Archive for pendidikan

PEDOMAN PELAKSANAAN PERINGATAN HARI GURU NASIONAL TAHUN 2O1O DAN HUT PGRI KE 65

A. PENDAHULUAN

Pembangunan nasional dalam bidang pendidikan merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia lndonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembangunan nasional dalam bidang pendidikan diarahkan untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Untuk itu perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru secara terencana, terarah, dan berkesinambungan, mengingat guru mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan dimaksud.

Peranan guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sungguh besar dan sangat menentukan. Guru merupakan salah satu faktor yang strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang meletakkan dasar serta turut mempersiapkan pengembangan potensi peserta didik untuk masa depan bangsa. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sejak masa penjajahan, guru selalu menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa dan menanamkan semangat nasionalisme kepada peserta didik dan masyarakat. Pada tahap awal kebangkitan nasional, para guru aktif dalam organisasi pemuda pembela tanah air dan pembina jiwa serta semangat para pemuda pelajar.

Dedikasi, tekad dan semangat persatuan dan kesatuan para guru yang dimiliki secara historis tersebut perlu terus dipupuk, dipelihara dan dikembangkan sejalan dengan tekad dan semangat era global untuk masa depan bangsa.

Seperti halnya pemerintahan dan masyarakat di banyak negara, pemerintah dan masyarakat memposisikan profesi guru sangat terhormat baik secara formal maupun sosial. Guru sebagai profesi telah dicanangkan oleh Presiden Rl tanggal 02 Desember 2004. Pencanangan tersebut merupakan pengakuan formal atas profesi guru sebagai profesi yang bermartabat. Hal ini diharapkan menjadi tonggak awal bangkitnya apresiasi tinggi pemerintah dan masyarakat terhadap profesi guru, ditandai dengan adanya reformasi pengembangan profesi guru meliputi peningkatan kualifikasi dan kompetensi, sertifikasi, pemberian penghargaan, perbaikan kesejahteraan, dan perlindungan hukum.

Kemajuan suatu bangsa tergantung dari besarnya perhatian dan upaya bangsa yang bersangkutan dalam mendidik generasi muda. Jika anak bangsa memperoleh kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan bakat dan kecakapannya, mendalami pengetahuan, serta mengembangkan disiplin, watak, kepribadian dan keluhuran budinya, maka bisa dikatakan bangsa tersebut akan memiliki masa depan yang cerah. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk meningkatkan profesionalitas guru, harkat dan martabat bagi bangsa yang sedang membangun mutlak diperlukan.

Sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, yang kemudian lebih dimantapkan melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Sejak tahun 1994 secara nasional telah dilaksanakan 16 (enam belas) kali peringatan Hari Guru Nasional, yaitu :

  1. Tahun 1994, pertama kali dilaksanakan di lstana Negara Jakarta;
  2. Tahun 1995, diadakan di Surakarta, kota kelahiran PGRI enam puluh lima tahun yang lalu;
  3. Tahun 1996, di lstora Senayan Jakarta;
  4. Tahun 1997, di Balai Sidang Jakarta;
  5. Tahun 1998, di lstana Negara Jakarta;
  6. Tahun 1999, di lstana Wakil Presiden Jakarta;
  7. ‘Tahun 2000, di lstana Negara Jakarta;
  8. Tahun 2001, di lstana Negara Jakarta;
  9. Tahun 2002, di lstana Negara Jakarta;
  10. Tahun 2003, di lstana Negara Jakarta;
  11. Tahun 2004, di lstora Senayan, Jakarta;
  12. Tahun 2005, di Surakarta;
  13. Tahun 2006, tidak dilaksanakan di tingkat nasional;
  14. Tahun 2007, di Pekanbaru;
  15. Tahun 2008, di Jakarta;
  16. Tahun 2009, di Jakarta.

Penyelenggaraan peringatan menjadi tanggung jawab antara pemerintah, pemerintah daerah dan PGRI bersama masyarakat. Kepanitiaan dibentuk bersama antara unsur pemerintah, pemerintah daerah dan PGRI, baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah.

B. TUJUAN

  1. Meningkatkan berkembangnya budaya mutu di kalangan guru dan pemangku kepentingan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa lndonesia.
  2. Meneladani semangat dan dedikasi guru sebagai pendidik semua anak bangsa, dalam peningkatan sumber daya manusia yang bermutu.
  3. Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya kedudukan dan peran strategis guru dalam membangun karakter bangsa Indonesia yang bermartabat.

C. LANDASAN

  1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 4301:
  2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 4437);
  3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 4586);
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2008 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 4941);
  5. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentanq Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara.
  6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84lP Tahun 2010 mengenai Pembentukan Kabinet lndonesia Bersatu ll.

D. TEMA

Memacu Peran Strategis Guru dalam Mewujudkan Guru yang Profesional, Bermartabat, dan Sejahtera.

Sub Tema:

Meningkatkan Profesionalisme, Kesejahteraan, dan Perlindungan Guru melalui Organisasi Profesi Guru yang Kuat dan Bermartabat.

E. WAKTU DAN TEMPAT

  1. Upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional 2010 dan HUT PGRI ke 65 untuk tingkat nasional dilaksanakan pada tanggal 25 November 2010 dan upacara puncak yang akan dihadiri oleh Presiden Rl direncanakan pada tanggal 25 November 2010 di Jakarta (di PRJ).
  2. Upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional 2010 dan HUT PGRI ke 65 untuk tingkat provinsi/kabupaten/kota dan sekolah diselenggarakan pada tanggal 25 November 2010 atau pada waktu lainnya disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.

F. RUANG LINGKUP

  1. Acara kegiatan dan upacara peringatan Hari Guru Nasional tahun 2010 bersamaan dan terkait dengan peringatan HUT ke 65 PGRI tahun 2010.
  2. Peringatan Hari Guru Nasional ini diperingati dan dirayakan oleh semua warga pendidikan dan masyarakat umum di seluruh Indonesia.

G. KEPANITIAAN

  1. Kepanitiaan di tingkat nasional dibentuk dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional yang personalianya terdiri dari unsur Kementerian Pendidikan Nasional, . Kementerian Agama, Pengurus . Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB-PGRI), dan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, dan Pengurus PGRI Provinsi DKI Jakarta.
  2. Kepanitiaan di provinsi ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur yang personalianya terdiri dari unsur Pemerintah Daerah/Dinas Pendidikan/Kantor Wilayah Kementerian Agama, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan Pengurus PGRI Provinsi setempat.
  3. Kepanitiaan di Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati/Walikota yang personalianya terdiri dari unsur Pemerintah daerah/Dinas Pendidikan/Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, dan Pengurus PGRI Kabupaten/Kota setempat.
  4. Kepanitiaan di Kecamatan ditetapkan dengan Surat Keputusan Camat yang personalianya terdiri dari unsur Pemerintah daerah/Dinas Pendidikan/Kantor Kementerian Agama Kecamatan, dan Pengurus PGRI Kecamatan setempat.
  5. Gubernur, Bupati/Walikota dan Camat sesuai tingkatannya adalah sebagai Pembina dalam kepanitiaan.

H. PEMBIAYAAN

Pembiayaan pelaksanaan peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2010 dan HUT PGRI ke 65 di daerah ditanggung bersama atas azas kebersamaan dan kekeluargaan antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota/kecamatan dan masyarakat, serta PGRI

I. PROGRAM KEGIATAN

1. Acara pokok Kegiatan Tingkat Nasional

  • Upacara Bendera peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2010 di halaman Kantor Pusat Kementerian Pendidikan Nasional dilaksanakan tanggal 25 November 2010 (pedoman pelaksanaan upacara bendera terlampir).
  • Acara puncak/Upacara peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2010 dan HUT PGRI ke 65 yang akan dihadiri oleh Presiden Republik lndonesia.
  • Seminar Nasional Peningkatan Profesionalisme Guru.
  • Pemberian penghargaan Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan kepada guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah berprestasi dan berdedikasi luar biasa.
  • Pemberian Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan di bidang pendidikan kepada Gubernur, dan Bupati/Walikota yang mempunyai komitmen tinggi dalam pembangunan pendidikan, khususnya dalam peningkatan profesionalitas dan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan, oleh Presiden Republik Indonesia
  • Penghargaan Anugerah Konstitusi bagi Guru PKn Tingkat Nasional, bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi.
  • Temu wicara Pendidikan Kesadaran Berkonstitusi bagi guruguru PKn seluruh Indonesia, bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi.
  • sambutan Peringatan Hari Guru Nasional rahun 2010 oleh Menteri Pendidikan Nasional di RRI/TVRI, dan atau TV rainnya.
  • Talkshow Hari Guru Nasional.
  • Ziarah ke Taman Makam Pahlawan.
  • Gerak jalan sehat.
  • Jumpa pers dan serangkaian aktivitas/program/pemberitaan terkait dengan guru, baik di media cetak atau media etektronik.

2. Acara Pokok Kegiatan Tingkat Daerah

  • Upacara Peringatan H:rri Guru Nasional rahun 2010 di Kantor Pemerintah Daerah dilaksanakan tanggal 25 November 2010 atau disesuaikan dengan kondisi daerah setempat, dengan acara pokok sebagaimana dalam pedoman pelaksanaan upacara bendera terlampir.
  • Upacara di sekolah dilaksanakan pada tanggar 25 November 2010 dengan acara pokok sebagaimana datam pedoman pelaksanaan upacara bendera terlampir.

3. Penyelenggaraan Seminar llmiah Guru, dan sebagainya.

4. Talkshow di Radio/TV daerah

5. Ziarah ke Taman Makam Pahlawan.

6. Kegiatan lain yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan daerah masing-masing.

==========

Sumber: http://www.pgri.or.id

SUMBER :http://smpn2bantarujeg.blogspot.com/2010/11/pedoman-pelaksanaan-peringatan-hari.html

 

Hari Guru

Hari Guru adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, dan diperingati pada tanggal yang berbeda-beda bergantung pada negaranya. Di beberapa negara, hari guru merupakan hari libur sekolah.

Hari guru di berbagai negara

Amerika

Hari peringatan wafatnya Domingo Faustino Sarmiento, seorang pendidik dan politisi Argentina.
  • Brazil: 15 Oktober (sejak 1963)
Pertama kali dirayakan tahun 1947 di São Paulo oleh sejumlah guru dari sebuah sekolah kecil. Tanggal 15 Oktober disepakati sebagai hari guru karena pada tanggal tersebut, Dom Pedro I menyetujui dekrit penataan kembali sekolah dasar di Brazil.
Pada tahun 1974, tanggal 10 Desember disepakati sebagai hari guru karena penyair Chili Gabriela Mistral menerima Penghargaan Nobel pada 10 Desember 1945. Sejak tahun 1977, hari guru diubah menjadi tanggal 16 Oktober untuk memperingati berdirinya Institut Guru Chili (Colegio de Profesores de Chile).[1]
  • Meksiko: 15 Mei (sejak 1918)
  • Peru: 6 Juli (sejak 1953)
Pejuang kemerdekaan José de San Martín mendirikan sekolah umum untuk laki-laki setelah José Bernardo de Tagle meloloskan resolusi pendidikan pada 6 Juli 1822.[2]
ASIA
  • : 5 Oktober
Peringatan hari guru (bahasa Tagalog: Araw ng mga Guro) ditetapkan tanggal 5 Oktober berdasarkan Perintah Presiden No. 479.[3] Walaupun demikian, hari guru biasanya dirayakan di sekolah-sekolah dasar dan sekolah menengah sekitar bulan September dan Oktober.
  • Hong Kong: 10 September (hingga 1997: 28 September)
  • India: 5 September
Hari ulang tahun Presiden India Dr. Sarvapalli Radhakrishnan yang juga seorang guru ditetapkan sebagai hari guru. Di sekolah-sekolah diadakan perayaan, dan murid yang paling senior memainkan peran sebagai guru.
Hari Guru Nasional diperingati bersama hari ulang tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Hari Guru Nasional bukan hari libur resmi, dan dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah dan pemberian tanda jasa bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.[4]
Peringatan wafatnya Morteza Motahari sebagai martir pada 2 Mei [[1979].
Hari guru dirayakan sejak tahun 1963 di Seoul, dan sejak tahun 1964 di kota Chuncheon. Perayaan ini dimulai oleh sekelompok anggota palang merah remaja yang mengunjungi guru-guru yang sedang sakit di rumah sakit. Perayaan hari guru secara nasional tidak dilangsungkan dari tahun 1973 hingga 1982, dan baru dilanjutkan kembali sejak 1983. Guru menerima hadiah bunga anyelir.
Tanggal 16 Mei ditetapkan sebagai Hari Guru di Malaysia, karena pada 16 Mei1956, Majelis Undang-Undang Persekutuan Tanah Melayu menerima rancangan kurikulum dari Laporan Jawatankuasa Pelajaran.
Murid-murid biasanya memberikan hadiah balas jasa kepada guru, seperti kartu ucapan dan bunga.
  • Singapura: 1 September (hari libur sekolah)
Perayaan dilakukan sehari sebelumnya, dan murid-murid dipulangkan lebih awal.
Hari libur sekolah untuk mengunjungi guru dan mantan guru di rumah masing-masing.
EROPA
Sejak tahun 1994, hari guru dirayakan tanggal 5 Oktober bertepatan dengan Hari Guru Sedunia. Dari tahun 1965 hingga 1993, hari guru dirayakan pada minggu pertama di bulan Oktober.

SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Guru

NGELMU IKU OLEHE KANTHI LAKU TAFSIR LOKAL ATAS MORALITAS PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT ISLAM TRADISIONALIS

NGELMU IKU OLEHE KANTHI LAKU

TAFSIR LOKAL ATAS MORALITAS  PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT  ISLAM TRADISIONALIS

 

A. Pendahuluan.

Dalam masyarakat Islam tradisionalis menuntut ilmu adalah sebuah pengabdian kepada Tuhan, segala yang terkait dengan proses mencari ilmu selalu diarahkan kepada tujuan tersebut. Seorang guru yang kemudian lebih dikenal dalam komunitas ini sebagai kiai, sangat dimuliakan, seorang kiai adalah pengemban amanat untuk menyebar luaskan ilmu-ilmu Allah kepada masyarakat banyak. Kiai mempunyai kedudukan tinggi secara sosial karena integritas moral dan karisma yang dimilikinya, selain adanya keyakinan publik bahwa mereka mempunyai kedekatan khusus dengan Tuhan.

Seorang pencari ilmu juga memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat Islam tradisionalis, seorang pemuda yang berani untuk melanjutkan belajar ke pesantren-pesantren yang besar dan masyhur dan biasanya berada jauh dari tempat tinggalnya dipandang sebagai seorang yang istimewa oleh masyarakat sekitarnya. Kemampuannya untuk berlaku prihatin, jauh dari rumah menahan kerinduan, melakukan tirakat dan mempelajari ilmu agama mendapat apresiasi tinggi dari masyarakatnya, mereka berharap pemuda itu akan menjadi seorang alim yang dapat mengajarkan berbagai kitab dan memimpin masyarakat dalam kegiatan keagamaan.[1]

Penghargaan terhadap orang yang mencari ilmu (santri) tidak hanya berupa dukungan moral melainkan juga finansial, terdapat beberapa kasus pendanaan bagi seorang santri yang melanjutkan pendidikannya di pesantren masyhur dibiayai oleh masyarakat kampungnya secara gotong royong atau mencari mertua yang kaya untuk membiayai pendidikannya dipesantren. Seorang santri yang akan pergi belajar di sebuah pesantren yang jauh, sebelum berangkat biasanya diadakan semacam upacara penghormatan yang meriah, upacara ini biasanya dihadiri oleh hampir seluruh penduduk kampung.[2]

Sisi menarik dari model hubungan antara kiai dengan santri adalah perasaan hormat  dan kepatuhan mutlak dari seorang murid kepada gurunya, perasaan hormat dan kepatuhan  mutlak ini tidak boleh terputus, berlaku seumur hidup seorang murid.  Perasaan hormat dan kepatuhan mutlak harus ditunjukkan oleh murid dalam seluruh aspek kehidupannya, melupakan ikatan dengan guru merupakan kejelekan dan akan menghilangkan barakah guru dan pada akhirnya ilmu yang dimiliki oleh seorang murid tidak bermanfaat. Hal tersebut dilakukan bukan sebagai manifestasi dari penyerahan total kepada guru yang dianggap memiliki otoritas, tetapi karena keyakinan murid kepada kedudukan guru sebagai penyalur kemurahan Tuhan yang dilimpahkan kepada murid-muridnya, baik di dunia maupun di akherat.[3]

Pola-pola hubungan yang unik antara kiai dan santri tersebut menurut Zamakhsari Dhofier sangat dipengaruhi oleh literatur pendidikan yang dipakai sebagai acuan di pesantren salah satunya adalah kitab Ta’lim Al Muta’alim,[4] berangkat dari fenomena-fenomena unik tersebut maka tulisan ini bermaksud mengungkapkan tafsir-tafsir lokal atas literatur pendidikan Islam klasik yang digunakan dalam lingkungan Islam tradisionalis, serta perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari.

B. Perjumpaan Islam dengan Budaya Jawa

Islam sebagaimana agama-agama yang lain ketika memasuki sebuah wilayah baru maka dia mengemban misi dakwah yaitu melakukan gerakan konversi, pada awalnya di Jawa konversi ke dalam Islam sebagian besar dilakukan lewat hubungan perdagangan antara penduduk lokal dengan pedagang-pedagang muslim di kota-kota pesisir. Interaksi perdagangan yang terjadi terus menerus telah mendorong terbentuknya komunitas baru (muslim lokal), sebagai sebuah komunitas dengan struktur sosial tersendiri, stuktur sosial yang berbasis kepada kesetaraan.[5]

Orang-orang Jawa yang telah beragama Islam ini kemudian membentuk komunitas tersendiri yang pada selanjutnya disebut dengan orang putihan atau golongan santri. Kelompok inilah yang kemudian melakukan perjalanan dakwah ke daerah-daerah pedalaman Jawa, mereka mengenalkan Islam kepada penduduk pedalaman Jawa, proses ini tidak mudah bahkan cenderung banyak resistensi yang pada akhirnya terjadi kompromi relegius.[6]

Pola-pola kompromis telah menjadi model kegiatan konversi di Jawa yang dilakukan oleh Walisongo, ajaran-ajaran Walisongo didasarkan kepada nilai-nilai sufisme, pola hidup saleh, mencontoh dan mengikuti para pendahulu yang terbaik, bersikap arif terhadap budaya dan tradisi lokal. Dalam pandangan Walisongo mendidik adalah tugas dan panggilan agama, mendidik seorang murid sama halnya dengan mendidik anak kandung sendiri. Seorang pendidik harus menyayangi, menghormati, menjaga dan menghargai tingkah laku mereka sebagaimana seorang pendidik memperlakukan anak keturunannya. Pendidik harus memberikan makanan dan pakaian kepada murid agar mereka dapat menjalankan syari’at Islam dan memegang teguh ajaran agama dengan tanpa keraguan.[7]

Dengan pola-pola yang lebih arif dan memahami khasanah pengetahuan serta budaya lokal telah menjadi pilihan tepat dalam proses konversi kedalam Islam. Proses Islamisasi yang dilakukan oleh Walisongo terhadap masyarakat Jawa pada dasarnya adalah membuat tafsir-tafsir lokal terhadap ajaran-ajaran Islam atau dengan kata lain mengenalkan ajaran Islam dengan label lokal.

Dalam masyarakat Jawa, pusat kosmos, penghubung antara dunia dengan fenomena supranatural  memainkan peran yang sangat penting. Mereka menganggap bahwa makam-makam keramat, gunung, gua-gua, hutan adalah tempat-tempat sakral dan pusat untuk memperoleh ilmu pengetahuan (ngelmu) dan inspirasi.[8] Setelah Islam menjadi agama di Jawa, fungsi-fungsi tersebut segera diislamisasikan, proses islamisasi yang dilakukan oleh Walisongo dan pengikutnya dengan jalan mengisi, mewarnai dan melakukan modifikasi terhadap fungsi-fungsi tersebut dengan nilai-nilai Islam.[9]

Kiai-kiai Jawa (kalangan Islam tradisionalis) telah menganggap bahwa model-model dakwah yang dilakukan oleh Walisongo adalah model yang tepat dalam berdakwah di masyarakat pedesaan Jawa, mereka sangat arif dan lebih santun terhadap budaya lokal, menafsirkan ajaran agama Islam dengan bahasa dan pengetahuan lokal menjadi sebuah keniscayaan, bahkan banyak diantara kiai-kiai Jawa yang telah meleburkan diri dalam pemahaman Islam lokal tersebut, sebagai contoh banyak kiai-kiai Jawa yang masih tetap memandang beberapa tempat tertentu sebagaitempat yang baik untuk memanjatkan doa, tanpa mengatakan bahwa terdapat karamah ditempat-tempat itu.[10]

Dalam persoalan tersebut terlihat bahwa kebanyakan kiai Jawa berusaha untuk menunjukkan bahwa beragama Islam tidak perlu menjadi Arab, orang Jawa dapat menjadi muslim sejati tanpa harus kehilangan identitas diri sebagai orang Jawa. Pandangan semacam ini, yang merupakan pandangan banyak kiai, tentunya kemudian menjadi arus besar pandangan masyarakat Islam tradisionalis, selalu berusaha untuk menafsirkan ajaran-ajaran melalui label-label lokal.

 

C. Kitab Kuning dan Kepatuhan Santri

Bruinessen menyebutkan bahwa tradisi pengajaran agama Islam di pesantren-pesantren Jawa dengan menggunakan literatur-literatur klasik yang kemudian dikenal dengan kitab kuning merupakan sebuah tradisi agung. [11] Salah satu alasan yang menjadi acuan munculnya pesantren adalah melakukan transmisi ajaran-ajaran Islam ortodok (Islam tradisional) yang terdapat dalam kitab-kitab kuning .

Terkait dengan pemikiran pendidikan, kitab kuning yang sering menjadi rujukan kalangan pesantren dan masyarakat Islam tradisionalis adalah Kitab Ta’limu al-Muta’alim karya Burhan ad-Din az-Zarnuji dan Adabu al-Alim wa al-Muta’alim karya KH. Hasyim Asy’ari.  Kedua karya tersebut berisikan tentang moralitas bagi guru dan murid dalam pergumulan dengan ilmu pengetahuan, dan kedua karya tersebut sangat berpengaruh dalam kalangan pesantren dan masyarakat Islam tradisionalis. Kalangan kiai melakukan proses internalisasi moralitas ajaran-ajaran pendidikan tersebut kedalam dirinya dan santri-santrinya, hal ini dilakukan supaya tercipta hubungan yang ideal antara kiai dengan santri, seorang kiai harus menyayangi dan mengasihi santri sedangkan santri harus menaati dan menghormati kiai secara mutlak.

Dalam pengajaran pesantren dan masyarakat Islam tradisionalis sikap hormat, ta’zim dan kepatuhan mutlak kepada kiai merupakan salah satu nilai pertama yang ditanamkan kepada santri. Sikap-sikap semacam ini kemudian diperluas pemaknaannya sehingga mencakup kepatuhan mutlak terhadap ulama-ulama terdahulu termasuk terhadap pengarang-pengarang kitab-kitab yang dipelajari oleh santri.[12]

Dalam penghormatan dan kepatuhan mutlak terhadap guru tidak boleh terputus, bahwa hal itu berlaku seumur hidup seorang murid dan harus ditunjukkan dalam setiap aspek kehidupannya, baik dalam kehidupan keagamaan, kemasyarakatan, atau pribadi. Melupakan ikatan dengan guru merupakan aib yang besar, disamping akan menghilangkan barakah dari guru dan berakibat kepada pengetahuan yang diperoleh seorang murid tidak akan bermanfaat.[13]

Karena begitu pentingnya hubungan ideal antara murid dan guru maka kemudian disyaratkan pada saat akan berguru harus mencari sosok guru yang terbaik dalam pandangan murid, dengan cara laku riyadah melalui shalat istiharah untuk meminta petunjuk kepada Allah agar diberikan jalan keluar yang baik untuk memilih seorang guru.[14]

Seorang murid harus patuh terhadap gurunya, tidak boleh keluar dari pendapat dan aturan-aturan yang telah dibuat oleh guru. Hubungan antara guru dan murid diibaratkan seperti hubungan antara dokter dengan pasiennya, sehingga apapun yang dilakukan oleh murid harus mendapat persetujuan guru, selalu mencari riha dan keihlasan guru, segala sesuatu yang dilakukan murid untuk gurunya adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah.[15]

Seorang murid harus selalu berpandangan bahwa guru adalah sosok yang agung dan terhormat, dan berkeyakinan bahwa guru mempunyai derajat dan tinggi dan mulia.[16] Dalam persoalan ini seorang murid tidak diperbolehkan untuk melupakan jasa-jasa, kemuliaan, keagungan guru dan harus selalu mendoakan guru baik pada saat masih hidup atau telah meninggal. Murid berkewajiban untuk menjaga kerabat dan keturunan guru, selalu menjaga adat istiadat, tradisi dan kebiasaan guru baik dalam masalah agama atau dalam masalah keilmuan. Pada saat guru telah meninggal maka murid berkewajiban untuk berziarah ke makam guru, memintakan ampun atas kesalahan guru kepada Allah dan selalu bershadaqah atas nama gurunya.[17] Seorang murid juga dituntut untuk mempunyai toleransi yang luas terhadap guru, murid harus menerima dan bersabar terhadap perlakuan buruk guru, perlakuan buruk itu harus ditakwili dengan makna yang bertolak belakang dari yang tampak.[18] Namun dalam persoalan ini seorang murid  diperbolehkan meminta penjelasan tentang perlakuan buruk terhadapnya, akan tetapi kebolehan ini tetap dalam kerangka untuk mencari kekurangan murid sehingga guru berlaku demikian. Dapat diperkirakan perlakuan buruk guru merupakan teguran terhadap kekurangan dan untuk memberi petunjuk kepada murid.[19]

Penghargaan yang tinggi terhadap kiai dan ulama tidak lepas dari kedudukan tinggi yang diberikan oleh Islam kepada mereka,

 


[1] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta: LP3ES, 1994), hal. 52.

[2] Ibid., hal. 53.

[3] Ibid., hal. 82.

[4] Ibid., hal. 82-83.

[5] Masroer Ch. Jb., The History of Java Sejarah Perjumpaan Agama-Agama di Jawa, (Yogyakarta: AR-RUZZ, 2004), hal. 29.

[6] Ibid., hal. 31.

[7] Drewes, dalam Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren Perhelatan Agama dan Tradisi, (Yogyakarta: LkiS, 2004), hal. 60.

[8] Martin van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, (Bandung: Mizan, 1995), hal. 42.

[9] Abdurrahman, Op. cit., hal. 99.

[10] Lihat dalam Ibid.

[11] Martin, Op. cit., hal. 17.

[12] Ibid., hal. 18.

[13] Zamakhsyari, Op. cit., hal. 82.

[14] Hasyim Asy’ari, Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim, (Yogyakarta: QIRTAS, 2003). Hal. 35. dalam masalah ini kitab Ta’limu al-Muta’alim juga menyebutkan bahwa seorang murid dalam memilih guru harus menimbang-nimbang selama dua bulan, agar dapat mengetahui tentang guru tersebut, hal itu diperlukan untuk mendapatkan keyakinan bahwa guru tersebut adalah seorang betul-betul alim, arif dan wira’I (terjaga dari perbuatan-perbuatan tercela. Seorang calon murid juga disarankan untuk bertanya kepada masyarakat yang pernah belajar kepada guru tersebut, lihat Az-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim, (Kudus: Menara Kudus, 1963), hal. 45-47.

[15] Hasyim, Ibid., hal. 37.

[16] Ibid.

[17] Ibid. hal. 38.

[18] Ibid.

[19] Ibid., hal. 39.

sumber :

 

KONSEP PENDIDIKAN DALAM  KITAB “TA’LIM MUTA’ALIM” DAN RELEVANSINYA  DENGAN DUNIA PENDIDIKAN DEWASA INI

Oleh: KH. M. Kholil Bisri

Tamhid

“Ta’limul Muta’alim” adalah kitab kecil –biasanya saya khatamkan dalam enam atau tujuh hari saja di bulan Romadlon, dengan tempo baca sekitar satu jam setiap hari– hasil rangkuman Syaikh Az-Zarnuji, yang belum mengenal tradisi pesantren, tentu melontar kritik tajam terhadapnya. Dianggapnya kitab yang penuh kontroversi, berisi teror sadis kepada pencari ilmu, tidak masuk akal pembangkit kultus dan sebagainya, bukan lainnya “Ta’limul Muta’alim” itu tapi kitab itu masih saja terus dibaca di pesantren salaf manapun.

Sebelum saja beranjak menguak sedikit isi, seluk beluk dan relevansi kitab TMT, saya ingin menguak dahulu sebuah rahasia yang biasanya hanya disimpan saja di hati para kiyai. Yang rahasia itu hakikatnya adalah inti sari dari kitab TMT tersebut. Begini:

Keberhasilan seseorang mendapat anugerah ilmu nafi’’ dan muntafa’ bih adalah karena melibatkan tiga faktor yang sangat dominan, yaitu: Pertama, Fadhol dari Allah, karena memang diajar oleh-Nya (alladzi ‘allama bil qolam. ‘Allamal insaana maa lam ya’lam). Untuk memperoleh fadhol ini, orang harus berdo’a atau dido’akan. Do’a itu harus sungguh-sungguh dan disertai kesungguhan. Tidak boleh dipanjatkan dengan seenaknya dan mengesankan tidak begitu membutuhkan wushulnya do’a, dengan cara misalnya, disamping berdo’a orang juga berbuat maksiat, sama sekali tidak berusaha menghindar dari keharaman yang dilarang. Fa anna yustajaabuu lah. Kedua, Belajar sungguh-sungguh, rajin mengaji dan mengkaji, tekun mengulang dan muthola’ah. Sebuah maqolah yang sering disebut hadits menegaskan “Man tholaba syaian wajadda wajada wa man qoroal baba wa lajja walaja”. Siapa saja yang mencari sesuatu dan sungguh-sungguh, dia akan mendapatkannya. Dan barang siapa mengetuk pintu dan dia mengamping, maka dia masuk ke dalam (rumah). Secara implisit firman Allah yang biasanya untuk mendalili orang muslim yang tidak perlu ragu terjun dalam perjuangan: “Walladzina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa”, mengisyaratkan hal yang demikian itu. Ketiga, Menyadong pertularan (atau apa namanya) dari guru kalau mengacu sebuah pameo “atthob’u saroq” tabiat, watak, karakter itu mencuri, maka kedekatan seseorang dengan orang lain mengakibatkan penularan yang niscaya mengacu sunnah Allah, dia yang lemah akan tertulari yang lebih kuat. Murid akan tertulari dari sang guru.

Pada kenyataannya, seberapa besar nafi’ dan muntafa’ bihnya ilmu yang diperoleh oleh tholib tergantung pada seberapa besar kadar ketiga faktor itu diupayakan, diayahi dan menghasilkan. Ada satu faktor lagi yang oleh TMT diisyaratkan pula sebagai salah satu sebab seseorang berhasil mendapatkan ilmu dan yang belakangan ini dilakukan oleh orang tua tholib. Bagi orang tua tholib yang menyikapi secara santun kepada ahli ilmi, kepada siapa tholib “ngangsu ilmu”, anaknya atau cucunya niscaya akan menjadi orang alim. Memang tidak ada dalil yang mengukuhkan analisis tersebut. Namun secara empiris bapak saya (almaghfurlah KH. Bisri Musthofa) merasakan itu. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu Allah yang memperolehnya dianjurkan (untuk tidak mengatakan diharuskan) melalui sanad (sandaran) yang jelas. Baik sya fawiyyan maupun ijaziyyan. Supaya manfa’at ilmu itu secara ritualistik mendapatkan legalisasinya. Karena manfa’at adalah asas yang mendasari kesungguhan tholibil ‘ilmi.

Tholabu ilmillah, mencari ilmu Allah jelas wajib hukumnya. Mencari ilmu al-hal wajib (fardhu) ‘ain dan selebihnya wajib (fardhu) kifayah. Dengan demikian mencari ilmu, tholabul ilmi adalah amal ibadah. Dari pendirian keibadahan tholabil ilmi inilah saya mendekati kitab “Ta’limul Muta’alim”.

 

Sistimatika Ta’limul Muta’alim

Kitab kecil yang terdiri dari tiga belas fasal itu, separonya bersifat umum, membicarakan bagaimana seharusnya orang sebagai makhluk hidup mengarungi kehidupan.

Seperti lazimnya kitab kecil yang berbobot keilmuan, fasal awal mencoba memberi batasan terhadap apa saja yang berkaitan dengan isi kitab.

Tentang ilmu, keutaman-keutamaannya, bagian-bagiannya dan cara yang seharusnya untu menghasilkan ilmu itu. Karena mencari ilmu itu ibadah, niat tholabul ilmi yang faridhotun itu tidak boleh ditinggalkan. Tentu saja yang dilakukan tholib agar mendapatkan pahala disamping dimaksudkan pula untuk memicu dan memacu semangat pencarian, menangkal pembiasaan, menjaga koinsistensi, menuntun keberhasilan dan tujuan ritualistik yang lain. Dari sinilah seharusnya kandungan kitab TMT didekati sehingga tuduhan kurang menyenangkan atas TMT dihindari. Melakukan niat tholabil ilmi ini diurai pada fasal dua, anniyah fi haalit ta’allumi.

Pada fasal ketiga dikemukakan perlunya selektif dalam memilih ilmu, guru dan teman bermusyawarah sebelum terjun kedalam kancah ta’allum. Pada fasal ini muncul keharusan menjaga terus minat ta’allum, konsistensi dan tabah dalam tekun terhadap ilmu yang dipelajari dan dialami. Karena memang ilmu yang dipelajari, guru yang mengajar,dan teman yang bersamanya mandalami ilmu itu, dipilihnya sendiri secara selektif itu tadi.

Fasal berikutnya yang membuat pakar ilmu masa kini seolah-olah kebakaran jenggot, adalah tentang kewajiban ta’dhim terhadap ilmu itu sendiri dan ahli ilmu.

Fasal keenam adalah tentang bagaimana seharusnya mencari ilmu berbuat. Dia harus sungguh-sungguh dan disiplin. Kesungguhannya itu menopang diatas cita-cita yang luhur.

Memulai (starting) terjun, memperkirakan kemampuan dan tertib belajar sesuai dengan kondisi diri dan ihwal ilmu yang diterjuni adalah bahasan fasal ketujuh.

Tawakkal, kapan seyogyanya tholibul ilmi, berusaha menghasilkan, ramah dan setia terhadap cita-cita, tidak melewatkan waktunya dan istifadah (membuat catatan-catatan baik dalam tulisan maupun benak), waro’ (menjaga makanan dan perbuatan yang dilarang untuk tidak disantap atau dilakukan), apa saja yang membuat orang mudah menghafal dan yang mudah membuat orang gampang lupa dan yang terakhir adalah tentang amalan dan bacaan yang membuat pelakunya tercurahi rizqi Allah. Itu semua adalah pasal kedelapan sampai ketigabelas.

Asas manfaat yang mendasari keibadahan tholabil ‘ilmi sebagai pendekatan. Pada awal coret-coret ini, saya mengemukakan bahwa ilmu nafi’ yang muntafa’ bih adalah anugerah dari Allah yang “allamal insaana maa lam ya’ lam”. Manfaat dan guna yang didapat oleh orang yang memperoleh keuntungan dari ilmu itu, tidak hanya didunia ini saja, namun juga akhiratnya. Karena itu untuk menghasilkan ilmu yang bermanfaat, tidak hanya menghajatkan peranan dari pencari ilmu itu sendiri. Peranan Allah dan peranan perantara guru dimana orang berhasil mandapatkan ilmu, sama sekali tidak bisa dipisahkan. Hal-hal (baca: a’mal) yang melibatkan Allah SWT. Demi perkenan-Nya, ridho-Nya, kita menyebutnya ibadah.

Ibadah sebagaimana amal-amal lain, ada permulaannya, prosesnya dan akhirnya. Masing-masing menghajatkan pada pemenuhan aturan main yang telah ditetapkan agar yang dilakukannya tidak sia-sia dan sah adanya. Apalagi amal ibadah yang bernama tholabil ilmi menempati peringkat diatas qiyamil lail dan puasa sunnah, mengapa? Ya, karena ilmu itulah yang mengantar orang terhormat dan mulia disisi Allah oleh karena ketakwaan, “Inna akromakum ‘indallohi atqaakum”. Ilmu adalah wasilah untuk takwa dan takwa adalah wasilah mulia ‘indallah. Yang mulia ‘indalloh tentu mulia ‘nda siwahu min kholqihi.

Ilmu yang menjadi washilah kepada takwa itulah yang dapat disebut sebagai ilmu nafi’ wa muntafa’ bih (ilmu yang bermanfaat).

Berangkat dari sini, kiranya tidak berlebihan manakala kita pertama-tama harus mampu menempatkan kedudukan ilmu sedemikian rupa, sehingga ghoyatun nafi’ dan intifa’ dapat dicapai oleh tholib. Dan pada tempatnya pula dia bersikap ta’dhim terhadap apa dan siapa yang diharapkannya akan memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada dirinya, dunia dan akhirat. Kendatipun dia secara filsofis terpaksa menentukan klasifikasi ta’d’him itu. Tergantung pada siapa dia harus berlaku ta’dhim.

Memang pada dasarnya sifat batin adalah sifat bathini, karenanya tidak transparan. Tampilannya bisa beberapa bentuk sesuai dangan keadaan. Keadaan mu’adhdhim dan mu’adhdhom itu sendiri, latar belakang keduanya dan seterusnya.

 

At-Ta’dhim

Tampilan ta’dhim yang beraneka bentuk itu tentu saja tidak boleh keluar dari batas —layak— wajar. Karena memang ta’dhim bagi tholib adalah kewajaran, sesuatu yang layak dilakukan terhadap yang ia merasa harus menta’dhimkannya. Dan merupakan garapan tholibul ilmi untuk mengartikulasikannya dalam ia memilih tampilan ta’dhim, dilakukannya dengan kesungguhan dan sepenuh hati. Tidak kemudian terperangkap kedalam bentuk yang sering kita dengar dengan sebutan mudahanah atau mujahalah belaka. Lamis dan menjilat, semu dan tak bermakna.

Untuk itu tholib harus pandai dan cermat menentukan pilihan ilmu apa yang paling baik yang harus dia cari. Sesuai dengan minat dan bakatnya. Bahkan ketika bergurupn dia tidak dibenarkan sembarangan dan asal-asalan. Pilihan ang ditentukan sendiri akan lebih mendorongnya kepada kesungguhan ta’dhim. Oleh TMT kesungguhan ta’dhimil ilmi dirupakan dengan tidak menjamah kitab yang berisi kandungan ilmu itu, kecuali dalam keadaan suci dari hadats. Sebelum dia muthola’ah, mengaji atau mengulang pelajaran, berwudhu lebih dahulu. Sebab ilmu itu nur dan wudhu mewujudkan nur pada diri. Tidak menaruh kitab sejajar, apalagi di bawah bokong. Dan seterusnya. Sedang ilmu yang sebaiknya dipilih oleh tholib secara klasifikasial adalah yang dia hajatkan mendesak bagi urusan agamanya, yang dibutuhkan untuk menuntun kebahagiaan masa depan (bahkan depan sekali yaitu ketika kelak harus menghadap kholiqnya) dan dihajatkan bagi mengatur hidupnya dunia akhirat.

Dalam hal tholib memilih guru, kalau ada, pilih yang mengumpulkan kealiman yang kealimannya dimasyhurkan sebagai handal (al a’lam) yang secara khuluqi, mengatur kehidupan keseharian sedemikian rupa sehingga tidak terkena imbas aib sosial, menjauhi kedurhakaan dan maksiat serta menjaga muru’ah (al-auro’) dan yang memiliki nilai lebih dalam kematangan ilmu dan amalnya serta lebih tua usianya daripada ulama (kiyai) lain (al-asann). Hal ini barangkali dimaksudkan agar tertancap pada diri tholib kemantapan berguru. Dengan demikian tanpa ragu-ragu lagi, tholib bersikap ta’dhim kental kepada gurunya itu. Oleh TMT, dicontohkan dengan tidak ngomong kalau tidak didangu tidak bergeser tempat duduk sebelum sang guru beranjak dari tempatnya, tidak terlalu dekat dan tidak pula terlalu jauh dari guru, ketika didangu tidak berulah yang menyebabkan guru terganggu. Mematuhi segala perintahnya apapun bentuknya. Dan seterusnya. Ta’dhim ini berlanjut kepada keluarga sang guru. Pendek kata tidak membuat guru tertekan (diantara tanda kutip) secara moral ta’dhim kepada guru ini, dilakukan oleh tholib untuk mendapat perkenannya. Bukankah gurupun harus memberi dengan sifat kasih dan sepenuh hati pula? Bukankah pemberin itu wasilah untuk mendapatkan dan menghantarkannya kepada “raf’ad darojat”?

Oleh TMT guru disamakan dengan dokter (thobib). Kalau dia tidak dihormati, dia tidak akan memberi yang terbaik yang sangat dibutuhkan murid atau pasien itu, meskipun dia (pura-pura) memeriksanya dan menuliskan resep. Melengkapi hujjah TMT adalah sebuah ungkapan, yaitu: “Maa washola man washola illa bilhurmati wat ta’dhim, wa maa saqotho man saqotho illa bitarkilhurmati wat ta’dhim”.

Melakukan pilihan sendiri secara cermat terhadap ilmu dan guru dimaksudkan agar tholib tidak meninggalkan ilmu dan gurunya itu, sebelum dia dinyatakan selesai dalam berguru. Sebab meninggalkan ilmu dan guru sebelum saat dinyatakan selesai adalah desersi dan itu sangat menyakitkan. Dengan demikian sulit ilmu yang sudah dia kuasai bermanfaat. Memilih rekan adalah suatu yang tidak boleh di abaikan oleh tholib. Rekan itu harus serasi, yang mau dan mampu diajak rembugan, musyawarah, berakhlak terpuji. Pendek kata dia harus serekan yang kebaikaannya bisa kamu curi. Sebab “at thob’u saroqo”, tabiat itu pasti mencuri, punya dampak dan sangat mempengaruhi perilaku dan penilaian.

 

Layaqoh Ma’hudah

Untuk menyikapi ilmu, guru dan rekan yang seperti tersebut diatas, untuk menganggap sikap ta’dhim ala TMT berlebihan atau tidak, untuk mengatakan sikap-sikap TMT relevan atau tidak kaitannya dengan sistem pendidikan dewasa ini tergantung dimana sebenarnya seseorang (sebagai tholib) menempatkan dirinya dalam kedudukan dan peranan apa, menurut anggapan tholib, guru berpengaruh pada “pembentukan diri”. Seberapa besar guru memberi manfaat pada kehidupan tholib. Sampai sejauh mana jangkauan tholib mengapa dia melengkapi diri dengan ilmu itu.

Barangkali bisa saya katakan bahwa substansi pendidikan (yang bahasa kitabnya at-tarbiyah dari “madhi” robba yang maknanya ” memberangkatkan pagi-pagi” atau “memperkembangkan sejak mula”, sejak ditanam bagi tanaman dan sejak masa pertumbuhan bagi anak manusia) adalah menggarap jiwa anak manusia menurut fitrahnya adalalah bersih-bersih bagaikan kertas putih dia bisa ditulisi, dilukis, dicoret-coret atau diapakan saja bahkan disobek-sobek. Ditarbiyah dengan demikian bisa diusulkan untuk berarti: “tughda wa tunsau kama hiya makhluqotun bihi bighoiri taghyiri wa thawili majraha, dibiarkan berangkat dan beranjak tumbuh sesuai dengan fitrahnya tanpa harus dibiasakan dari alur yang semestinya dengan menuntun dan memberi contoh yang diinginkan serta memberi warna yang seindah-indahnya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh dia yng dididik. Sehingga tertanam pada dirinya haiah rosikhoh tashduru min halil af ‘aal.

Sasaran pendidikan dengan demikian adalah jiwa. Jiwa lebih peka terhdap rasa yang

jelas tidak nyata. Kebesaran jiwa tidak nyemumuk seperti halnya kecahayaan ini tidak membinar. Namun kebesaran dan kecahayaan itu dapat dirasakan. Membentuk kebesaran dan kecahayaan itu bisa efektif bila dengan perangkat kedekatan rasa pula. Kedekatan rasa yang dijalin antara guru dan tholib dengan tali Allah dan tali rohmah ini akan menjalin keberhasilan amal tarbiyah. Tarbiyah yang diarahkan kepada ketaqwaan. Wallahu ‘alam.

Kita mengerti sepenuh bahwa: menggarap sesuatu itu tergantung kepada apa yang digarap. Sepanjang yang digarap tidak berubah, pola dan format garapan tidak perlu dirubah kefitrahan manusia. Pada dasarnya tidak pernah dirubah, karena itu relevansi konsep yang telah disepakati sebagai ideal, efektif dan menjanjikan bagi menggarap jiwa manusia, belum layak dipersoalkan. Kalaupun dalam kenyataannya terjadi perubahan profil, kemencegan tampilan dan fariasi lagak gaya akibat pengaruh makanan dan lingkungan, tinggal menyesuaikan cara penanganan saja.

 

At- Talkhis Al Mudawwan

  1. Mencari Ilmu harus dengan niat menghilangkan kebodohan untuk selanjutnya menggapai ridha Allah.
  2. 2.  Mencari dengan terjun kelubuk pendidikan, berarti mencurahkan segala yang ada pada diri untuk       mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya.
  3. Ilmu yang kelak diperoleh harus mejadi wasilah menuju kepada takwa, yang tentu akan mengangkat derajat mulia disisi Allah.
  4. Ilmu adalah cahaya, anugerah dan karunia Allah, yang untuk mencapainya antara lain lewat perantaraan guru. Kalaupun tanpa guru yaitu dengan membaca, menurut konsep Al-Qur’an harus dengan atas nama Allah.
  5. Ilmu yang membuat orang mulia dan terhormat, dan mencurahkan manfaat yang sebesar-besarnya itu, sangat pada tempatnya untuk dita’dhimkan. Adalah terjemahan dari rasa terima kasih yang besar dan penghargaan yang mendalam.
  6. Menta’dhimkan guru sebagai rasa terima kasih yang nota bene ahlul ilmi itu adalah pada tempatnya, sangaat layak dan terpuji. Dan adalah berarti menta’dhimkan ilmu itu sendiri.
  7. Menta’dhimkan harus berarti pula tidak membuat yang bersangkutan merasa tertekan dari arah manapun, langsung atau tidak langsung.
  8. Ta’dhim bukanlah ta’abbud. Namun bisa saja laku ta’dhim karena menjalankan perintah syari’. Menjalankan perintahnya berarti juga ta’abbud.
  9. Mencari ilmu dengan konsep TMT membuat tholib sadar posisi dan ikhlas.

 

At-Talkhis Al-Mu’abbar

Barangkali oleh karena Az-Zarnuji melihat kependidikan itu dengan kaca mata keteladanan, meskipun secara emphiris dapat dibuktikan, maka yang tertuang terkesan berlebihan. Andaikata saya tidak khawatir disebut sebagai su’ul adab, saya akan mengatakan bahwa TMT adalah kerangka acuan hasil temuan atau rangkuman pengalaman ahlil ilmi dan belum disusus seperti layaknya konsep.

Namun secara kualitatif memiliki bobot yang efektif sebagai pedoman untuk menciptakan dunia pendidikan yang ideal yang masih sangat mungkin diterapkan kapan saja. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk menganggap isi kitab TMT masih sangat relevan untuk diterapkan pada dunia pendidikan dewasa ini, sepanjang format belum berubah.

Tentang hubungan pendidik anak didik, guru murid, kiyai santri, pemberi manfaat penerima manfaat, dan seterusnya, adalah wajar dan memenuhi tuntunan ajaran serta tuntunan keorangan apabila terjalin tali keeratan yang terbuhul atas dasar filosofi sadar posisi bagi masing-masing. Dan itu harus dipertahankan kelanggegnannya agar pengawasan batini dapat dilakukan terus menerus.

Kelanggengan hubungan antar dua kutub tersebut hanya dapat dicapai dengan keikhlasan yang putih.

 

Takhtim

Alur yang dipilih Az-Zarnuji untuk mengalirkan gagasan beliau, saya kira sudah memenuhi aspek muthobaqoh tadhomun maupun iltizam. Dan itulah hasil pendilalahan yang benar dari lafal: at-tarbiyah.

Pada kurun masa segala aspek tata kehidupan sudah bergeser seperati sekarang ini dan menjelang berlakunya era indrustrialisasi, saya kira konsep yang ada pada kandungan TMT, sebaiknya didukung untuk disosialisasikan dan dikembangkan secara adapatatif. Dengan melibatkan para pakar disiplin ilmu tertentu dan penambahan tata nilai. Sebab dapat saja saya mengatakan: untuk membentuk generasi penerus yang terdidik lagi bertakwa kepada Allah SWT. Belum ada pedoman khususnya selain kitab TA’LIMUL MUTA’ALIM.

Rembang, Shofarul Khoir 1414 H.

Dikutip dari Makalah yang beliau sampaikan di Pondok Pesantren Al-Hamidiyyah Jakarta.

 

PERGESERAN PARADIGMA PESANTREN

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang masalah

Manusia adalah makhluk multidimensional, bukan saja karena manusia adalah subjek yang secara teologis memiliki potensi untuk mengembangkan pola kehidupannya, tetapi sekaligus menjadi objek dalam keseluruhan macam dan bentuk aktivitas dan kreatifitasnya. Dengan demikian, bentuk dan sistem aspek kehidupan senantiasa harus dikonstruksi manusia itu sendiri. Di akhir 1970-an, Ivan Illich mengejutkan masyarakat dan pemerhati pendidikan dengan gagasan kontroversial tentang deschooling society (masyarakat tanpa sekolah). Illich meramalkan bahwa jika pengetahuan dan tingkat kedewasaan masyarakat sudah berkembang dengan wajar, maka intitusi-institusi pendidikan formal tidak lagi diperlukan. Masyarakat akan mampu manjalankan fungsi pendidikan lewat elemen sosial dan budaya yang luas, tanpa harus terikat dengan otoritas kelembagaan seperti sekolah. Artinya, dalam masyarakat ini, sekolah tidak lagi dibutuhkan. Gagasan ini memang sampai saat ini belum terbukti dalam kehidupan konkrit. Akan tetapi, jika saja kita melihatnya sebagai program studi, maka betapa tepatnya Illich dalam menilai dan mendiskripsikan eksistensi lembaga pendidikan.[1]

Dalam perkembangannya, sekolah ternyata tidak menjadi media pembebasan dan penanaman nilai-nilai kemanusian. Sekolah menjadi “penjara” yang memisahkan anak didik dari dinamika persoalan masyarakatnya. Semakin lama seseorang bersekolah, semakin luas jarak antara dirinya dengan realita kehidupan yang sebenarnya. Sistem pendidikan yang tidak dialogis juga telah menyebabkan bakat dan kreatifitas anak didik tidak bisa berkembang secara baik. Sekolah bukan lagi tempat untuk belajar, melainkan tempat siswa diarahkan dan didesain menurut pola yang sudah baku. Dengan demikian, lembaga pendidikan gagal menjalankan tugasnya yang paling mendasar, yaitu membantu seseorang menjadi manusia yang cerdas, bebas dan merdeka.

Sejak tahun 1880 ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda menjalankan politik etis (etische politik), pendidikan yang menganut sistem persekolahan (schooling system), secara formal diberikan kepada anak-anak pribumi terjajah dengan arogansi bangsa penjajah, pemerintah kolonial Belanda menempatkan sistem persekolahan sebagai satu-satunya sistem pendidikan formal yang sah dan diakui oleh pemerintah. Pemerintah memberikan prioritas dan fasilitas kepada siswa-siswa lulusan sekolah formal untuk bekerja sebagai pegawai kolonial melalui pembuktian ijazah-ijazah formal yang dikeluarkan sekolah, dan terutama pemberian status ‘manusia modern’ kepada mereka yang terproses dalam pembelajaran di sekolah.

Pendidikan nasional Indonesia selama ini terlalu mengikuti paham positivisme.[2] Positivisme ini banyak mengandung aspek-aspek positif, tetapi juga terdapat kerugian-kerugian ketika kita menggunakannya. Di antara kerugiannya adalah pada kenyataan di mana paham tersebut telah membuat sekolah dan perguruan tinggi kita terpisah dari masyarakat.[3]

Sebagaimana sifat filsafat positivisme yang rasional, sekuler, materialistik, empiris, impersonal, dan bebas nilai-nilai,[4] sistem persekolahan pun mengembangkan diri dengan menguasai dan membalikkan kiblat pemikiran para siswanya dari doktrin-doktrin agama. Sebab masalah agama di dalam pandangan filosofis Auguste Comte dikategorikan sebagai pandangan manusia purba yang penuh takhayul dan primitif. Seorang manusia yang sudah mencapai tahap evolusi positif, yang disebut manusia modern harus meninggalkan pengetahuan teologis dan pengetahuan metafisis.[5] Dengan pandangan ini, pendidikan yang masih mengajarkan masalah nilai-nilai agama dianggap sebagai pendidikan bagi orang-orang berperadaban rendah alias masyarakat primitif dan terbelakang. Demikianlah, lembaga pendidikan pesantren yang merupakan lembaga pendidikan asli[6] di Indonesia dan berlatar agama, dianggap sebagai pendidikan manusia-manusia kuno yang melambangkan keterbelakangan dan primitivisme.[7]

Sistem persekolahan yang lahir dari filsafat positivisme yang dianut dalam pendidikan formal kita terbukti tidak mampu memberikan kontribusi positif kepada para peserta didik, baik dalam pendidikan tauhid, pembinaan kepribadian, budi pekerti, pengetahuan aktual yang dibutuhkan, ketrampilan kerja, dan penciptaan lapangan kerja yang dibutuhkan.

Di lain pihak, pesantren tradisional sebagai sistem pendidikan agama Islam asli Indonesia tidak beranjak dari kerangka acuan lama yang mencitrakan din sebagai lembaga pendidikan pencetak ‘ulama banyak yang kurang percaya diri dengan eksistensinya, sehingga mengembangkan sistem persekolahan yang diberi nama dan istilah-istilah bahasa Arab, yakni Madrasah (Ibtidaiyyah-Tsanawiyyah-’Aliyyah-Universitas Islam) di mana hal itu menyebabkan keberadaan pesantren-pesantren salafi semakin sedikit.

Lembaga pendidikan formal dan pesantren adalah dua lembaga yang mempunyai banyak perbedaan. Sekolah atau lembaga pendidikan formal identik dengan kemodernan, pesantren identik dengan ketradisionalan. Sekolah lebih menekankan pendekatan yang bersifat liberal, pesantren lebih pada sikap konserfatif yang bersandar dan berpusat pada figur sang kiyai.[8] Namun, persepsi dualisme-dikotomik semacam ini mungkin kurang begitu tepat, karena dalam kenyataannya, banyak pula pesantren yang telah melakukan perubahan baik secara struktural maupun kultural.

Pesantren sebagai institusi sosial tidak hanya berbentuk lembaga dengan seperangkat elemen pendukungnya, tetapi pesantren merupakan entitas budaya yang mempunyai implikasi terhadap kehidupan sosial yang melingkupinya. Sejak awal kelahirannya, pesantren berkembang dan tersebar di berbagai pedesaan. Keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan keislaman yang sangat kental dengan karakteristik Indonesia ini memiliki nilai-nilai setrategis dalam pengembangan masyarakat Indonesia, sehingga memiliki pengaruh cukup kuat pada hampir seluruh aspek kehidupan di kalangan masyarakat muslim.

Dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan nasional di Insdonesia, agaknya tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi semacam local genius. Di kalangan umat Islam di Indonesia sendiri, pesantren telah sedimikian jauh dianggap sebagai model institusi pendidikan yang mempunyai keunggulan baik pada sisi tradisi keilmuan maupun pada sisi transmisi dan internalisasi nila-nilai Islam. Dipandang dari perspektif people centered development, pesantren juga dinilai lebih dekat dan mengetahui seluk-beluk masyarakat yang berada di lapisan bawah.[9] Dari sini, perlu digarisbawahi bahwa ternyata pesantren telah dilihat sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembentukan identitas budaya bangsa Indonesia.

Secara substansial, pesantren merupakan institusi pendidikan keagamaan yang tidak mungkin lepas dari masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Karena lembaga ini tumbuh dan berkembang dari masyarakat dan untuk masyarakat dengan memosisikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat dalam pengertian transformatif. Dalam konteks ini, pendidikan pesantren pada dasarnya merupakan pendidikan yang sarat dengan nuansa transformasi sosial.

Dengan mempertimbangkan kelebihan yang dimilikinya, bukan tidak mungkin pesantren akan dilirik sebagai alternatif di tengah pengapnya suasana pendidikan formal di Indonesia, termasuk juga perguruan tinggi sebagai jenjang pendidikan formal yang paling tinggi.

Dalam pengabdian pada masyarakat yang dilakukan pesantren merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang dianut pesantren. Nilai yang selama ini berkembang dalam komunitas pesantren adalah: seluruh kehidupan ini diyakini sebagai ibadah, maksudnya kehidupan duniawi disubordinasikan dalam rangkuman nilai-nilai Illahi sebagai sumber nilai tertinggi. Dari nilai pokok ini lahir dan berkembang nilai-nilai luhur lainnya, seperti nilai keikhlasan, kesederhanaan, kesabaran, dan kemandirian.

Namun demikian, bukan berarti pesantren lepas dari kelemahan, justru dalam zaman yang ditandai dengan cepatnya perubahan di semua sektor dewasa ini. Pesantren mempunyai banyak persoalan yang membuatnya tertatih-tatih kalau tidak malah kehilangan kreatifitas dalam merespon perkembangan zaman. Yang pada suatu waktu, hegemoni Negara yang begitu kuat membuat dunia pesantren kelimpungan dalam mempertahankan keberadaannya sebagai lembaga pendidikan Islam yang berpotensi besar untuk menjadi pendidikan keagamaan alternatif. Pesantren lalu kehilangan jati dirinya sebagai lembaga yang mengedepankan kemandirian, kesederhanaan dan keikhlasan. Pesantren mulai tergerus nilai-nilai pragmatisme dan sejenisnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, institusi pesantren telah berkembang sedemikian rupa sebagai akibat dari persentuhannya dengan polesan-polesan zaman sehingga kemudian melahirkan berbagai persoalan persoalan krusial dan dilematis. Di satu sisi, peran penting pesantren adalah penerjemah dan penyebar jaran-ajaran Islam dalam masyarakat. Karena itu, pesantren berkepentingan menyeru masyarakat dengan berlandaskan pada komitmen amar ma’ruf dan nahy munkar. Di sisi lain, untuk mempertahankan jati dirinya sebagai sebuah institusi pendidikan Islam tradisional, pesantren harus melakukan seleksi ketat dalam pergaulannya dengan dunia luar atau masyarakat, yang tidak jarang malah menawarkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai yang telah digariskan pesantren. Akibatnya, terjadi semacam tarik-menarik kekuatan antara keduanya. Pemilahan pada salah satu sisi berarti akan menghilangkan keutuhan misinya, terlebih lagi bila meninggalkan kedua sisi itu secara bersama.

Barangkali karena kondisi dilematis inilah pesantren kemudian dinilai sebagai sudah tidak mampu lagi memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat untuk melakukan transformasi sosial. Bahkan, yang terjadi adalah kebalikannya: telah tercipta sebuah jurang pemisah yang lebar antara masyarakat dan pesantren. Pesantren seolah-olah telah membentuk “komunitas eksklusif” yang tidak mau lagi bersentuhan dengan masyarakat sekitarnya. Maka, tidaklah mengherankan bila pesantren yang semula dilahirkan oleh masyarakat pada akhirnya tidak mampu lagi merubah kehidupan mastarakat dengan nilai-nilai yang ditawarkannya. Tidak sebatas itu saja, yang lebih kontras lagi adalah bahwa di beberapa daerah tertentu, telah tercipta hubungan yang tidak harmonis antara pesantren dengan masyarakatnya. Mengapa kondisi demikian ini tercipta di tengah-tengah semakin derasnya arus informasi dan globalisasi yang telah menembus dinding-dinding tradisi dan ortodoksi sistem sosial suatu masyarakat? Apakah sikap eksklusif dan menutup diri telah menjadi keniscayaan bagi komunitas pesantren ketika berhadapan dengan dinamika masyarakat? Lalu, bagaimanakah posisi strategis pesantren diletakkan dalam konteks globalisasi?

Petanyaan-pertanyaan di atas sangat menggelitik untuk tidak mengatakan menggugat kemapanan pesantren yang selama ini selalu dibanggakan sebagai sebuah institusi yang dinilai “paling orisinal” milik masyarakat Indonesia dengan segala tambahan predikat baik lainnya. Jawaban-jawaban apologetic yang membela pesantren sudah tidak relevan lagi untuk tidak dikedepankan. Tulisan ini tidak akan memaparkan ihwal di atas, melainkan ihwal apakah pesantren akan dibiarkan terus melarut dalam status quo yang nyata-nyata semakin mengendapkan ubun-ubun kesadaran komunitas di dalamnya. Padahal, kondisi yang dihadapi pesantren adalah kompleksitas tantangan-tantangan kontemporer seiring dengan bertanmbahnya usia dunia ini. Hanya dengan kerja keras dan upaya cerdas dari masyarakat yang bergelut di dalamnya sajalah perubahan “nasib” pesantren dapat dihadapkan lebih cepat kehadirannya. Upaya mencari solusi tataran ini menjadi begitu mendesak dan memilki arti penting.

B. Rumusan Masalah

Dari pemaparan latar belakang masalah di atas, penulis dapat merumuskan masalahnya, yaitu sebagai berikut :
Apa saja bentuk-bentuk pergeseran Pesantren?
Apa saja penyebab pergeseran paradigma Pesantren?
Bagaimana implikasi Pergeseran Paradigma Tasawuf ke paradigma Fiqih?

PEMBAHASAN

A. Makna dan Tujuan Pendidikan Islam

Makna dan tujuan adalah dua unsur yang saling berkaitan, yang telah menarik perhatian para filosof dan pakar pendidikan sejak dahulu. Adanya perbedaan konseptualisasi dan penjelasan kedua unsur ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam memahami hakekat, peranan, dan tujuan hidup manusia di dunia, yang ternyata sangat berkaitan dengan serentetan pertanyaan mengenai hakikat ilmu pengetahuan dan realitas mutlak. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika ada perbedaan pendapat di kalangan filosof dan tokoh pendidikan selama ini.

Tujuan adalah dunia cita, yakni suasana ideal yang hendak diwujudkan.[10] Sehingga dengan mengetahui bagaimana manusia ideal dalam pandangan Islam, akan mudah memformulasikan kerangka hasil yang ideal, yang hendak diwujudan dan dicapai melalui proses pendidikan Islam. Pendidikan Islam tradisional dalam menjadikan keberhasilan individu dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sebagai cita-cita dan tujuan pendidikan yang terpenting.

Secara umum, ada dua pandangan teoritis mengenai tujuan pendidikan, masing-masing dengan tingkat keragamannya tersendiri. Pandangan teoritis yang pertama berorientasi pada kemasyarakatan, dan pandangan teoritis yang kedua lebih berorientasi pada individu,[11] yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung dan minat pelajar.

Berangkat dari asumsi bahwa manusia adalah makhluk sosial dan ilmu pengetahuan pada dasarnya dibina atas dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, mereka yang berpandangan kemasyarakatan berpendapat bahwa pendidikan bertujuan mempersiapkan manusia yang bisa berperan dan menyesuaikan diri dalam masyarakatnya masing-masing.[12] Sementara itu, pandangan teoritis yang berorientasi individu berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik agar meraih kebahagian yang optimal melalui pencapaian kehidupan bermasyarakat jauh lebih berhasil dari yang pernah dicapai oleh orang tua mereka, dan lebih menekankan peningkatan intelektual, kekayaan, dan keseimbangan peserta didik.

Sejalan dengan pandangan di atas, Al-Syaibani juga menjabarkan tujuan pendidikan Islam menjadi 2, yaitu ; pertama, tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan-perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani dan rohani serta dunia dan akhirat; kedua, tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, perubahan kehidupan dalam masyarakat, serta memperkaya pengalaman masyarakat.[13]

B. Sejarah Munculnya Pesantren

Secara sosio-historis pesantren dipandang sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang didirikan oleh para Ulama (Kyiai). Pesantren didirikan dalam rangka mendidik masyarakat untuk memahami dan melaksanakan ajaran Islam, dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman hidup. Pengertian tertua dalam hal ini, karena pesantren adalah lembaga yang telah lama hidup ratusan tahun yang lalu tepatnya abad 14 M. dan sampai saat ini masih eksis, bahkan telah menjadi bagian yang mendalam dari sistem kehidupan sebagian besar umat Islam di Indonesia dan turut mewarnai dinamika bangsa Indonesia.

Melacak akar tradisi pesantren, tidak cukup hanya melihat aspek kebahasaan, sebab pesantren dengan segala karakternya yang khas semakin memberikan gambaran batapa sulit untuk mengetahui secara pasti tentang asal-usul pesantren .

Sebelum membahas kapan pertama kali pesantren didirikan di Indonesia, terlebih dahulu perlu melacak asal-mula Islam masuk di Indonesia. Dalam hal ini para ahli sejarah saling berbeda pendapat, sebagian memperkirakan masuknya Islam ke Indonesia dimulai sejak abad ketujuh, sebagian lain memperkirakan bahwa Islam telah mulai berkembang di Indonesia sekitar abad 11, dengan salah satu bukti yang paling kuat, yaitu ditemukannya batu nisan Fathimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat tahun 475 H atau tahun 1082 M. di Leran Gersik Jawa Timur.[14]

Terlepas dari perbedaan seputar kapan masuknya Islam di Indonesia, namun terjadinya kontak yang lebih intens antara budaya Hindu-Budha dan Islam dimulai sekitar abad 13.[15] Jalur Islam semakin memperoleh bentuknya ketika para Wali Songo mulai melakukan penetrasi dan berinteraksi dengan kekuasaan, yaitu ketika terjadi pergantian kekuasaan dari Majapahit ke Kesultanan Demak Bintoro yang dipimpin oleh Raden Fattah pada abad 15. Pada masa ini nilai-nilai Islam berangsur-angsur menggantikan budaya Hindu. Pada saat itu Islamisasi masyarakat jawa yang dilakukan oleh Wali Songo berjalan sangat lempang. Pengaruh Islam menyebar hampir keseluruh pulau jawa, kecuali beberapa daerah yang terletak di pedalaman.[16]

Persoalan yang menarik di sini adalah bahwa ketika Islam masuk di Indonesia relatif bisa diterima dan menyebar dengan cepat, bahkan prosesnya berlangsung dengan damai. Dalam sosiologi bahwa penyebaran agama atau ideologi akan mudah tercapai dengan menguasai kekuasan, sebab kekuasaan merupakan sarana strategis membangun dan membina umat.

Namun yang unik dikemukakan adalah kondisi yang berbeda antara penyebaran Islam di jazirah Arab dan di Indonesia. Perbedaan itu bisa dilihat dari beberapa tulisan sejarah yang menyebutkan bahwa penyebaran Islam di Timur Tengah dengan jalan penaklukan dan penjajahan dengan kata lain penerapan hukum Islam (fiqih). Berbeda dengan konteks Indonesia, yang dilandasi dengan nilai-nilai toleran dan nilai-nilai budaya, bukan penerapan hukum fiqih, tetapi memasukkkan nilai-nilai esensial Islam dalam kehidupan masyarakat. Hal ini karena Islam yang didatangkan dari India dan Persia oleh para Wali Songo tidak bisa lepas dari ajaran-ajaran dasar tassawuf.[17]

Penggunaan pendekatan tasawuf oleh kalangan penyebar Islam di Jawa dikarenakan konteks masyarakat jawa pada saat itu dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha di mana dalam ajarannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Islam yang menekankan toleransi dan lebih pada substansi dari pada formalis, yaitu ajaran tasawuf. Yang menarik, jika kita melihat konteks timur tengah sebagai pusat peradaban Islam pada masa itu, di mana pada saat Islam masuk ke Indonesia, Islam di Timur Tengah sudah malakukan pembukuan ilmu-ilmu fiqih, dan ilmu fiqih pada saat itu mendapat prioritas yang lebih dibandingkan ilmu tasawuf. Di sisnilah kita bisa melihat betapa tepatnya para Wali Songo tetap menggukan pendekatan tasawuf.

Keberadaan Wali Songo yang juga pelopor pendirinya pesantren dalam perkembangan Islam di Jawa sangatlah penting sehubungan dengan peranannya yang sangat dominan. Wali Songo melakukan suatu proses yang tak berujung, gradual, dan berhasil dalam menciptakan satu tatanan masyarakat santri yang saling damai dan berdampingan. Selanjutnya, oleh beberapa Wali Songo yang menggunakan pesantren sebagai tempat menyebarkan dan mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Jawa diintegrasikan dengan pendekatan yang berkesesuaian dengan filsafat hidup masyarakat Jawa.[18]

C. Karakteristik Pendidikan Pesantren

Sebelum membahas lebih jauh tentang karakteristik pendidikan pesantren, perlu kiranya mengetahui tujuan didirikannya pesantren. Secara umum tujuan didirikan pesantern pada dasarnya dibagi menjadi dua, yaitu : tujuan umum, membimbing santri untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup menyalurkan keilmuannya dalam masyarakat luas dengan ilmu dan amalnya. Tujuan khusus, mempersiapkan para santri uintuk menjadi orang yang ahli dan menguasai ilmu keagamaan yang kemudian diamalkan dalam masyarakat sekitar tempat hidupnya.[19]

Menghormati guru, yaitu janganlah berjalan di depannya, duduk di tempatnya, mulai mengajak bicara kecuali diperkenankannya, berbicara macam-macam, menanyakan hal yang membosankan, jangan mengetuk pintu rumahnya, cukuplah menanti di luar hingga ia sendiri keluar dari rumahnya, hormati pula anak serta semua semua orang yang berkerabat dengannya

Demikian paparan yang diungkap oleh Syekh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limu al-Muta’alim li Thariqi al-Ilmi yang ditulis pada abad XIV Masehi. Yang menarik adalah kitab ini dijadikan pegangan di pondok-pondok pesantren sebagai pedoman yang secara tidak resmi menjadi standar pola pendidikan pesantren. Kitab tersebut menjadi rujukan karena sistematika penulisan dan isi materinya amat bagus, seperti metode belajar yang praktis, etika berinteraksi antara civitas dalam komunitas pesantren dan sebagainya. Hanya saja yang perlu dikritisi adalah implementasi paparan di atas yang acapkali lebih mengedepankan laku pengkultusan sang Kyiai. Namun jika diinterpretesikan lebih mendalam dan kontekstual, sebenarnya konsep yang diusung Az-Zarnuji akan lebih humanis. Terlihat dari apa yang dianjurkan Az-Zarnuji, seorang muta’allim (murid) bebas dan leluasa memilih pelajaran yang diinginkan dan juga sekaligus bebas memilih guru untuk membimbingnya mempelajari pelajaran yang telah dipilihnya. Bahkan lebih dari itu, waktu dan lama belajarpun seorang muata’allim bebas menentukan sendiri, namun Az-Zarnuji juga memberi ajuran hari apa yang tepat untuk memulai belajar.

Terlepas dari persoalan di atas, dalam perspektif sosiologis pesantren dipandang sebagai satu relaitas sosial budaya yang memiliki banyak persamaan dan perbedaan sekaligus antar masing-masing pesantren pada umumnya dan banyak perbedaan di tengah perubahan kehidupan masyarakat indonesia. Menurut Abduahman Wahid,[20] nilai perbedaan pesantren disebut sebagai suatu subkultur di tengah-tengah masyarakat luas. Perbedaan antar masing-masing pesantren, karena para Kyiai betul-betul memperhatikan pertalian nasab dalam mengembangkan pesantrennya. Kalaupun tidak berdasarkan nasab biasanya berkaitan dengan ikatan emosional yang sangat kuat antara Kyiai dan santri, sehingga cenderung untuk mempertahankan kebiasaan dan tradisi yang diwariskan oleh Kyiainya.

Perbedaan yang mencolok antara pesantren dan masyarakat pada umumnya, dapat dilihat dari kehidupan masyarakat yang begitu cepat mengalami perubahan yang disebabkan oleh arus informasi dan perubahan budaya masyarakat akibat pengaruh yang berasal dari sebagai konsekuensi dari dunia global yang juga merupakan realitas yang tidak dapat dielakkan. Sikap konsumtif dan pandangan hidup materialistis masyarakat sebagai akibat dari pandangan filsafat positivistik, yang menghitung segala sesuatu dengan matematis dan materialistis adalah kenyataan yag terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini.

Pondok pesantren dalam bacaan teknis merupakan suatu tempat yang dihuni oleh para santri. Pernyataan ini menunjukkan makna pentingnya ciri-ciri pondok pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang integral. Sistem pendidikan pesantren sebetulnya sama dengan sistem yang digunakan Akademi Militer, yakni dicirikan dengan adanya sebuah bangunan beranda yang di situ seseorang dapat mengambil pengalaman integral. Dibandingkan dengan lingkungan pendidikan parsial yang ditawarkan sistem pendidikan sekolah umum di Indonesia sekarang ini, sebagai budaya pendidikan nasioanal, pondok pesantren mempunyai kultur yang unik. Karena keunikannya, pondok pesantren digolongkan kedalam subkultur tersendiri dalam masyarakat Indonesia.[21]

Pesantren disebut sebagai subkultur, menurut Abdurraman Wahid, karena ada tiga elemen yang membentuk pondok pesantren, yaitu, pertama, pola kepemimpinan pondok pesantren yang mandiri tidak terkooptasi oleh Negara, kedua, kitab-kitab rujukan umum yang selalu digunakan dari berbagai abad, dan ketiga, sistem nilai yang digunakan adalah bagian dari masyarakat luas.[22]

Kepemimpinan pondok pesantren dikatakan unik karena memakai sistem kepemiminan tradisional, relasi sosial Kyiai dan santri dibangun atas dasar kepercayaan dan penghormatan kepada seorang yang memiliki ilmu keagamaan yang tinggi, sebagaimana ajaran sufi. Hal itu sejatinya bukanlah penghormatan kepada manusianya, tetapi lebih kepada ketinggian ilmu yang diberikan Allah SWT kepada seorang Kyiai.

Elemen kedua dari pondok pesantren adalah memelihara dan mentransfer literatur-literatur umum dari generasi kegenerasi dalam berbagai abad. Dalam pendidikan pondok pesantren, aturan dalam terks-teks klasik yang dikenal dengan kitab kuning dimaksudkan untuk membekali para santri dengan pemahaman warisan yurisprudensi masa lampau atau jalan kebenaran menuju kesadaran esoteris ihwal status penghambaan di hadapan Tuhan,[23] dan dengan tugas-tugas masa depan dalam kehidupan masyarakat.

Dilihat dari kurikulumnya, ciri kurikulum pesantren memadukan penguasaan sumber ajaran Illahi (bersumber dari Allah SWT) menjadi peragaan individual untuk disemaikan ke dalam hidup bermasyarakat. Selain mengenalkan ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (prilaku) dalam pengajarannya, sejak lama pesantren mendasarkan diri pada tiga ranah utama; yaitu faqohah (kecukupan atau kedalaman pemahaman agama), tabi’ah (perangai, watak, atau karakter), dan kafaa’ah (kecakapan operasional).[24] Jika pendidikan merupakan upaya perubahan, maka yang dirubah adalah tiga ranah tersebut, dan tentu saja perubahan kearah yang lebih baik.

Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. Dalam sistem pendidikannya, pesantren melestarikan ciri-ciri khas dalam interaksi sosial yaitu :
Adanya hubungan yang akrab antara santri dengan Kyiai serta taat-hormatnya para santri kepada Kyiai, yang merupakan figur kharismatik panutan kebaikan.
Jiwa semangat tolong menolong, kesetiakawanan, suasana persaudaraan dan kebersamaan.
Disiplin waktu dalam melaksanakan pendidikan dan beribadah.
Hidup hemat dan sederhana.
Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan, seperti tirakat, shalat tahajud di malam hari, iktikaf dan sebagainya.
Merintis sikap jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan.

D. Fungsi dan Peran Pesantren

Pesantren secara ideal mempunyai dua fungsi; mobilitas sosial dan pelestarian nilai-nilai etik serta pengembangan tradisi intelektual. Fungsi pertama menempatkan pendidikan pesantren sebagai sarana dan instrumen melakukan sosialisasi dan ternsformasi nilai agar umat mampu melakukan mobilisasi sosial berdasarkan pada nilai agama. Fungsi kedua lebih bersifat aktif dan progresif, di mana pesantren dipahami tidak saja sebagai upaya mempertahankan nilai dan melakukan mobilisasi sosial, lebih dari itu merupakan sarana pengembangan nilai dan ajaran. Ini menuntut terjadinya interdependensi, otonomi dan pembebasan dari setiap belenggu baik struktural maupun kultural karena pengembangan intelektual bisa terjadi jika menusianya independen dan tidak terikat baik secara fisik maupun mental.[25]

Kenyataanya di pesantren saat ini, kedua fungsi tersebut tidak berimbang. Pola pendidikannya masih menampakkan diri sebagai instrumen model pertama, yakni wahana sosialisasi dan legitimasi madzhab. Untuk membangkitkan pesantren dari tidur panjangnya banyak hal yang harus dilakukan di antaranya menyuburkan daya nalar pesantren. Dinamika budaya dan perubahan sosial merupakan tantangan dunia pesantren di mana ketahanan nilai tradisi bergabung pada tiga hal. Pertama, kemampuan internal tradisi berhadapan dengan kekuatan eksternal baik bersifat ideologis maupun kultural, kedua, berkembangnya pikiran kritis; Ketiga, kemampuan generasi pendukungnya melakukan telaah kritis dan menyusun kembali tradisi alternatif bahkan perlawanan.

Perubahan sosial dan pemunduran tradisi keagamaan akan kian kompleks seiring kecenderungan global yang akan mengelami disfungsi yang sama. Untuk itu perlu basis intelektual yang mampu menyesuaikan persoalan yang timbul. Karenanya diperlukan metodologi pemahaman keagamaan dan pengembangan kroninya secara kritis dengan wawasan yang integral.

Pesantren, sebagai suatu subkultur, lahir dan berkembang seiring dengan derap langkah perubahan-perubahan yang ada dalam masyarakat global. Perubahan-perubahan yang terus berggulir itu, cepat atau lambat, pasti akan mengimbas pada komunitas pesantren sebagai bagian dari masyarakat dunia, meskipun tidak dikehendaki. Karenanya, tidaklah berlebihan jika A. Sahal Mahfudz menyebutkan bahwa ada dua potensi besar yang dimilki pesantren, yakni potensi pengembangan masyarakat dan potensi pendidikan.[26] Dalam kaitan ini, bila ditilik dari kehadirannya, menarik kiranya untuk disimak bahwa institusi pesantren ternyata memilki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan perannya dewasa ini. Dalam hubungannya dengan potensi di atas, kehadiran pesantren disebut unik sekuarang-kurangnya karena ada dua alasan sebagai berikut.

Pertama, pesantren dilahirkan untuk memberikan respon terhadap situasi dan kondisi sosial suatu masyarakat yang tengah dihadapkan pada runtuhnya sendi-sendi moral, melalui transformasi nilai yang ditawarkannya (amar ma’ruf dan nahy munkar). Kehadirannya, dengan demikian bisa disebut sebagai agen perubahan sosial (agent of social change), yang selalu melakukan kerja-kerja pembebasan (liberation) pada masyarakatnya dari segala keburukan moral, penindasan politik, pemiskinan ilmu pengetahuan, dan bahkan dari pemiskinan ekonomi. Institusi pesantren, dengan begitu, mengesankan telah berhasil mentransformasikan masyarakat di sekitarnya dari keburukan menuju kesalihan, dan dari kefakiran menuju pada kemakmuran atau kesejahteraan. Oleh karenanya, kehadiran pesantren menjadi seuatu keniscayaan sebagai bentuk institusi yang dilahirkan atas kehendak dan kebutuhan masyarakat. Dengan kesadarannya, pesantren dan masyarakat telah membentuk hubungan dengan harmonis, sehingga komunitas pesantren kemudian diakui menjadi bagian tak terpisahkan atau sub-kultur dari masyarakat pembentuknya. Pada tataran ini, pesantren telah berfungsi sebagi pelaku pengembangan masyarakat.[27]

Kedua, salah satu misi awal didirikannya pesantren adalah menyebar-luaskan informasi ajaran tentang universalitas Islam ke seluruh pelosok Nusantara yang berwatak pluralis, baik dalam dimensi kepercayaan, budaya maupun kondisi sosial masyarakat.[28] Melalui medium pendidikan yang dikembangkan para Wali dalam bentuk pesantren, ajaran Islam lebih cepat membumi di Indonesia. Hal ini tampaknya menjadai fenomena tersendiri bagi keberadaan pesantren sebagi bagian dari historisnya di Indonesia yang dapat menjelaskan elanvital peran pesantren tatkala melahirkan kader-kadernya untuk dipersiapkan memasuki segala sistem kehidupan masa itu.

Dengan institusi pesantren yang dibangunnya, para Wali berhasil menginternalisasikan nilai-nilai Islam dalam lingkungan masyarakat. Idealisasi bangunan masyarakat yang ditempuh adalah sebuah masyarakat muslim yang inklusif, egaliter, patriotik, luwes dan bergairah terhadap upaya-upaya transformative. Misi kedua ini lebih berorientasi pada peran pesantren sebagai sebuah institusi pendidikan Islam.

E. Paradigma dan Pergeserannya

Sebelum membahas bentuk-bentuk pergeseran pesantren lebih lanjut, perlu kiranya untuk membahas teori pergeseran paradigma. Paradigma pertama kali muncul disuarakan oleh filosof asal Amerika Serikat yang bernama Thomas Kuhn tentang pandangannya terhadap perkembangan ilmu, yang merupakan respon terhadap pandangan neopositivisme dan Popper. Proses verifikasi dan konfirmasi-eksperimentasi dari bahasa ilmiah yang dalam pandangan Vienna Circle (lingkaran Vienna), merupakan langkah dan proses perkembangan ilmu, sekaligus sebagai pembeda antara yang disebut ilmu dengan yang bukan ilmu.[29] Sementara menurut Popper, proses perkembangan ilmu adalah dengan proses yang disebut falsifikasi (proses ekseperimentasi untuk membuktikan salah dari suatu teori) dan refutasi (penyangkalan teori).[30] Keduanya jelas memiliki nuansa positivistik dan karenanya juga objektifistik, yang cenderung memisahkan antara ilmu dan subyektifitas.

Kuhn menolak pandangan di atas dan memandang ilmu dari perspektif sejarah. Istilah paradigma oleh Kuhn dipakai untuk menggambarkan sistem keyakinan yang mendasari upaya pemecahan teka-teki di dalam ilmu.[31] Dengan memakai istilah paradigma ia bermaksud mengajukan sejumlah contoh yang telah diterima tentang praktek ilmiah nyata, termasuk hukum, teori, aplikasi dan instrumentasi, yang menyediakan model-model, yang menjadi sumber konsistensi dari tradisi riset ilmiah tertentu. Paradigma tunggal ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science). Yang dimaksudkan dengan ilmu normal adalah penelitian yang dengan teguh berdasar atas satu atau lebih pencapaian ilmiah.

Menurut Kuhn, paradigma ilmu adalah suatu kerangka teoritis, atau cara memandang dan memahami alam, yang telah digunakan oleh sekelompok ilmuwan sebagai pandangan dunianya. Paradigma ilmu berfungsi sebagai lensa yang melaluinya seseorang dapat mengamati dan memahami masalah-masalah berserta jawaban-jawaban masalah tersebut. Paradigma ilmu dapat dianggap sebagai suatu skema kognitif yang dimiliki bersama. Sebagaimana skema kognitif itu memberi kita sebagai individu suatu cara untuk mengerti alam sekeliling.

Pergeseran paradigma akan mengubah konsep-konsep dasar yang melandasi riset dan mengilhami standar-standar pembuktian baru, teknik-teknik baru, serta jalur teori baru yang secara radikal tidak bisa dibandingkan lagi dengan yang lama. Setiap paradigma dapat menghasilkan karya khusus yang menentukan dan membentuk paradigma baru. Perkembangan ilmu tidak disebabkan oleh dikuatkan dan dibatalkannya suatu teori, tetapi lebih disebabkan oleh adanya pergeseran paradigma.

Thomas Kuhn mengembangkan konsep paradigma untuk memperlihatkan adanya perubahan dan pergeseran secara revolusioner dalam ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya menurut Kuhn bahwa dalam revolusi ilmu pengetahuan paradigma lama selalu digantikan oleh paradigma baru. Pergeseran paradigma itu sangat radikal, dan tidak ada kontinuitas di antara kedua paradigma tersebut.[32]

Cara kerja paradigma dan terjadinya revolusi ilmiah dapat digambarkan secara umum kedalam tahap-tahap berikut. Pertama, paradigma membimbing dan mengarahkan aktifitas ilmiah. Di sini para ilmuwan menjabarkan dan mengembangkan paradigma sebagai model ilmiah yang digelutinya secara rinci dan mendalam. Dalam tahap ini para ilmuwan tidak begitu kritis terhadap paradigma yang membimbing aktifitas ilmiahnya. Kemudian, ketika menjalankan aktifitas ilmiah tersebut, para ilmuwan menjumpai berbagai fenomana yang tidak dapat diterangkan dengan peradigma yang digunakan sebagai bimbingan aktifitas ilmiahnya, inilah yang oleh Kuhn dinamakan anomali.[33] Anomali adalah suatu keadaan yang memperlihatkan adanya ketidak cocokan antara kenyataan (fenomena) dengan paradigma yang dipakai.

Tahap kedua, menumpuknya anomali menimbulkan krisis kepercayaan diri para ilmuwan terhadap paradigma yang digunakannya, kemudian mulai diperiksa dan dipertanyakan. Para ilmuwan mulai keluar dari jalur normal saince.[34] Tahap ketiga, para ilmuwan bisa kembali pada cara-cara ilmiah yang lama sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigma baru yang dipandang bisa memcahkan masalah dan membimbing aktifitas ilmiah berikutnya. Proses peralihan paradigma lama ke paradigma baru inilah yang dinamakan revolusi ilmiahnyah.[35]

F. Pergeseran Paradigma Pesantren

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas tentang pergeseran paradigma lama keparadigma baru, bahwa jika paradigma lama tidak mampu menjawab persoalan atau anomal-anomali yang muncul kemudian bersusaha mencari paradigma baru yang sekiranya dapat digunakan sebagai pijakan untuk menjawab anomali tersebut. Demikian halnya dengan pesantren, jika pada masa awal berdirinya pesantren masih mampu manjawab persoalan-persoalan yang muncul dalam sosiokultur masyarakat sekitar, namun pada masa selanjutnya persoalan-persoalan yang muncul dalam masyarakat semakin kompleks, dan paradigma yang digunakan pesantren sudah kurang mampu atau bahkan tidak sesuai dengan harapan, maka para tokoh dalam pesantren berusaha mencari solusi yang tepat untuk dapat menjawab persoalan tersebut. Di sisni terjadilah pergeseran dari paradigma lama ke paradigma baru yang dianggap lebih tepat dengan kondisi sosiokultur masyarakat.

Paradigma yang digunakan oleh pesantren pada awal berdirinya, tentunya juga disesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitar pada waktu itu. Jika pada awal berdirinya pesantren kondisi masyarakat sekitar adalah sangat kental dengan budaya dan ajaran Hindu-Buddha, maka paradigma yang dipakai oleh pesantren pun harus sesuai dan tidak bertentangan dengan budaya lokal (Hindu-Buddha). Sedangkan dalam Islam ajaran yang sangat menghormati budaya ajaran lain adalah ajaran tasawuf, dimana dalam ajaran tasawuf rasa toleransi sangat dikedepankan.

Pada perkembangan selanjutnya, kondisi masyarakat sekitar pesantren telah memeluk agama Islam dan mewarnai budaya lokal dengan ajaran Islam, sebagaimana penyebaran Islam yang dilakukan oleh para Wali Songo. Karena penanaman ajaran tasawuf atau tauhid telah berhasil dilakukan, maka kalangan pesantren menganggap sudah saatnya untuk mengubah orientasi dari ajaran tasawuf kepada penerapan hukum fiqih. Selain itu, pergeseran tersebut juga dikarenakan banyaknya generasi pesantren yang belajar di negeri Arab untuk memperdalam ajaran Islam, di mana kondisi bangsa Arab saat itu terkenal dengan al-Ahlul al-Hadits yang tentunya ajaran Islam yang dikembangkan lebih kental dengan fiqihnya.

G. Paradigma Pesantren

1. Paradigma Tasawuf

Sebagai bagian dari lembaga bimbingan keagamaan, jika kita lacak, tradisi keilmuan Islam di pesantren bersumber dari dua dekade, yakni dekade pengetahuan keislaman yang datang ke Nusantara pada abad ke 13, dan yang kedua, dekade ketika para anak-anak muda dari kawasan nusantara berlayar menuntut Ilmu disemenanjung Arabia, khususnya di Mekkah dan sekembalinya ke tanah air mereka mendirikan pesantren-pesantren, kemudian menjadi pesantren-pesantren besar.[36] Pada dekade pertama, manifestasi keilmuan Islam yang datang ke Indonesia adalah dalam bentuk tasawuf, sementara pada dekade kedua muncul ilmu-ilmu keislaman yang lebih mendalam pada fan Fiqih, hal ini ditandai dengan lahirnya ulama-ulama fiqih besar seperti Kyiai Nawawi Banten, Kyiai Abdul Ghoni Bima, Kyiai Mahfudz Tremas, Kyiai Khalil Bangkalan, dan sebagainya.[37]

Gelombang pertama keilmuan Islam yang bercorak tasawuf terjadi karena awal masuknya Islam di Indonesia dalam bentuk ilmu jadi dari dataran Persia yang juga dikembangkan di dataran India dimana kedua dataran tersebut banyak memunculkan ulama-ulama tasawuf.[38] Ilmu tasawuf adalah ilmu yang memungkinkan manusia mengetahui diri dan kedudukannya di hadapan Allah SWT. Modus hubungan antara manusia dengan Sang Khaliq menjadi kajian utama, seperti tawakal, zuhud dan sebagainya. Modalitas manusia yang berupa jasad, akal, ruh dan nafsu serta qalbu sama pentingnya sebagai isi ilmu tasawuf, dengan perihal rute dan terminal perjalanan ruhani; yang kesemuanya merupakan ilmu yang tidak cukup diceramahkan, melainkan hanya bisa dipahami dan dijalani.

Dalam tasawuf tingkatan pengetahuan atau ilmu dibagi ke dalam empat tingkatan, yaitu : Syari’ah, Thariqat, Hakikat, dan Ma’rifat. Syari’ah adalah ilmu yang dianggap sebagai kulit dari ajaran Islam, ajaran Islam Syari’ah ini lebih bersifat legal-formal, dengan kata lain memandang suatu persoalan sesuai dengan ketentuan hukum dan Syari’ah yang berlaku, bahkan terkadang juga sesuai dengan madzhab fiqih yang dianut. Tingkatan kedua, yaitu Thariqat, sebagaimana arti Thariqat itu sendiri, yakni “jalan” atau bisa dikatakan jalan untuk mencari ketentraman dunia dan akhirat melalui bacaan-bacaan aurad (dzikir) yang sering dilakukan melaui istighatsah, manaqib, dan sebagainya. Dalam Thariqat masih terbagi-bagi lagi menjadi beberapa aliran Thariqat.

Sementara aliran yang ketiga, yaitu Hakikat lebih pada makna dan substansi ajaran Islam, yaitu tauhid, dan ketika memandang persolan lebih bersifat toleran asalkan substansinya tidak melenceng dari ketauhidan. Akhlak dan perilaku dalam tingkatan yang ketiga ini lebih dikedepankan. Sedangkan tingkatan yang terakhir, yaitu Ma’rifat, mengajarkan ketauhidan yang lebih mendalam lagi sampai pada kefanaan diri dan alam, yang ada hanyalah subtstansi Tuhan, manusia yang sudah berada pada tingkatan ini merasa telah bersatu dengan Tuhan (wahdatul wujud).

Jika kita melacak kesejarahan ilmu tasawuf, sebenarnya sudah ada semenjak periode tabi’in, namun pada masa itu tasawuf yang berkembang bersifat liar, artinya tidak terpaku pada satu atau dua aliran tertentu. Namun, ketika memasuki periode pasca Imam Al-Ghazali, ilmu taswuf mulai membentuk aliran-aliran, dan bersifat akhlaqiyah dan ‘ubudiyah. Pada perkembangan selanjutnya ilmu tasawuf bercabang-cabang menjadi beberapa aliran, bersamaan dengan pembukuan ilmu-ilmu fiqih yang dipelopori oleh para imam madzhab.

2. Paradigma Fiqih

Sebagaimana karakter syari’ah yang sangat menunjukkan sifat legal formal, fiqih juga demikian, selalu mengedepanan sifat legal-formal, doktriner, serta justifikasi yang berkecenderungan menampilkan Islam serba harfiah dan sesuai dengan hukum fiqih atau tata aturan syari’ah yang sah. Model berfikir serba formalistik atau legalistik tersebut berbeda kontras dengan corak Islam yang mengedepankan hakikat dan substansi sebagaimana logika ilmu kalam dan tasawuf. Bagi kalangan syariah atau fiqih, bahwa islam itu ialah isi dan kulit sekaligus, substansi itu penting, tetapi formalisasi justru akan mengamankan substansi.[39]

Karakter legalitas, doktriner dan justifikasi pada Islam Syari’ah merupakan keniscayaan dari paradigma Islam syari’ah yang berorientasi serba hukum atau fiqih Islam dalam logika “al-Ahkam Al-Khomash” (lima prinsip hukum) yaitu, wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Sehingga melahirkan kaca mata serba hitam putih.[40]

Ilmu fiqih sendiri mulai memeprlihatkan perkembangannya sekitar abad 13 M. tepatnya pada masa pemerinyahan bani Abassiyah. Di mana pada masa tersebut keilmuan Islam sangat dipengaruhi oleh keilmuan Yunani kuno yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.[41]

H. Pergeseran Oreintasi Pesantren

1. Orientasi Tasawwuf

Sebagian besar kitab kuning yang diplajari dipesantren mengandung nuansa-nuansa tasawuf, beberapa diantaranya adalah Durrah an-Nashihin, bidayah al-Hidayah, Minhaj al Abidin, Ihya’ ‘Ulum ad-Diin, Mizan al-Kubra, dan Sarh al_Hikam.

Orientasi kitab kuning seperti ini jelas sangat mempengaruhi pandangan, pemikiran, dan sikap hidup masyarakat pesantren. Disatu sisi, orientasi itu dapat membentuk kepribadian yang luhur, dan disisi lain pemahaman atas sufisme dan kehidupan tharekat seringkali mengalahkan dimensi nalar intelaktualitas. Keadaan ini terbukti ketika kajian kitab kuning manthiq kurang memperolah perhatian. Kitab as-Sulam Al-Munawraq, sebuah kitab kuning tentang logika memang masih diajarkan di beberapa pesantren, akan tetapi tidak dijadikan kajian yang penting. Tampaknya imbauan Imam al-Ghozali untuk mengkaji ilmu ini tidak cukup mampu mengalahkan statemen Ibn Shalaah dan Imam Nawawi yang justru mengharamkannya.

Fenomena di atas sangat menarik karena di satu sisi kajian tentang aspek tasawwuf memperoleh aspirasi yang tinggi, dan di sisi lain kajian tentang aspek logika terjadi sebaliknya. Namun kita bisa meihat terlebih dahulu tokoh yang meganjurkan untuk mempelajari logika dan tokoh yang mengharamkan mempelajari logika. Al-Gozali, adalah seorang filosof Islam yang juga sufisme besar di abad pertengahan, bahkan karangannya tentang tasawwuf yang tertuang dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din dan Bidayah al-Hidayah banyak dipakai dalam kajian pesantren, meskipun kadarnya sangat minim. Melihat horizont (latar belakang) yang dimiliki Imam al-Ghozali sangat dimaklumi jika beliau menganjurkan untuk mempelajari ilmu logika dan filsafat. Berbeda dengan kedua tokoh (Ibn Shalaah dan Imam Nawawi) yang mengharamkan untuk mempelajari logika dan filsafat, mereka berstatus sebagai ahl al-Hadits yang identik ilmu fiqihnya.

Jika melihat ajaran dalam ilmu tasawuf, orientasi yang digagas adalah penyerahan diri kepada sang khalik secara muthlak, artinya bahwa setiap apa yang dikerjakan merupakan untuk beribadah kepada Tuhan, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Quran bahwa tujuan jin dan manusia diciptakan tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada sang Khalik. Bentuk ibadahnya pun bermacam-macam, setiap perbuatan yang bernilai baik adalah ibadah, tidak terpaku pada hukum syari’ah. Nilai baik dalam ibadah tersebut juga tidak secara baku ditetapkan, namun mempunyai neraca-neraca kebenaran yang universal.

Perlu ditekankan bahwa yang paradigma tasawuf di sini bukanlah tasawuf yang dimaknai secara sempit yang identik dengan ajaran tarekat-tarekat yang justru malah bersifat individualis dan seringkali menimbulkan rasa pesimistis. Namun tasawuf secara luas yang menekankan pada rasa toleransi dan kesederhanaan yang menimbang kebenaran secara universal.

2. Orientasi Fiqih

Pesantren yang selama ini Hukum fiqih bila kita ditafsiri dengan makna tekstual seperti yang selama ini dilakukan oleh banyak lembaga pesantren dengan forumnya yang bernama bahsul masa’il, selalu menghadirkan produk hukum positif yang terkesan fiqih sentris dalam beragama. Hal ini dapat kita lihat dari metode bahsul masil itu sendiri, di mana dalam kajian ini selalu mengedepankan I’barah hanya dari kitab-kitab fiqih muktabar. Sedangkan kitab-kitab ajaran tasawuf tidak dijadikan referensi dalam mengambil keputusan hukum.

Untuk melihat orientasi fiqih yang ada di pesantren, tentunya kita juga harus melihat kadar materi pelajaran yang diajarkan pesantren-pesantren selama ini. Ketika pesantren sudah mengadopsi sistem pembelajaran modern yang berparadigma positivistik, kitab-kitab yang diajarkan pesantren kadar fiqihnya lebih tinggi dibandingkan dengan kadar kitab yang berorientasi tasawuf.

Dikarenakan setiap masalah yang ada dalam realitas selalu dipandang melalui hukum fiqih dan metode intepretasi yang tekstualis di mana orientasi fiqih selalu menundukkan realitas kepada kebenaran fiqih yang berwatak hitam dan putih (halal-haram). Sehingga sesuatu yang berbeda dan berada di luar hukum fiqih selalu diangaggap sebagai barang bid’ah bahkan haram. Ironisnya pemahaman keagaman yang sempit inilah justru yang banyak dianut umat Islam. Ini karena pemahaman tersebut selain mendapat dukungan dari kelompok yang dominan di masyarakat juga karena pelestariannya dilakukan dengan berbagai cara dengan memanfaatkan berbagai media yang ada. Dengan demikian ajaran agama yang seharusnya menjadi dasar perubahan, bahkan menjadi alat pelanggengan status quo.

Mayoritas pesantren masa kini terkesan berada di menara gading, elitis, jauh dari realitas sosial. Problem sosialisasi dan aktualisasi ini ditambah lagi dengan problem keilmuan, yaitu terjadi kesenjangan, alienasi dan deferensiasi antara keilmuan pesantren dengan realitas sosial.[42] Performa elitis yang ditampikan oleh dunia pesantren seakan semakin menjauhkan pesantren dengan basis primordialnya, yaitu warga masyarakat. Sehingga muncul rasa rendahnya rasa memiliki masyarakat terhadap pesantren, dan sebaliknya, pesantren tidak lagi merasa menjadi bagian milik masyarakat.

3. Pergeseran Oerintasi Tasawuf ke Orientasi Fiqih

Sebagaimana telah dijelaskan di atas tentang pergeseran paradigma, di dalam pesantren sebagai lembaga pendidikan nonformal, pergeseran paradigma tersebut sebagai imbas dari pergeseran orientasi. Untuk melihat pergeseran tersebut, tentunya kita harus menelaah terlebih dulu mengenai tujuan umum dari awal didirikannya pesantren, yang kemudian dilanjutkan menelaah sampai pada perkembangannya dan pada akhirnya akan ditemukannya titik pergeserannya.

Pada umumnya, awal berdirinya pesantren mempunyai tujuan pokok, yaitu, memepermudah dakwah Islam di Indonesia. Pesantren didirikan untuk menyampaikan ajaran Islam kepada para santri, yang kemudian setelah santri benar-benar menguasi ilmu dan ajaran agama kembali ke masyarakat asalnya untuk menyampaikan kembali apa yang telah didapat di pesantren kepada masyarakat sekitarnya.

Pada masa awal munculnya pesantren (juga masa awal penyebaran Islam di Indonesia), kondisi sosiokultur masyarakat yang ada, rata-rata diwarnai oleh ajaran Hindu-Buddha, yang juga mempunyai kesamaan dengan ajaran tasawuf dalam Islam. Sehingga ajaran-ajaran yang disampaikan oleh pesantren-pesantren adalah ajaran tasawuf. Hal ini untuk mempermudah diterimanya Islam oleh masyarakat. Selain itu, Islam yang masuk ke Indonesia memang dibawa oleh orang yang dari Persia dan India yang kental dengan ajaran tasawuf.

Kemudian pada masa-masa selanjutnya, ketika ajaran Islam sudah menyebar hampir seluruh masyarakat Indonesia, khususnya jawa, para tokoh Islam dari kalangan pesantren yang jika ditelusuri banyak yang belajar dan memperdalam ajaran Islam ke negeri Arab, mulai merubah orientasi penyebaran ajaran Islam dari yang semula hanya mewarnai budaya lokal dengan ajaran tauhid Islam menjadi penerapan hukum fiqih dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini karena budaya lokal, seperti larung, sesajen dan sebagainya, dianggap sangat dekat dengan kesyirikan, sehingga perlu untuk menghilangkan budaya-budaya yang dianggap dekat dengan kesyirikan dan kekafiran.
I. Pergeseran Sistem Pendidikan dan Kurikulum Pesantren

Setelah mengalami pergesaran orientasi, tentunya kurikulum yang ada dalam pesantrenpun secara sendirinya juga harus mengadakan pergeseran dan perubahan sesuai dengan orientasi dan paradigma yang dipakai.

Pesantren dilihat dari segi kurikulumnya terbagi menjadi tiga model atau tipe, yaitu :
Pesantren Salafiyah atau Tradisional, yaitu pesantren yang sistem pendidikannya semata-mata berdasarkan pada pola-pola lama atau klasik. Jadwal dan kitab yang dikaji tidak mempunyai aturan yang baku, dan sistem pengajarannya masih menggunakan sistem lama, seperti sorogan, bandungan wetonan dan sebagainya.
Pesantren semi modern, yaitu pesantren yang sudah mengadopsi kurikulum sekolah, manajeman dan kurikulum sudah tertata rapi, seperti pembagian kelas (klasikal). Ustadz yang mengajarnya pun dibagi sedemikian rupa, sistem pembelajarannya pun tidak jauh beda dengan sistem yang ada di sekolah formal. Pada pesantren ini, pengelolaan kependidikan sudah tidak dipegang secara penuh oleh Kyiai, tetapi diambil alih oleh pengurus yang terkotak-kotak sesuai dengan bidang-bidang, meskipun kebijakan tertinggi masih dipegang oleh Kyiai.
Pesantren modern, yaitu pesantren yang kurikulumnya dan manajemen pembelajarannya mengadopsi kurikulum pemerintah/formal secara total. Materi pelajaran yang disampaikan oleh sekolah formal juga disampaikan oleh pesantren modern, Kyiai tidak lagi memegang otoritas penuh, namun hanya sebatas penasehat atau pimpinan yayasan yang juga tunduk pada aturan pemerintah.

Perbedaan-perbedaan pesantren di atas menunjukkan adanya pergesran-pergeseran pada sistem pendidikan dan kurikulum pesantren. Karena pada awal kemunculannya, pesantren hanya mempunyai sistem pendidikan tunggal, yaitu tradisional.

Pergeseran-pergeseran kurikulum pesantren tersebut sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang mewajibkan pendidikan formal selama sembilan tahun. Hal ini membuat pesantren mau tidak mau juga harus memberikan kelonggaran kepada santri untuk dapat merealisasikan hal tersebut. Selain itu ketakutan-ketakutan rasional positifistik juga sangat mempengaruhi pergeseran kurikulum pesantren, di mana rasional positivistik selalu mengukur segala sesuatu dengan materi.

J. Pergeseran Budaya Pesantren

Budaya-budaya yang dulu dimiliki pesantren sebagai identitas serta sebagai pembentukan kepribadian, saat ini telah mengalami pergeseran yang sangat jauh. Hal ini dapat kita lihat dari pola hidup kaum santri saat ini, di antaranya : pada masa dulu banyak santri yang memenuhi nafkahnya dengan jalan mencari dengan tangan sendiri, hal ini sudah jarang ditemukan di banyak pesantren manapun, selain budaya masak sendiri juga sudah hilang digantikan budaya makan di warung atau kost.

Budaya-budaya pesantren yang dulunya menawarkan kesederhanaan dan toleransi serta solidaritas, saat ini mulai bergeser pada budaya-budaya modern yang identik dengan kemewahan, konsumtif, dan individualis. Hal ini terbukti dari pola kehidupan santri saat ini, di mana rasa solidaritas terhadap sesama santri sudah mulai mengendur.

Jika pesantren pada masa lampau selalu menggunakan nama-nama dari daerah di mana pesantren tersebut berdiri, seperti Pesantren Jampes, Pesantren Bendo, Pesantren Lirboyo dan sebagainya, kini pesantren-pesantren yang muncul kemudian berubah nama menjadi menggunakan nama-nama berbahasa Arab, seperti Pesantren Salafiyah, Al-Ishlah, Al-Ma’ruf, Al-Amin dan sebagainya. Penggunaan bahasa Aarab itu sendiri mulai menguak sejak abad 20. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren mulai menjaga jarak dengan adat atau budaya setempat. Ini merupakan pilihan sikap untuk membatasi diri pada tugas langsung untuk melayani masyarakat sekitar. Hal ini tidak cukup dipandang sebagai mekanisme pesantren untuk menyatakan kehadirannya secara berbeda dan abai terhadap adat dan budaya sekitar, melainkan merupakan pertanda dimulainya era baru dalam pembelajaran dan budaya di pesantren.[43]

Pesantren yang selama ini merupakan benteng pertahanan masyarakat dari gerusan neoglobalisme dengan berbagai implikasinya, namun sekalipun demikian fakta bahwa perubahan sosial yang menjadi sangat cepat berlangsung di semua belahan dunia, tidak dapat diabaikan, di mana hal inilah yang menjadi tantangan besar pesantren. Perubahan sosial sekarang ini bercirikan mondial, spektakuler, dan radikal.[44] Mondial, karena perubahan itu mencakup seluruh pelosok negri di dunia; nyaris tidak ada bagian dari dunia yang bebas dari gelombang perubahan itu. Spektakuler, karena perubahan tersebut terjadi serentak, mendadak, dan tidak memberikan waktu yang cukup bagi bangsa-bangsa untuk mempersiapkannya. Radikal karena perubahan itu mempengaruhi kehidupan manusia sampai pada sendi-sendi yang mendasar, seperti akhlak dan pandangan hidup, celakanya lagi perubahan-perubahan tersebut berjalan searah, sehingga memungkinkan terjadinya pengerucutan budaya dunia menjadi kebudayaan tunggal.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian dan paparan data pada bab-bab sebelumnya, maka sampailah kiranya pada beberapa konklusi, dari sini penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Bentuk-bentuk pergeseran pesantren dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bagian, yaitu :

1. Pergeseran Paradigma

Pergesaran paradigma yang terjadi di pesantren adalah pergeseran paradigma tasawuf keparadigma fiqih. Berbeda dengan paradigma tasawuf yang melihat segala sesuatu melalui hakekat dan substansi, paradigma fiqih bersifat legal-formal dan memandang segala sesuatu melalui kacamata hukum syar’I atau fiqih yang didasarkan pada empat prinsip hukum, yaitu; wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.

2. Pergeseran Orientasi dan Kurikulum Pendidikan

Karena pada awal kemunculannya, pesantren hanya mempunyai sistem pendidikan tunggal, yaitu tradisional, seperti bandongan, sorogan dan wethonan, maka pada perkembangan selanjutnya sistem pendidikan dan kurikulum pesantren bergeser pada pola pendidikan modern dan baku sebagai imbas dari keberhasilan pemikiran positivisme dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

3. Pergeseran Budaya

Budaya-budaya pesantren yang selama ini menjadi ruh dan ciri khas pesantren, seperti figur kharismatik seorang kyai yang menjadi panutan, tolong-menolong, kesetia-kawanan, suasana persaudaraan dan kebersamaan, hemat dan sederhana, serta sikap jujur dan berani menderita, saat ini telah bergeser pada pola budaya yang bersifat konsumtif, individualis, elitis, serta terkesan menjauh dari realita kehidupan masyarakat sekitar pesantren.

Untuk lebih jelas dalam memahami pergeseran yang terjadi di pesantren, dapat dilihat pada skema di bawah ini :

Skema di atas menunjukkan bahwa jika salah satu dari bentuk entitas pesantren mengalami perubahan, maka semua entitas di atas juga akan mengalami pergeseran sesuai dengan pola pergeseran yang terjadi lebih awal. Berdasarkan bentuk-bentuk dari pergeseran yang terjadi di pesantren, maka dapat diketahui bebarapa faktor yang menyebabkan pergesaran pesantren, yaitu sebagai berikut :

1. Faktor Intern

Faktor intern pesantren adalah faktor yang datang dari dalam pesantren itu sendiri yang berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Di antara kelemahan-kelemahan pesantren yaitu; pertama, pola kepemimpinan pesantren yang masih terpola dengan kepemimpinan yang sentralistik dan hirarkis yang terpusat pada satu orang kyai, sehingga hitam-putihnya pesantren sangat ditentukan oleh figur sang kyai. Kedua, bidang metodologis yang kurang adanya improvasisasi, sehingga hanya melahirkan penumpukan keilmuan. Ketiga, terjadinya disorientasi, yaitu pesantren kehilangan kemampuan mendifisinikan dan memposisikan dirinya di tengah realitas sosial yang saat ini sedang mengalami perubahan yang sangat cepat.

2. Faktor Ekstern

Faktor ekstern yang mempengaruhi pergeseran pesantren, di antaranya adalah : semakin cepatnya arus informasi dan teknologi globalisasi, peraturan dan kebijakan pemerintah Indonaesia yang menerapkan sistem pendidikan formal (salah satunya kebijakan wajib belajar sembilan tahun), dan keberhasilan ilmu pengetahuan yang berparadigma positivisme, serta perubahan sosiokultur masyarakat dari idealis menjadi pola pragmatisme.
Implikasi logis pergeseran paradigma pesantren dari paradigma tasawuf keparadigma fiqih adalah bterjadinya pergeseran budaya dan orientasi pesantren yang berkarakteristik legalitas, justifikatis yang berorientasi serba hukum syar’I atau fiqih Islam dalam logika “al-Ahkam al-Khamsah” (lima prinsip hukum) yaitu, wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah, sehingga melahirkan kaca mata hitam putih dan klaim penyesatan pada sesuatu yang berada di luar syar’i. Selain itu, dampak lain yang akan ditimbulkannya adalah pesantren berada di menara gading, elitis, jauh dari realitas sosial. Problem sosialisasi dan aktualisasi ini ditambah lagi dengan problem keilmuan, yaitu terjadi kesenjangan, alienasi dan deferensiasi antara keilmuan pesantren dengan realitas sosial. Performa elitis yang ditampikan oleh dunia pesantren seakan semakin menjauhkan pesantren dengan basis primordialnya, yaitu warga masyarakat. Sehingga muncul rasa rendahnya rasa memiliki masyarakat terhadap pesantren, dan sebaliknya, pesantren tidak lagi merasa menjadi bagian milik masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

A’la, Abdul. Pembaruan Pesantren. Yogyakarta : El-Kis, cet. 1, 2006.

Badan Pembina Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo. Tiga Tokoh Lirboyo, Kediri: BPK-P2L, 2002

Baharuddin dan Makin, Moh. Pendidikan Humanistik. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2007.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, 1996.

Farhan, Hamdan dan Syarifuddin. Titik Tengkar Pesantren; Resolusi Konflik Masyarakat Pesantren. Yogyakarta : Pilar Media, cet. II, 2005.

Fathoni, Abdul Halim. Wajah Baru Pesantren Antara Formalis dan Indeginousitas, (www.Pesantren., 28 August 2007) Tanggal akses 21 Juni 2008.

Haedari, Amin. Panorama Pesantren dalam Cakrawala Modern. Jakarta : Diva Pustaka, 2004.

MHM P2L. HSPK Hasil Sidang Panitia Kecil. Kediri: MHM P2L (Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo, 2007.

Leonard Lewisohn, et. al. Warisan Sufi Persia Abad Pertengahan (1150-1500), Terjemahan oleh Ade Alimah, dkk. Jakarta: Pustaka Sufi, 2003.

Mas’ud, Abdurrahman. Intelektual Pesantren ; Perhelatan Agama dan Tradisi. Yogyakarta : El-Kis, 2004.

Maleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2000.

Muslih, Muhammad. Filsafat Ilmu; Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Belukar, 2006.

Nafi’, Dian, M. Praksis Pembelajaran Pesantren. Yogyakarta : El-Kis, disadur dari ITD, Cet. 1, 2007.

Nasir, Haedar. Gerakan Islam Syari’at. Jakarta : PSAP, 2007.

Qomar, Mujamil. Epistemologi Pendidikan Islam. Jakarta : Erlangga, tt.

Priatna, Tedi, Ed. Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung : Mimbar Pustaka, 2004.

Rahardjo, Mudjia, Ed. Quo Vadis Pendidikan Islam: Membaca Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan. Malang : UIN-Malang Press, 2006.

Saifuddin, Ahmad Fedyani. Antropologi Kontemporer ; Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta : Kencana, Edisi I, 2006.

Salim, Agus. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta : Tiara Wacana, 2006

Suhartono, Suparlan. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta : Ar-Ruzz, 2006.

Susetyo, Benny. Politik Pendidikan Penguasa. Yogyakarta : Elkis, 2005.

Tim Pena. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakaeta : Gramedia Press, tt

Wahid, Abdul Rahman. Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat. Jakarta : Kompas, 2007.

Wahid, Hasym, dkk. Pesantren Global; Konsep Dasar dan Pedoman Pelaksanaan. Hasil Seminar dan Loka Karya Nasional KMNU, PP Mamba’ul Ulum, Nganjuk, 4-7 Mei 2006.

Wahid, Marzuki, dkk, Ed. Pesantren Masa Depan; Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren. Bandung : Pustaka Hidayah, 1999.
[1] Benny Susetyo, Politik Pendidikan Penguasa. (Yogyakarta : Elkis, 2005).

[2] Positivisme adalah salah satu aliran dalam filsafat yang meyakini bahwa semua yang ada bisa diukur melalui matematis, sehingga terkesan skuler, empiris, serta bebas nilai. (Wahid, dkk. Pesantren Global)

[3] Hasym Wahid, dkk., Pesantren Global; Konsep Dasar dan Pedoman Pelaksanaan. (Hasil Seminar dan Loka Karya Nasional KMNU, PP Mamba’ul Ulum, Nganjuk, 4-7 Mei 2006).

[4] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu; Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta : Belukar, 2006), 93.

[5] Ibid.

[6] Asli dalam arti bahwa pendidikan pesantren adalah pendidikan yang memang berangkat dari gagasan masyarakat Indonesia yang peduli akan makna pentingnya pendidikan pada masa pra penjajah, berbeda dengan pendidikan formal yang memang diberikan bahkan dipaksakan oleh Kolonial Belanda melalui politik etis (politik balas jasa). (Wahid, dkk. Pesantren Global). Menurut Reza Ahmad Zahid, Pesantren sebagai pusat transmisi Islam Nusantara mencerminkan pengaruh asing yang bercampur dengan tradisi lokal yang lebih tua, bahkan lebih jauh melacak sistem pendidikan yang mirip dengan pesantren lebih jauh sebielum Islam, yaitu, Mandala dan Asyrama sebagai tempat pendidikan agama Hindu-Buddha yang berasal dari India Selatan tepatnya Kerala. (Reza Ahmad Zahid, Pengaruh Budaya Lokal terhadap Karakteristik Nuansa Islam Pondok Pesantren, Disampaikan pada Kuliah Akbar Regional, BEM-I IAIT Kediri, 21 Juni 2008)

[7] Wahid, dkk., Pesantren Global; Konsep Dasar dan Pedoman Pelaksanaan.

[8] Mudjia Rahardjo, Ed. Quo Vadis Pendidikan Islam: Membaca Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan. (Malang : UIN-Malang Press, 2006), xxi

[9] Rahardjo, Ed. Quo Vadis Pendidikan Islam: Membaca Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan, xxiii

[10] Baharuddin dan Moh. Makin, Pendidikan Humanistik, (Jakarta : Ar-Ruzz Media, 2007), 176.

[11] Syed M. Naquib Al-Attas, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam. (Bandung : Mizzan, 1998), 163

[12] Ibid., 164.

[13] Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial, (Jakarta : Penamadani, 2003), 171.

[14] Anason, Sejarah Masuknya Islam di Jawa, dalam Darrari Amin (ed), “Islam dan Kebudayaan Jawa”, (Yogyakarta : Gajah Mada, cet. II, 2002), 28.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

[17] Faiqoh, Nyai Agen Perubahan di Pesantren. (Jakarta : Kurcica, 2003), 151.

[18] Ibid.

[19] Amin Haedari. Panorama Pesantren dalam Cakrawala Modern. (Jakarta : Diva Pustaka, 2004).

[20] Gus Dur “Pesantren” : (WWW. Gus Dus Net. Libanon 2002).

[21] Abdurrahman Wahid, Pondok Pesantren Masa Depan, dalam Pesantren Masa Depan : Wacana Pemberdayaan dan Tansformasi Pesantren, (Jakarta : Pustaka Hidayah, 1999). 13

[22] Ibid.,. 14

[23] Wahid, Pondok Pesantren Masa Depan, 16

[24] M. Dian Nafi’ Ed. Praksis Pembelajaran Pesantren (Yogyakarta: El-Kis, 2007), 33.

[25] Wahid, Pondok Pesantren Masa Depan.

[26] Marzuki Wahid,, dkk, Ed. Pesantren Masa Depan; Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren. (Bandung : Pustaka Hidayah, 1999), 201.

[27] Marzuki, dkk, Ed. Pesantren Masa Depan;

[28] Ibid.

[29] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu; Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta : Belukar, 2006),118.

[30] Ibid.

[31] Ibid.

[32] E.G. Singgih, Kuhn dan Küng: Perubahan Paradigma Ilmu dan Dampaknya Terhadap Teologi Kristen. (www.gougle.thomah _kuhn.) 14 juli 2008.

[33] Ibid.

[34] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu

[35] Ibid.

[36] M. Dian Nafi’ dkk. Praksis Pembelajaran Pesantren. (Yogyakarta : El-Kis, 2007), 78.

[37] Ibid.

[38] Ibid.

[39] Haedar Nasir. Gerakan Islam Syari’at. (Jakarta : Psap, 2007). 426.

[40] Ibid., 428

[41] Siti Maryam, dkk. Sejarah Peradaban Islam; Dari Zaman klasik Hingga Modern, (Yogyakarta: Lesfi, 2004), 97.

[42] Jamaludin Malik, Ed. Pemberdayaan Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005).

[43] M. Dian Nafi’. Dkk. Praksis Pembelajaran. 28

[44] Ibid., 29

sumber : http://arifin25.wordpress.com/2010/05/29/pergeseran-paradigma-pesantren/

REFORMASI PENDIDIKAN DALAM PEMBANGUNAN Sangat Pentingnya nilai kebenaran dan kejujuran dalam praktek “Machdar Somadisastra”

Pendidikan, sebagai usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan peserta didik, lahir, tumbuh dan kembang dari, oleh dan untuk masyarakat. Pendidikan merupakan salah satu aspek dari kehidupan yang terkait dengan aspek ekonomi, aspek politik dan spek sosial lainnya yang ketiganya saling pengaruh mempengaruhi.

Selama lebih dari 50 tahun di Negeri tercinta ini telah lahir 3 Undang – Undang Pendidikan yang mengatur pendidikan. Undang – Undang yang ketiga yaitu Undang – Undang No, 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Basional (SISDIKNAS). Dua tahun kemudian disusul dengan Undang – Undang No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan Dosen. Kedua Undang – Undang itu merupakan produk reformasi dalam bidang pendidikan.

Kedua Undang – Undang terakhir menetapkan hal-hal penting diantaranya seperti berikut : pertama : prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan sebagai satu proses pemberdayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung bagi segenap warga masyarakatnya, memberi keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran, kedua : fungsi pendidikan mengembangkan kemauan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, ketiga : pendidikan bertujuan untuk pengembangan potensi peserta didik agar mejadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri dan menajdi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, keempat : pendidikan berlangsung dalam 3 jalur, yaitu : jalur pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal, sedang jenjangnya terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Jenis pendidikannya meliputi pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, keagamaan, dan khusus. Keempat kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan mempertimbangkan : peningkatan iman dan taqwa, peningkatan akhlak mulia, peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik, kewarganegaraan, potensi daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan pembangunan nasional, tuntutan dunia kerja, pembangunan pengetahuan, tekhnologi dan seni, agama, dinamika perkembangan global, peraturan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
Kelima, dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), keenam : kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan Nasional. Sudah barang tentu dengan perundang – undangan yang lebih sempurna, pendidikan di negeri ini diharapkan makin berkembang maju dan makin berfungsi dalam pembangunan Nasional dan pembangunan daerah.

Dari SISDIKNAS mengamanatkan pendidikan sebagai proses pemberdayaan dan pembudayaan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, menajdikan manusia beriman dan bertaqwa dan berakhlak mulia atau aspek efektif disamping aspek kognitif dan aspek psikmotorik. Aspek afektif atau sikap dan nilai-nilai atau aspek moral adalah aspek yang sangat menentukan dari kualitas manusia. Bagaimanapun luasnya pengetahuan dan ketrampilannya yang dimiliki, jika moralnya kurang baik, maka ilmu dan ketrampilannya itu tidak membawa manfaat bagi pemiliknya maupun orang disekitarnya.

Runtuhnya moral dewasa ini terjadi di mana-mana, di berbagai lingkungan sosial, di kota-kota metropolitan, di kota-kota kecil dan di pedesaan. Penganiayaan anak, perdagangan anak, eksploitasi terhadap anak, penganiayaan perempuan, berbagai macam penipuan, berbagai macam kecurangan, berbagai kejahatan dan merebaknya korupsi di berbagai lembaga. Mengapa ini bisa terjadi ?

Kita semua, masyarakat melalaikan internalisasi nilai-nilai kebenaran dan kejujuran. Salah satu contoh yang sekarang sering terjadi dalam keluarga, ayah dan ibu memberitau anaknya yang balita untuk tidak berbohong, suatu ketika datang tamu untuk menagih hutang, anaknya memberi tahu orang tuanya didepan ada tamu. Orang tuanya bilang sama anaknya, katakan ayah dan ibu tidak ada dirumah, anak bingung, ayah dan ibu melarang berbohong, dalam hal ini ayah dan ibu berbohong dan menyurh anak berbohong.

Kebohongan yang menjalar dari orang tua kepada anak, dari anak kepada anak, dari orang tua ke orang tua didalam berbagai lingkungan sosial menyebabkan rusaknya kepercayaan. Bagaimana jadinya jika anak tidak percaya kepada orang tua, orang tua tidak percaya kepada anak, siswa tidak percaya guru. Guru tidak percaya siswa, mahasiswa tidak percaya kepada dosen, dosen tidak percaya kepada mahasiswa, buruh tidak percaya majikan, majikan tidak percaya buruh, pegawai tidak percaya kepada kepala kantor, kepala kantor tidak percaya pada pegawai, rakyat tidak percaya pemerintah, pemerintah tidak percaya rakyat dan anggota masyarakat satu sama lain tidak saling percaya, Pengawasan model apa lagi yang bisa mengatur jika terjadi hal semacam ini ?

Kepada semua orang dewasa di berbagai lingkungan sosial mari kita belajar menepati kebenaran, belajar jujur kepada diri sendiri dan kepada orang lain, setelah itu sosialisasikan dan internalisasikan kebenaran dan kejujuran itu untuk anak-anak. Kegiatan ini mengawal keberhasilan pelaksanaan SISDIKNAS dalam rangka pembangunan bangsa yang bermartabat.

 

sumber : http://bk3sjatim.org/?p=946

Pembangunan dan Pendidikan

Pembangunan dan pendidikan merupakan dua aspek yang saling terkait bagaikan dua sisi mata uang, yang tidak dapat berdiri sendiri tapi dapat dan perlu dibedakan. Pembangunan memerlukan orang-orang/warga negara yang mampu menyelenggarakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan tersebut. Orang-orang yang mampu melaksanakan pembangunan tersebut dapat tercipta melalui pendidikan. Pendidikan, baik dari sisi proses maupun dari sisi sarana dan prasarananya, dapat terwujud dengan baik apabila didukung oleh iklim pembangunan dan kebijakan pembangunan yang baik. Dengan demikian pendidikan yang berkualitas merupakan hasil dari proses pembangunan, dan tercapainya tujuan pembangunan merupakan wujud dari hasil kerja orang-orang yang memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang merupakan hasil dari suatu proses pendidikan. Tidak mengherankan apabila dalam Pembukaan UUD 1945 ditekankan mengenai keinginan kita semua untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas. Masyarakat yang cerdas hanya dapat dihasilkan melalui pendidikan yang berkualitas. Tanpa manusia yang cerdas dan berkualitas, pembangunan tidak akan berjalan dengan baik. Pembangunan hanya dapat terselenggara secara produktif, efektif dan efisien apabila didukung oleh manusia yang berkualitas dan kemampuan profesionalisme yang memadai, serta bermoral menjunjung tinggi nilai etika dan agama. Artinya, kemakmuran bangsa dan negara bukan disebabkan oleh akumulasi harta dan kekayaan melainkan dengan cara membangun lebih banyak tenaga produktif sehingga tercipta kekuatan swadaya bangsa. Indonesia memiliki SDA yang kaya namun dengan kualifikasi mutu SDM yang rendah, bandingkan dengan Jepang yang memiliki SDA yang kurang serta tantangan alam yang berat dengan mutu SDM yang tinggi. Ternyata Jepang sudah tergolong negara industri maju dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi di dunia.

Di Indonesia, pembangunan diperuntukkan bagi seluruh masyarakat (pemerataan) dan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Pembangunan manusia seutuhnya adalah pembangunan yang menekankan tidak saja aspek materil namun juga aspek sprituil/moral. Apabila pembangunan manusia seutuhnya ini terwujud maka akan tercipta suatu bangsa dan negara yang kokoh, bangsa dan negara yang tidak saja mampu bersaing di percaturan dunia, bangsa dan negara yang tidak saja mampu bertahan terhadap ancaman, namun juga menjadi bangsa dan negara yang bermoral.

Tidak dapat dinafikan bahwa pada masa Orde Baru kualitas pendidikan tidak begitu diperhatikan. Memang selama Orde Baru interpretasi pemerataan lebih ditekankan pada kuantitas yaitu bagaimana mendirikan gedung-gedung sekolah sebanyak-banyaknya sehingga setiap warga negara dapat bersekolah, munculah sekolah-sekolah INPRES, walaupun dengan alokasi dana pendidikan yang terbatas, sehingga biaya pendidikan tetap dibebankan pada rakyat, dan belum sampai kepada peningkatan kualitas.

Sayangnya, walaupun dengan alokasi dana pendidikan yang diketahui minim, namun dana tersebut masih sempat dimanipulasi, dikeruk, oleh oknum-oknum birokrasi ”yang tidak bermoral, tidak beretika” yang notabene juga merupakan luaran pendidikan, sehingga yang terbangun adalah gedung-gedung sekolah berkualitas rendah. Akibatnya, pada saat ini, sering kita simak dari media massa bahwa banyak gedung sekolah yang sudah tidak layak, namun dengan terpaksa masih tetap dipergunakan, serta kurangnya sarana penunjang dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

Disamping itu, di masa orde baru (bahkan “mungkin” sampai sekarang) sering kita dengar keluhan para guru, tentang kecilnya gaji mereka dibandingkan dengan beban kerja yang harus mereka laksanakan, sehingga banyak guru yang ber”wirausaha” di luar bahkan menjadi tukang ojek atau lainnya. Fokus perhatian mereka tidak lagi pada bagaimana meningkatkan kualitas anak didik, namun pada bagaimana mereka bisa mencari penghasilan tambahan untuk menghidupi keluarga sekarang dan hari-hari kedepannya. Hal ini diperparah lagi bila terjadi praktek-praktek “sunat” terhadap penghasilan mereka.

Selain itu, dalam dunia kependidikan kita masih terdapat komersialisme. Pendidikan dijadikan ajang bisnis, yang mengakibatkan mutu sumberdaya manusia yang diharapkan dapat berkiprah dalam membangun bangsa menjadi rendah. Masih terdapat fenomena jual beli gelar, jual beli nilai, ada uang bisa sekolah, tidak ada uang tidak bersekolah, ada uang nilai bagus, tidak ada uang nilai pas-pasan.

Fenomena pendidikan pada masa tersebut memberikan gambaran pada kita bahwa betapa sulitnya peningkatan kualitas pendidikan dengan sarana yang terbatas, dana pendidikan yang minim, penghargaan kepada profesi guru yang sangat rendah, dan terbatasnya berbagai sarana penunjang pendidikan lainnya, serta komersialisasi pendidikan tanpa berorientasi mutu. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu syarat mutlak untuk mempercepat terwujudnya masyarakat yang membangun. Bukankah tercapainya pembangunan memerlukan anggota masyarakat yang mandiri dan membangun?

Belajar dari masa lalu oleh karena itu perlu dikaji ulang sistem pendidikan kita, sehingga dapat menghasilkan tenaga-tenaga yang tidak saja produktif, kreatif, kritis dan inovatif namun juga bermoral dan beretika. Para guru sebagai fasilitator atau pengajar perlu ditumbuhkembangkan kemampuannya, perlu dirangsang motivasi, kreativitas inovasinya, perlu ditingkatkan profesionalismenya, sehingga dapat kreatif dan inovatif dalam menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dalam suatu proses pembelajaran, dengan demikian setiap guru akan memiliki kemantapan diri dan kompetensi mengajar. Selama ini yang terjadi adalah terbatasnya upaya dan kegiatan pengembangan diri dan kompetensi dalam konteks pelaksanaan tugas profesi keguruan. Hal inilah yang membuat kualitas pendidikan kita parah seperti sekarang. Di samping hal-hal tersebut, penyebab menurunnya kualitas pendidikan antara lain, rendahnya atmosphere kreatif dikembangkan di lingkungan didik baik di lingkungan kampus/sekolah, maupun di dalam sebuah proses pembelajaran yang difasilitasi oleh guru.

Kurikulum pendidikan perlu dibenahi, perlu dikaji dan disusun ulang dengan meletakkan aspek-aspek IQ, EQ, dan SQ secara proporsional, jangan hanya ditekankan pada satu aspek saja. Dengan demikian, perlu digarisbawahi bahwa pendidikan yang berkualitas bukan hanya pendidikan yang mengembangkan inteligensi akademik tetapi perlu mengembangkan seluruh spektrum potensi manusia.

 

sumber : http://arsury.blogspot.com/2009/02/pembangunan-dan-pendidikan.html

Tips Tahan Lama Bersetubuh

Bagaimana cara menambah ukuran, kekuatan dan stamina untuk ereksi? Tentu ini jadi pertanyaan yang berlangsung terus-menerus bagi kaum pria. Ada perlakukan yang tiada akhir, berbagai obat-obatan juga peralatan, yang mengklaim mampu membantu memompakan volume. Selain itu, beberapa solusi yang berbeda dengan cara menggunakan teknik menahan air juga ditawarkan.

Namun pada kenyataannya, kita diberkati dengan apapun yang telah diberikan Tuhan pada kita. Jadi kita semua boleh berupaya dengan memaksimalkan apa yang telah kita miliki. Berikut kami berikan beberapa tips realistis di bawah ini, dimana ada beberapa usaha yang mesti Anda lakukan agar dapat mendapat ereksi maksimum.

Tips berikut bisa jadi cara mudah saat Anda bercumbu rayu, dan siap melakukan hubungan seks. Dengan perlakukan yang tepat Mr P dapat melakukan penjelajahan, dan Anda bukan hanya sekedar jadi pria yang mampu melakukan ’sekali gerakan.’

Makanan yang Bagus

Menumbuhkan ereksi secara besar-besaran merupakan masalah bagi tubuh Anda. Darah dan horomon menafsirkan nutrisi yang bermanfaat. Jadi nutrisi yang bagus merupakan kunci untuk mendapatkan seks berlipat ganda. Karbohidrat, bermnafaat untuk membangun balok energi, yang esensial. Seksual kita membutuhkan makanan karbohidrat dan beragam dari jenis ini. Pasta dan roti merupakan sumber karbohidrat penuh. Anda juga perlu mengkonsumsi zat besi setiap hari. Zat besi merupakan bahan vital dalam testosterone, cairan air mani dan sperma. Anda dapat menemukan sumber mineral ini dari seafood, kacang polong dan kacang-kacangan. Atau untuk lebih praktisnya Anda dapat membeli suplemen zat besi.

Hidari makan berlebih sebelum melakukan hubungan seks. Jika Anda makan malam berdua, jangan menyantap menu makanan dari daging dan minum anggur plus makanan penutup, setidaknya jika Anda berencana melakukan hubungan seks setelah acara makan malam. Usahan menyantap makanan sejam sebelum melakukan hubungan seks supaya proses pencernaan berjalan dengan sempurna.

Posisi Yang Tepat

Posisi dalam melakukan hubungan seks dimana pihak pria yang berada di atas – seperti posisi missionary dan doggy style – memberikan keuntungan lebih pada pria, lantaran posisi ini memacu aliran darah dan memberikan ereksi yang tahan lama dan kuat. Jadi jangan lakukan posisi dimana wanita di atas pada sesi awal hubungan seksual. Sentakan gravitasinya akan mengeluarkan aliran darah dari ereksi Anda. Posisi wanita diatas juga membuatnya mengendalikan gerakan, jadi juga dan ini bisa membuat pria kehilangan kontrol yang lebih baik pada penetrasi.

Kurangi Kepekaan Agar Tahan Lama

Cara klasik untuk mengurangi kepekaan berlebih adalah menggunakan kondom. Tapi jika Anda tak ingin menggunakan kondom saat melakukan hubungan intim dengan pasangan, Anda dapat mencoba cara lain. Sesekali keluarkan Mr P dari Ms V saat Anda merasa akan mencapai klimaks. Trik ini berguna untuk mengalihkan pikiran Anda sejanak untuk menghindari ejakulasi terlalu awal, namun tak mengurangi kekuatan ereksi.

Atur Pengobatan Yang Sedang Anda Jalani

Pengobatan untuk beberapa penyakit seperti depersi, phobia social, OCD, dan kegelisahan saat ini biasa digunakan oleh doketr. namun, pengobatan semacam ini bisa mengakibatkan sulitnya ereksi. Jika Anda mengkonsumsi obat semacam ini, konsultasikan dengan dokter untuk memastikan Anda tidak mendapat resep berlebih, yang mengakibatkan matinya kehidupan seksual Anda.

Simpan Kekuatan

Jangan membuat diri Anda kelelahan di sesi awal saat melakukan hubungan intim. Terlalu lelah disesi awal dapat mengakibatkan ereksi jadi lembek. Jadi ukur bats kekuatan Anda.

Tak Perlu Gugup

Terlalu gelisah dan gugup justru dapat membuat ereksi Anda melembek. Namun sayangnya, seks seringkali berhubungan dengan hasil yang menggelisahkan, jika itu terkait dengan image tubuh yang negatif. Seperti saat Anda pertama kali melakukan hubungan seksual dengan pasangan, sudah tentu Anda dihantui kegelisahan. Sebaiknya temukan cara untuk membuat diri Anda merasa nyaman jika Anda dihinggapai rasa gugup saat hendak melakukan hubungan seksual.

Latihan

Lakukan latihan perut. Gerakan ini memiliki andil dalam membantu otot perut Anda mempertahankan ereksi. Selain itu, dengan postur tubuh yang bagus percaya diri Anda semakin bertambah. Selian latihan perut, Anda juga bisa melakukan latihan kegel untuk Mr P. Meski hal ini tak terbukti dapat memperbesar ukurannya, tetapi bisa membantu mempertahankan ereksi berlangsung lebih lama.

Jangan Merokok Dan Minum Beralkohol Berlebih

Merokok membuat sirkulasi darah jadi buruk, dan saat Anda ingin melakukan hubungan seksual, sangat dibutuhkan aliran darah yang lancar. Jadi jika Anda ingin kehidupan seks yang selalu panas, ini sebuah alasan kuat untuk menghentikan kebiasaan merokok. Minum minuman beralkohol terlalu banyak juga berpengaruh pada prostate Anda.

http://r0ch4.wordpress.com/2008/12/04/tips-tahan-lama-bersetubuh/#more-141

3 Gaya Bercinta Terpanas

Kepuasan sex tak pelak menjadi sebuah kebutuhan yang dibilang penting bagi sebagian orang dan bisa, dibilang tidak penting juga bagi sebagian orang asalkan ada rasa cinta. Namun kenyataan menunjukkan banyak rumah tangga berantakan karena masalah kepuasan sex yang tidak tercapai. Kepuasan sex setidaknya dipengaruhi oleh kondisi fisik dan psikis dari masing masing orang. Namun sekalipun stamina dan psikis seseorang terbilang dalam keadaan yang prima, gaya bercinta juga akan sangat menentukan tingkat kepuasan sex yang bisa dicapai. Variasi gaya bercinta dalam hubungan sex selain mampu memberikan suasana yang berbeda, beberapa variasi gaya bercinta juga mampu memberikan stimulus atau rangsangan yang lebih baik bagi para pasangan untuk mencapai kepuasan sex bersama. Berikut ini 3 gaya bercinta terpanas yang mampu memberikan sensasi ruarrrr biasaaaa : Gaya bercinta Dok-al-Arz Gaya bercinta yang paling terkenal di Arab sejak awal tahun 1400-an. Gaya bercinta ini cocok buat anda selalu ingin on and on. Gaya bercinta Dok-al-Arz dapat anda lakukan dengan duduk di pinggir tempat tidur, dengan kedua kaki berpijak pada lantai. Lalu posisikan pasangan anda berdiri menghadap anda dan jangan lupa untuk terus memberikan ciuman penuh cinta dan kasih sayang. Ajarkan wanita anda untuk melakukan penetrasi dengan terus memberikan mencium sambil melingkarkan kaki di pinggang anda. Untuk posisi sex Dok-al-Arz ini biarkan pasangan anda mendominasi permainan. Variasi gaya sex ini memberikan rangsangan lebih pada klitoris dan G-spot, bahkan sampai bagian T-zone yang berada di balik dubur pasangan anda. Gaya Bercinta Kepiting Anda dan pasangan wanita dapat bercinta bagaikan kepiting dalam posisi tidur berbaring dan saling berhadapan. Anda dapat melakukan penetrasi di antara kedua kaki pasangan anda. Lalu posisikan salah satu kaki pasangan anda secara melintang mendominasi salah satu paha anda. Gaya sex ini memungkinkan anda melakukan penetrasi mendalam dan memberikan rangsangan lebih pada klitoris pasangan. Gaya Bercinta Kuda Gaya ini sangat favorit dibandingkan dengan gaya seks Tao. Hebatnya, gaya bercinta ini mampu memberikan ereksi maksimum pada pihak pria, dan pihak wanita mendapat penetrasi yang lebih mendalam, serta stimulasi pada G-spot, demikian juga dengan T-zone. Untuk memaksimalkan gaya bercinta ini, biarkan pasangan anda berbaring santai di tempat tidur yang tinggi atau meja, sedangkan anda dalam posisi berdiri. Lalu pasangan anda diposisikan mengangkang serta mengangkat lutut hingga ke dada, sementara pria melakukan penetrasi. Gaya Bercinta Kuda ini bisa dibilang merupakan pengembangan dari gaya sex missioary.

http://bilah9.blogspot.com/2010/02/3-gaya-bercinta-terpanas.html

 

 

bahaya berciuman

Jangan keburu grusa-grusu dulu. Kalimat di atas bukan judul sekuel kedua film Buruan Cium Gue yang dikoyak-koyak dari peredaran beberapa waktu lalu. Melainkan sari berita baik dan buruk tentang dunia cium-mencium.

Boleh percaya boleh tidak, fakta di balik ciuman ternyata lebih bikin deg-degan ketimbang fimnya!

Berita baiknya dulu, silakan catat, ciuman bisa membuat pelakunya lebih sehat, secara fisik maupun psikis. Artinya, di samping untuk memuaskan hasrat, ciuman memang punya manfaat nyata. Tapi, ada tapinya lo, ciuman itu ternyata bisa juga menjadi vektor (perantara) menularnya penyakit-penyakit tertentu. Yang kalau disepelekan, dampaknya bisa menyeramkan.

Bahaya pakai lidah
Ciuman, apa pun gayanya, tentu melibatkan kontak bibir. Kecuali ciuman jarak jauh, atau cium kangen yang dititipkan pada surat cinta atau angin puting beliung.

Saat kontak bibir itulah, proses penularan sejumlah penyakit sangat mungkin terjadi. Memang prosesnya tidak bisa disamaratakan untuk semua penyakit. Namun, tetap saja harus membuat siapa pun orangnya, berhati-hati sebelum mencium.

Misalnya, saat mencium orang yang riwayat kesehatannya belum diketahui secara pasti, seperti pacar baru, calon pacar, kenalan di bioskop, teman lama yang telah 15 tahun tak bertemu, dan sejenisnya. Kalau nekat, apalagi dilakukan di depan umum, bukan cuma da’i kondang Aa Gym yang bakal tidak setuju, drg. Sunarso B., M.Sc., ahli mikrobilogi oral dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pun geleng-geleng kepala.

Menurut Sunarso, penularan penyakit lewat ciuman memang kerap ditanyakan awam. Pertanyaan yang paling sering diajukan, apakah ciuman bisa menularkan virus HIV/AIDS? Masih kata Sunarso, hingga saat ini kalangan dokter baru meyakini empat media penularan HIV/AIDS. Yakni lewat hubungan seksual (heteroseksual maupun homoseksual), tranfusi
darah, pemakaian jarum suntik secara bersama-sama, dan lewat plasenta (dari ibu ke bayi yang dikandung).

Transmisi HIV lewat ciuman sampai saat ini belum bisa dibuktikan. Barangkali, karena jumlah virus HIV di dalam air ludah relatif lebih kecil ketimbang di dalam darah, air mani, atau cairan vagina. Selain itu, air ludah mengandung bahan-bahan penghambat pertumbuhan mikroorganisme, seperti enzim lisosim dan laktoperosidase, serta sekretori imunoglobulin-A. Sebab lainnya, virus HIV hanya bermarkas di dalam sel limfosit-T, yang daerah kekuasaannya ada di dalam darah.

Menurut Sunarso, jika ciuman hanya berupa cipok, ciuman ringan, kecupan sayang, cium kening, pipi, atau bibir luar saja, HIV diyakini tidak menular. Tetapi jika aksinya menjurus pada french kissing yang penuh birahi dan menyertakan lidah sebagai faktor penambah nikmat, sehingga terjadi pertukaran cairan mulut, maka bisa saja HIV bermigrasi. Lebih-lebih jika terdapat luka di mulut, baik berupa lecet ringan, seriawan, maupun radang.

Celakanya, keberadaan luka kadang tidak disadari. Bisa karena begitu kecil, sehingga tidak dirasa sama sekali. Namun, karena ukuran virus atau bakteri jauh lebih renik, maka luka sekecil apa pun tetap bisa menjadi jalan masuk bagi makhluk-makhluk tak kasat mata telanjang ini.

Di luar HIV, masib ada sederet lagi penyakit infeksi yang bisa menular lewat french hissing. Dari deretan virus, misalnya, terdapat hepatitis (A, B, maupun C), dan herpes labialis. Balikan menurut Sunarso, keduanya memiliki risiko penularan lebih tinggi daripada HIV. Dari kelompok bakteri, ada sifilis, gonore (GO), dan tuberkulosis. Sedangkan dari kelas jamur ada Candida albicans.

Romantis tapi mematikan
Umumnya penyakit yang menular lewat ciuman adalah penyakit menular seksual (PMS) yang disebabkan infeksi.

Hal ini wajar, karena makhluk-makhluk “halus” itu memang suka sekali keluyuran dari satu korban ke korban lain dengan cara menumpang cairan tubuh. Namun, meski tak ada riwayat infeksi, setiap orang tetap harus berhati-hati, terutama mereka yang alergi terhadap makanan tertentu.

David Steensma, dokter ahli hematologi di RS Mayo Clinic, Amerika Serikat, pernah melaporkan sebuah kasus unik.

Dia menangani seorang wanita muda (20 tahun) yang masuk instalasi rawat darurat akibat terlalu hot berciuman, dan jelas bukan sembarang ciuman. Ternyata, satu jam sebelum masuk rumah sakit, si cewek mendapat kado dari kekasihnya.Kadonya begitu istimewa, ciuman selamat malam yang sangat menggairahkan.

Namun, selang satu menit kemudian, muncul reaksi alergi di bibirnya, yang makin lama makin parah. Disusul kulit memerah, perut kram, tenggorokan bengkak, dan saluran napas menyempit sehingga dia susah bernapas. Kepada Steensma, si cewek mengaku punya riwayat alergi udang dan kerang-kerangan. Usut punya usut akhirnya ketahuan, ciuman fantastis itulah biang keladinya. Karena “kado mematikan” itu dihadiahkan kurang dari satu jam setelah si cowok makan udang.

Lewat kontak mulut, bahan alergen dari udang tampaknya ngelencer dari mulut si cowok ke mulut pacarnya. Kasus ini sekaligus membuktikan, pengidap alergi makanan wajib waspada tidak hanya terhadap apa yang dimakan, tapi juga berhati-hati terhadap orang yang menciumnya. Kecuali memang ingin berurusan dengan selang infus rumah sakit.

Namun, seperti dibilang Bryant Stamford, Ph.D., profesor dan direktur Health Promotion Center di University of Louisville, dampak ciuman tak 100% menakutkan. Soalnya, pada saat melakukan ciuman, kecepatan metabolisme meningkat dua kali lipat. Artinya, pembakaran kalori juga meningkat. Meski demikian, Stamford mengingatkan, ciuman belum cukup dijadikan sebagai pengganti joging atau olahraga kardiovaskuler lainnya. “Semua hal bisa mempercepat detak jantung. Itu hanya masalah adrenalin,” tandasnya.

Sementana Joy Davidson, Ph.D., psikolog dan seksolog di Seattle mengatakan, “Ciuman adalah meditasi sensual yang bisa meredakan ketegangan pikiran.” Ketika seseorang melakukannya dengan orang yang ia cintai, suami atau istrinya, tubuhnya akan mengalami perubahan fisiologis yang mirip ketika melakukan meditasi. Jika dilakukan secara rutin, tradisi sun sing suwe yang dilandasi kasih sayang bisa membuat pelakunya lebih berdaya tahan, awet muda, dan panjang umur.

 

http://arikbliz.multiply.com/journal/item/129

« Previous entries
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.