLTP N 2 BERBAH TA 02/03
  26. EFEKTIFITAS PENGGUNAAN LEMBAR KERJA SISWA THD PRESTASI BELAJAR FISIKA KONSEP CAHAYA SISWA KLAS II CAWU 2 SLTP N 2 KOTA CIREBON TA 01/02
  27. HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR FISIKA DAN KEMAMPUAN BERHITUNG DG PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KLAS II CAWU 3 SLTP BOBKRI 2 YK TA 00/01
  28. HUBUNGAN ANTARA UAS SD MATA PELAJARAN IPA DAN KEBIASAAN BELAJAR FISIKA DG PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KLAS I SMT I SLTP N 2 JATISARI KAB. KARAWANG TA 02/03
  29. HUBUNGAN ANTRA PERHATIAN ORANG TUA MINAT BELAJAR FISIKA SISWA KLAS III SMT VI SLTP N SE-KEC. TRUCUK KAB. KLATEN TA 02/03
  30. PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN GAYA DAN TEKANAN ANTARA SISWA YG DIAJAR DG METODE EKSPERIMEN DAN METODE DISKUSI SISWA KLAS I SLTP N 1 JERUK LEGI CILACAP TA 00/01
  31. HUBUNGAN ANTRA KREATIVITAS DAN KETRAMPILAN LABORATORIUM FISIKA DG PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KLAS I CAWU 3 SLTP N 2 TURI SLEMAN TA 00/01
  32. PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR FISIKA ANTARA YG DIBERI PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN METODE EKSPOSITORI POKOK BAHASAN GERAK SISWA KLAS I CAWU 2 SLTP N 3 KOTA CIREBON TA 01/02
  33. UPAYA MENINGKATKAN MINAT SISWA THD PELAJARAN FISIKA MELALUIAUTHENTIC ASSESSMENT PADA PROSES PEMBELAJARAN FISIKA POKOK BAHASAN KALOR DI SLTP N 5  DEPOK SLEMAN TA 03/04
  34. VISUALISASI DIFRAKSI FRESNEL DAN FRAUNHOFER DG MATLAB SBG MEDIA PENGAJARAN FISIKA
  35. PENINGKATAN PEMAHAMAN PADA KONSEP GAYA GESEK DAN GAYA GRAVITASI DG METODE PRESENTASI PADA SMA N I SAMPANG CILACAP

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.