PEMBELAJARAN BIOLOGI YANG BERBASIS IMTAQ DENGAN PENDEKATAN INTEGRATIF (SCIENCE, ENVIORENMENT ,SOCIETY,TECHNOLOGY AND RELIGION) Oleh Agus Wasisto Dwi DDW,MPd (WIDYAISWARA LPMP DIY)

Pendahuluan

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta perada­ban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, keatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jika mengacu pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut jelas sekali bahwa peran nilai-nilai agama menjadi sangat penting dalam setiap proses pendidikan yang terjadi di sekolah. Karena terbentuknya manusia yang beriman dan bertaqwa serta ber­akhlak mulia tidak mungkin terbentuk tanpa peran dari agama.

Peningkatan keimanan dan ketaqwaan siswa sesuai dengan tujuan penfidikan nasional tersebut bisa dilakukan melalui mata pelajaran, kegiatan ekstra kurikuler, pen ciptaan situasi yang kondusif maupun kerjasama sekolah dengan orang tua dan masyarakat.

Peningkatan irnan dan taqwa melalui mata pelajaran dilakukan oleh guru yaitu dengan cara mengkaitkan nilai-nilai Imtaq dan Iptek dalam pembelajaran tanpa mengubah kurikulum yang.

Keberhasilan siswa dalam belajar yang bisa meningkatkan Imtaq sangat dipengaruhi oleh kondisi internal siswa maupun faktor eksternal siswa. Salah satu faktor eksternal yang ikut berpe­ngaruh atas keberhasilan siswa dalam memahami suatu topik pembelajaran yang berasal dari guru adalah kemampuan guru dalam memilih metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat sehingga nilai-nilai Imtaq bisa mewarnai dalam pembelaja­ran tersebut.

Dalam suatu proses pembelajaran tidak ada suatu pendekatan pembelajaran yang tepat untuk semua topik dan semua situasi, oleh karena itu guru dalam menentukan metode dan pendeka­tan pembelajaran apa yang harus dipilih harus senantiasa mem­perhatikan kondisi siswa, sarana prasarana yang ada maupun mated pembelajaran apa yang akan dibahas.

Begitu juga di setiap sekolah tidak semua siswa mempunyai latar belakang sosiai budaya, ekonomi, agama serta motivasi yang sama dalarn setiap’belajarnya, kondisi ini mengharuskan setiap guru memahami karakteristik dari siswa atau kelas yang dihadapi jika ingin proses pembelajarannya bisa berhasil.

Kondisi yang berbeda-beda tentang latar belakang kemampu­an, ekonomi, sosial budaya, agama dan motivasi siswa tersebut dalam belajar, bisa terlihat dari prestasi belajar yang dicapai, akhlak, budi pekerti clan perilaku siswa yang ditunjukkan oleh siswa-siswa dalam kehidupannya sehari-hari

Permasalahan yang muncul adalah: Bagaimana integrasi materi pelajaran dan nilai-nilai agama Islam dalam penibelajaran? Dan Pendekatan pembelajaran apa yang kiranya sesuai dengan materi pembelajaran? `perta nilai-nilai Imtaq apa saja yang bisa dikem­bangkan dalarr: pembelajaran tersebut ? Itulah beberapa persolan yang akan ditelaah dalam artikel ini.

 

Pengintegrasian nilai-nilai agama Islam dalam pembelajaran Biologi pada pokok bahasan  Ekologi.

Munculnya ilmu tentang ekologi merupakan hasil kajian dari berbagai fenomena alam sendiri yang teratur (sunatullah). Ketera­turan yang ada di alam membuat manusia bisa membuat prediksi-­prediksi tentang apa yang akan terjadi berdasarkan pada fakta-fakta yang ada, sehingga manusia bisa membuat antisipasi -antisipasi, Keteraturan­-ketraturan yang ada di alam ini merupakan bukti bahwa alam ini tidak terjadi dengan sendirinya dan tanpa tujuan, tetapi jelas diciptakan oleh Dzat yang Maha Kuasa dengan tujuan clan maksud tertentu, sehingga kita manusia wajib mensyukurinya.

Petunjuk-petunjuk tentang gejala alam yang teratur dan seimbang itu bagi kita dapat, mentafakuri ke Esaan sang Pencipta, sehingga mampu meningkatkan keimanan dan Ketaqawaan kepadaNya.

Alam semesta beserta isinya diserahkan sepenuhnya untuk dipelihara dan dimanfaatkan untuk keperluan hidup manusia secara bijak agar kita bisa melaksa­nakan amanah Allah dengan sebaik-baiknya.

Pada dasarnya setiap pokok bahasan dalam Ekologi bisa diintegrasikan dengan nilai-nilai agama Islam, untuk menambah keimanan, dan ketaqwaan siswa, terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Ternyata berdasarkan hasil pengamatan, kajian dan evaluasi yang penulis lakukan sewaktu masih menjadi guru ternyata pembelajaran yang menggunakan pendekatan integratif ini mempu­nyai pengaruh yang baik terhadap prestasi belajar, motivasi, perilaku dan sikap siswa.

Sebagai contoh nilai-nilai agama Islam yang bisa diintegrasikan pada pokok bahasan ekologi pada mata pelajaran  biologi. Dalam perspektif ekologi,  lingkungan hidup mencakup segala sesuatu yang ada disekitar kita yang terdiri dari faktor biotik dan abiotik serta budaya manusia.

Realitas menunjukkan bahwa makhluk hidup tidak dapat hidup sendiri-sendiri, ada saling ketergan­tungan antara makhluk hidup dengan sesamanya maupun dengan lingkungannya. Di samping itu bahwa aktifitas makhluk hidup termasuk manusia ternyata sangat dipengaruhi dan mempengaruhi terhadap lingkungan tempat hidupnya baik lingkungan abiotik maupun biotik. Sebagai contoh penulis mengintegrasikan nilai imtaq ke dalam materi lingkungan dalam suatu proses pembelajaran.

Lingkungan abiotik, yang meliputi segala sesuatu yang tidak hidup yang berupa benda mati yang secara tidak langsung terkaait pada keberadaan hidup, seperti air, tanah, cahaya, kelembaban, udara, pH, keadaan tanah tempat mahkluk hidup berada.

Air merupakan komponen utama yang sangat diperlukan oleln makhluk hidup, tanpa air tidak akan ada kehidupan. Air sebagai sumber kehidupan utama bagi kehidupan makhluk hidup, dijelaskan Allah pada al-Quran Surat al-Jatsiyah ayat 5, yang artinya: “Dan pada pergantian malam dan stang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkannya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda­tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. “. (QS. al-Jatsiyah [45 ) : 5)

Tanah menjadikan tempat tinggal sebagian besar makhluk hidup, peranan tanah sebagai lingkungan hidup sangat menentu­kan, Allah berfirman d~alam Surat al-Hijr ayat 19 yang artinya: “Dan kami telah mengham-parkan bumi dan mEnjadikan padanya gunung­gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Hijr [ 151: 19)

Dan juga diterangkan oleh Allah bagaimana fungsi tanah bagi kehidupan seperti yang terdapat dalam firman Allah yang artinya: “Dan tanah yang baik, tanaman­tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; clan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya

tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran Kami bagi orang-orang yang bersyukur”. (QS. al-A’Raf [7] : 58)

Angin, merupakan udara yang bergerak terjadi karena perbedaan tekanan udara, adanya angin menjadi tanda akan adanya hujan, dimana air hujan menj adi sesuatu yang sangat penting bagi mahkluk hidup, disamping itu angin akan mempengaruhi kehidupan teru­tama untuk tumbuh-tumbuhan yang sangat penting dalam penyer­bukan sehingga dapat mempertahan­kan kelangsungan hidupnya, dan selain itu angin dapat membantu dalam penyebaran organisme.

Adanya angin j uga akan menga­_tur suhu udara, kelembaban udara, terj adinya hujan seperti apa yang ada pada firman Allah yang artinya “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah­celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dilcehendakiNya tiba-tiba mereka menjadi gembira”. ( QS. ar­Rum [301:48)

Cahaya, merupakan sumber energi bagi kehidupan di bumi, dengan proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan maka cahaya matahari ini akan diubah menjadi energi yang tersimpan dalam senyawa kimia. Senyawa

kimia hasil fotosintesis (karbohi­drat) inilah yang nanti dij adikan sebagi sumber energi dan makanan bagi organisme hidup. Apal:ah yang akan terj adi bila matahari tidak lagi memancarkan cahaya ? Tentunya akan terjadi malapetaka yang sangat hebat di permukaan bumi ini, maka perlu kita renungkan firman Allah SWT dalam al- Qur’an surat at-Takwir ayat 1 yang artinya “Apabila matahari telah digulung ( hiiang cahayanya) “. (QS. At-Taqwir [81]:1).

Dan juga dalam firman Allah dijelaskan begitu pentingnya matahari bagi kehidupan, yang artinya “Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari) “. (QS. an-Naba’ [?8]: 13), “Dan Kami( Allah) telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, da.n (kami menciptakan pula) makhluk yang kamu sekali-kali bukan, pemberi rezeki.” (QS. al-Hijr [15]:20).

Sedangkan lingkungan biotik, secara garis besar meliputi mikro­organisme, tumbuhan, hewan dan manusia.

Mikroorganisme, merupakan jasad makhluk kecil yang berperan penting sebagai jembatan hubungan antara lingkungan biotik dengan abiotik. Keanekaragaman makh­luk hidup yang di ada di bumi ini, sesuai dengan firman Allah yang artinya : “Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak

menurunkannycz melainkan dengan ukuran yang tertentu”. (QS. al-Hijr [15): 21)

Tumbuhan, merupakan makh­luk yang menyediakan sumber makanan dan oksigen bagi makhluk hidup yang lain misalnya manusia, hewan maupun mikroor­ganisme karena kemampuannya bisa meiakukan fotosintesis. Firman Allah dalam al-Qu’ran yang artinya “Dan Kami turunkan air yang banyak tercurah. Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji­bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat “. (QS an­Naba’ [781: 14-16).

Adanya interaksi yang kompleks antara organisme hidup (biotik) dan abiotik dengan lingkungan­nya menunjukkan bahwa di alam ini antara makhluk hidup (biotik) dengan benda mati (abiotik) tidak bisa berdiri sendiri tetapi kebera­daannya saling mendukung satu sama lain. Organisme hidup tidak bisa hidup tanpa adanya faktor-faktor abiotik yang ada disekitarnya, begitu juga antara organisme satu dengan organisme yang lain juga saling membutuhkan: misalnya ttimbuhan tidak bisa hidup tanpa air dan canah, hewan dan manusia tidak bisa hidup tanpa ada tumbuhan, tumbuhan r_idak bisa hidup tanpa jasa mikroba sebagai pengurai bahan organik.

Sehingga kalau dicermati, ternyata di dalam ekosistem yang normal akan selalu ditemukan kaidah-kaidah yang akan mengatur keseimbangan ekosistem yang ada di dalam ekosistem, misalnya hahwa di suatu ekosistem itu secara alamiah (homeostatis) akan terkendali, karena di dalamnya akan terjadi interaksi antara seluruh unsur-unsur lingkungan yang saling mempengaruhi dan besifat timbal balik, interaksi tersebut terjadi antara komponen biotik dengan kompo­nen abiotik, komponen biotik dengan komponen biotik maupun komponen abiotik dengan kom­ponen abiotik.

Kaidah ekosistem tergantung dan dapat dipengaruhi oleh faktor tempat, waktu dan masing-masing mencer­minkan sifat-sifat yang khas. Kaidah-kaidah dalam ekosistem tersebut mencerminkan bahwa pada dasarnya alam ini sebetulnya dalam keadaan seimbang dan selaras, ini merupakan bukti kekusaan Allah, sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Mulk ayat 3 yang artinya: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali–ka.li ti.lak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak scimbang. Ivtaka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang idak seimbang”. (QS. al­Mulk [67J: 3).

Ekosistem sebetulnya merupa­kan sistenu yang dinamis yang terdiri dari tcomponen-komponen abiotik dan biotik yang saling berinteraksi. Di dalam ekosistern akan selalu terjadi aliran energi

melalui serangkaian rantai makanan dan siklus hara (siklus biogeokimia yang selalu dalam keadaan seimbang) .

Interkasi antara komponen ekosistem yang meliputi komponen biotik dan komponen abiotik diatas merupakan sunnatullah yang perlu kita pikirkan dan kita syukuri sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Hijr ayat 19 sampai ayat 21 di atas.

Pendekatan Pembelajaran yang Bisa Dikembangkan

Kegiatan pembelajaran IPA khususnya biologi lebih diarahkan kepada kegiatan yang mendorong siswa  belaj ar        aktif.  Dalarn pemilihan pendekatan pembelaja­ran IPA guru selalu mempertim­bangkan tentang fasilitas sekolah yang ada, misalnya laboratorium serta sumber belaj ar lainnya. Ada beberapa pendekatan yang bisa dipertimbangkan dalam melakukan pembelajaran antara lain :1) pendekatan konsep; 2) pendekatan ketrampilan proses; 3) pendekatan pemecahan masalah; 4) pendekatan induktif dan deduktif dan 5) pendekatan lingkungan ( Depag, 1996:81). Disamping pendekatan­pendekatan tersebut ada pendekatan dalam pembelajaran yang cende­rung bersifat integratif dalam memaizdang suatu permasalahan yaitu pendekatan SETS (Science, Environ­ment, Technologi, and Society).

Dalam dunia pendidikan dikenal pendidikan STS (Science, Technologi, and Society) terpisah dengan pendidikan EE (Environ­ment Education). Menurut Binadja (1999) apabila kita membicarakan pendidikan (Science, Technologry, and Society) dan pendidikan Lingku­ngan(Environmental Education) sebagai dua mata pelaj aran terpisah, maka akan terlihat adanya pembahasan materi yang saling tumpang tindih. ‘

Permasalahan yang tampak pada masalah lingkungan yang dibahas di STS, akan dibahas juga pada pendidikan lingkungan. Pada saat yang sama, pendidikan lingkungan j uga membicarakan hakekat iltnu pengetahuan dan penerapan teknologi yang menimbulkan dampak pada lingkungan. Dengan kata lain, dalam praktek penga­jaran, pemberian kedua subjek ini secara terpisah tidaklah efektif. Ini berarti bahwa peserta didik telah membuang waktu dan tenaga karena telah mempelajari sejumlah hal yang sama dua kali. Keduanya dapat digabungkan menj adi satu teknik pendekatan yang integratif yaitu teknik pendekatan SETS (Science, Environment, Technology and Society).

Pada pendekatan pembelaj aran integratif yang penulis gunakan dalam pembelajaran ekologi disini merupakan modifikasi dari pendekatan SETS yang ditambah dengan sudut pandang agama (Religion ), yang penulis gunakan dalam pembelajaran ini adalah sudut pandangan dari agama Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Rosul.

Pendekatan integratif (SETSR) merupakan usaha untuk menjadikan lulusan pendidikan setidaknya tahu tentang atau bahkan menyukai Science dan Technology, perkemba­ngan serta implikasinya terhadap lingkungan, masyarakat, pening­katan keimanan dan ketaqwaan.

Dalam gambar tersebut diatas lingkungan digambarkan sebagai pusat perhatian. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan SETSR memiliki makna pengajaran sains yang dikaitkan dengan unsur lain dalam SETSR, yaitu Teknologi, Lingkungan, masyarakat dan nilai-nilai yang ada pada agama, yang masing-masing unsur tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain, saling berkaitan. Perubahan dazi satu variabel juga akan mempengaruhi perubahan variabel lain.

Pada dasarnya pemikiran SETSR adalah pemikiran yang mendalam tentang keberadaan satu bumi untuk semua, sehingga perhatian utama ditumpukan pada penjagaan pelesta­rian alam untuk menjamin kesta­bilan hidup serta keanekaragaman makhluk yang berada di bumi sebagai karunia Allah SWT yang perlu dijaga dan disyukuri bagai umat manusia.Apabila hubungan tersebut digambarkan sebagai berikut:

 

 

Masyarakat

( Society)

Ilmu (Science)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. SETSR konteks dimana lingkungan menjadi fokus perhatian

 

Kelebihan Pendekatan tntegratif dalam Pembelajaran

Dari pemahaman  penulis  setelah diadakan analisis, ada beberapa hal yang dipandang menjadi kelebihan dari pendekatan integratif dibanding menggunakan pendekatan lain, antara lain: Bisa meningkatkan motivasi belajar siswa; bisa meningkatkan prestasi hasil belaj ar siswa; bisa meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar biologi; pendekatan integratif pada pembelajaran biologi diharapkan  bisa melatih siswa dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan multidisiplin ilmu dan interdisi­pliner, sehingga pemahaman siswa terhadap sesuatu masalah lebih bersifat kompreheinsif. Dengan pendekatan integratif siswa akan dilatih bekerjasama dengan ang­gota kelompok dalam memecah­kan permasalahan.

Beberapa Kendala- kendala yang Dihadapi

Sehingga disamping ada bebe­rapa kelebihan yang bisa  diperoleh dari penggunaan pendeka­tan integratif tersebut, penulis juga memperkirakan beberapa kendala yang perlu dicarikan solusinya yaitu guru harus menguasai juga nilai–nilai agama yang ada dalam a1-Qur’ah; perlu kemampuan ‘tersendiri dalam mengkaitkan antara ayat- ayat suci al-Qur’an dengan pokok bahasan yang akan diajarkan; dalam test sumatif nilai-nilai agama yang terintegrasi tidak dimasukkan dalam soal evaluasi, masih ada anggapan pada guru bahwa integrasi agama dalam mated pembelajaran hanya menambah beban guru; ada anggapan karena tidak semua siswa itu beragama Islam maka kalau yang dikaitkan itu hanya agama Islam sebagian guru maupun siswa menganggap itu tidak adil .

Demikian beberapa kendala yang penulis hadapi selama pembelajaran yang terintegrasi dengan nilai- nilai Imtaq dilak­sanakan. Namun secara prinsip penulis sangat setuju bahwa pembelajaran berbasis Imtaq ini perlu terus senantiasa ditingkatkan.dalam pelaksanaannya.

Kesimpulan Akhir

Berdasarkan pada uraian tersebut diatas penulis menyimpulkan bahwa penggunaan pendekatan integratif (Science, Envioronment, Technology, Society, Religy) dalam pembelaja­ran ekologi pada mata pelajaran biologi, diharapkan bisa meningkatkan motivasi belajar, prestasi belajar; patisipasi, kerjasama dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa.

Namun demikian walaupun penggunaan pendekatan integra­tif datam pembelajaran mempunyai kelebihan-kelebihan. Pendekatan integratif dalam Pembelajarari biologi juga mempunyai beberapa kendala yang perlu dicarikan jalan keluarnya

Oleh karena itu penulis menya­rankan kepada berbagai pihak yang terkait dengan pembelajaran yang berbasis iman dan taqwa misalnya pemerintah, guru, dan siswa perlu adanya kesamaan persepsi bahwa pengintegrasian nilai-nilai imtaq itu penting dalam pembelajaran, dan untuk itu perlunya peningkatan kualitas guru dalam melaksanakan penginte­grasian nilai-nilai agama dalam materi pembelajaran yang akan diaj arkan.

Semoga tulisan ini bisa berman­faat bagi kita semua dalam upaya meningkatkan kualitas pengetahuan dan keimanan para siswa kita. []

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan 7erjemahnya, 1977. JJakarta: PT. Bumi Restu

Binadja, A. 1999. STL( Science Technology Literacy) in the SETS ( Science, Environment, Technology and Society) Perspective. Paper presented in the regional workshop on scientific and technological Ilitercy for all conducted by SEAMEO RECSAM in collaboration with UNESCO and ICASE. Penang.

E. Choeruman,1998, Pendekatan Metode Pengajaran Ilmu Umum yang Islami. Jakarta: Ditjen Bagais Depag RI

Makalah seminar !;,!’-al,a^-ya Nasional, 1999. Hakekat dan tujuan pendirlikan SETS dalam konteks kehidupan dan pendidikan, UNNES, Semarang.

Muhibbin Syah, 19950,. Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Naskah Keterkaitan 10 Mata Pelajaran Di SMU dengan Imtaq, Depdiknas Dikdasmen Bag. Proyek peningkatan wawasan keagamaan Guru Jakarta.

Nugroho, 2003, Menyusun Instrumen Penelitian (makalah) . Dinas P dan K Propinsi Jawa Tengah.

Rodatun Widayati, 1998. Urgensi Penelusuran bakat Keilmuwan Siswa Madra-jah Aliyah. Jakarta: Ditjen Bagais Depag RI

Rosman Yunus dkk, Suplemen Biologi Untuk Peningkatan IM TAQ Siswa SLTA,2003,- Depdiknas Dikdasmen Bag. Pro peningkatanwawasan keagamaan Guru, Jakarta.

Rustono, 2003,. Kaidah Penulisan Artikel makalah (Makcilah.) . Dinas P dan K Propinsi Jawa Tengah

Tim Teknis Kanwil Propinsi Jawa Tengah, 1999. Petunjuk Mekanisme Dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Departemen P dan K Cantor  Wilayah Prop. Jawa Tengah.

Undang-undang No.20 TH 2003 tentang SISDIKNAS, 2003, PT Sinar Grafika.

Vygotsky, L. S. 1978. Mind in society: the development of higher

psychological proceses. Cambridge, MA: Harvard Univ. Press.

Winataputra, Udin S dan Tita Rosita. 1996. Belajar dan Pembelajaran I Modul 6.Jakarta: Karmila UT.

Winkel,WS. 1985. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta:Gramedia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

%d blogger menyukai ini: