Proposal Habibie

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Sains  adalah hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, pengalaman yang lahir melalui proses ilmiah. Tujuan pembelajaran sains khususnya fisika adalah pembelajaran yang diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa belajar aktif baik fisik, mental intelektual dan sosial untuk memahami konsep fisika.

Dalam berfikir kreatif, para siswa hendaknya memiliki keterampilan dan kecakapan yang mencakup kemampuan pemahaman, penalaran, komunikasi serta pemecahan masalah. Apakah dalam belajar  fisika cukup dengan menghafal rumus saja ? tentu tidak. Fisika bukan ilmu yang abstrak, sebab fisika adalah ilmu tentang alam sekitar kita, sehingga dalam mempelajari fisika konsep dasarnya haruslah di mengerti dan di fahami bukan di hafal. Ilmu fisika dibangun dari ide-ide yang mendasar. Misalnya pada pembahasan tentang tekanan pada kelas VIII semester II.

Konsep dasar tekanan di awali dari pembahasan besaran fisika tentang gaya yang telah dibahas pada pokok bahasan sebelumnya. Gaya adalah suatu tarikan atau dorongan yang dikerahkan sebuah benda terhadap benda lain. Sedangkan tekanan didefinisikan sebagai gaya yang bekerja pada satu satuan luas permukaan yang mengalami gaya tekan.

Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 disebutkan bahwa pembahasan kosep tekanan memiliki kompetensi dasar yaitu menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga upaya untuk meningkatkan pemahaman serta penanaman konsep yang benar kepada siswa tentang pokok bahasan tekanan tersebut di perlukan startegi dan metode pembelajaran yang tepat, efektif dan menarik.

Pembelajaran fisika yang tepat, efektif dan menarik adalah pembelajaran dengan menggunakan media / alat peraga sederhana[1]. Pada observasi awal dilakukan di sekolah swasta SMP NU Palangka Raya pada hari sabtu tanggal 25 September 2010, bahwa pembelajaran fisika khususnya pokok bahasan tekanan belum menggunakan  media atau alat peraga sederhana secara optimal untuk meningkatkan pemahaman siswa. Guru yang lebih aktif dalam proses belajar mengajar dan siswa diposisikan sebagai objek.

SMP NU juga belum memiliki laboraturium fisika, sehingga diperlukan alat atau media pembelajaran berupa alat peraga sederhana untuk bereksperemen. Dari hasil observasi awal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian tentang pengaruh penggunaan alat  peraga sederhana untuk meningkatkan prestasi belajar fisika pokok bahasan tekanan pada siswa kelas VIII semester II tahun pelajaran 2011/2012.

  1. Rumusan Penelitian

Berdasarkan latar belakang peneliti maka  rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana pengaruh alat peraga sederhana terhadap  prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP NU Palangka Raya.
  2. Bagaimana aktifitas siswa dalam  proses belajar pengajaran dengan menggunakan alat peraga sederhana. Pada pokok bahasan tekanan siswa kelas VIII SMP NU Palangka Raya.
  3. Bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan alat peraga sederhana.
  4. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Meningkatkan prestasi pelajar siswa pada pokok bahasan tekanan.
  2. Mengetahui aktifitas siswa belajar fisika pada pokok bahasan tekanan.
  3. Mengetahui respon siswa terhadap pengajaran dengan menggunakan alat peraga sederhana.
  4. Kegunaan Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

  1. Siswa akan lebih aktif dalam mengikuti pembelajar fisika dengan menggunakan alat peraga sederhana pokok bahasan tekanan.
  2. Siswa lebih memahami konsep pada pokok bahasan tekanan.
  3. Siswa dapat membuktikan konsep serta prinsip di dalam fisika tentang tekanan melalui praktikum.
  4. Guru memiliki kreatifitas dalam merancang alat peraga sederhana untuk menjelaskan pokok bahasan tekanan.
  5. Definisi Konsep

Penelitian ini memakai beberapa istilah yang memerlukan batasan penelitian, Batasan ini diperelukan agar pembahasan dalam penelitian tidak menyimpang dari konsep masalah yang ada. Istilah yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Alat Peraga Sederhana

Kata kunci dalam memahami alat peraga dalam konteks pembelajaran adalah Nilai Manfaat , dalam arti segala sesuatu  alat yang dapat menunjang keefektifan dan efesiensi penyampaian, pengembangan dan pemahaman informasi atau pesan pembelajaran.  Ada istilah lain dari alat  peraga ini, diantaranya sering disebut sebagai sarana belajar.[2]

  1. Prestasi belajar

Istilah prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasi dan  belajar. Prestasi didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai.[3] Dalam pendapat lain menyebutkan Prestasi menurut kamus besar bahasa indonesia adalah hasil pelajaran yang diperoleh dari kegiatan belajar di sekolah atau perguruan tinggi yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian. Sedangkan menurut Saifuddin Azwar  memberikan pengertian bahwa prestasi yaitu memiliki tujuan mengungkap keberhasilan seseorang dalam belajar.[4] Sedangkan belajar menurut teori behavioristik adalah perubahan tingkah  laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon.[5]

  1. Tekanan

Tekanan dapat didefinisikan sebagai gaya persatuan luas permukaan tempat gaya itu bekerja.[6]

  1. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan dalam penelitian ini di bagi menjadi 5 bagian yang antara lain :

Bab Satu           :     Pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang penelitian di gambarkan secara global penyebab serta alasan-alasan yang memotivasi peneliti untuk melakukan penelitian ini. Kemudian dirumuskan secara sistematis mengenai masalah yang akan diteliti, dilanjutkan dengan tujuan dan kegunaan dari penelitian ini serta definisi konsep untuk mempermudah dalam mengadakan penelitin.

Bab Dua           :     Merupakan metode penelitian yang berisikan pendekatan dan   jenis penelitian ,wilayah penelitian kemudian populasi dan sampel  disertai juga tahap-tahap penelitian ada juga teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan teknik keabsahan data.

Bab Tiga        :        Memaparkan tinjauan pustaka yang menerangkan variabel yang akan diteliti, teori yang akan menjadi dalil atau argumen untuk variabel yang akan diteliti.

Bab Empat     :        Berisi tentang gambaran umum lokasi diadakannya penelitian.

Bab Lima       :        Berisi hasil-hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.[7]

BAB II

METODOLOGI PENELITIAN

  1. Pendekatan Dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Yaitu penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif.[8]

Penelitian ini termasuk jenis penelitian diskriptif yaitu penelitian dilakukan untuk memebrikan gambaran yang lebih detail mengenai ssuatu gejala atau fenomena yang sebenarnya.

  1. Wilayah Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Nahdatul Ulama (NU) Palangka Raya pada semester genap. Alasan mengambil lokasi penelitian di tempat tersebut sebab sekolah belum memiliki laboratorium fisika serta proses belajar mengajar masih menggunakan model lama sehingga mempengaruhi prestasi belajar siswa.

 

  1. Jenis Dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah  Data Primer artinya adalah data yang langsung di peroleh dari sumber data pertama di lokasi penelitian atu objek penelitian.[9] Sedangakan sumber data pada penelitian ini adalah siswa kelas VIII semester II SMP NU Palangka Raya.

  1. Tahap-Tahap Penelitian

Studi Pendahuluan

Studi Pustaka

Kajian SK dan KD

Masalah

Menyusun Instrumen

Menguji Instrumen

Validitas dan Reliabiiltas

Analisa Data

Pendidikan :

PBM

Test

Kesimpulan

  1. Teknik Pengumpulan Data

Sebelum semua data yang diperlukan terkumpul maka perlu adanya teknik atau metode agar dalam  pengumpulan data sesuai dengan apa yang diharapkan. Metode pengumpulan data adalah bagian instrument data yang menentukan berhasil atau  tidaknya suatu  penelitian.[10]

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

  1. Lembar pengamatan aktifitas siswa dalam  proses belajar pengajaran dengan menggunakan alat peraga sederhana.
  2. Instrument tes hasil belajar siswa (THB) berupa tes terulis untuk pengukur sejauh mana pengaruh  penggunaan alat peraga sederhana dalam meningkatkan prestasi belajar siswa berupa soal-soal yang dibuat sesuai dengan kurikulum KTSP 2006 materi pokok bahasan tekanan.
  3. Angket respon siswa, ini digunakan untuk menilai efektifitas pengajaran fisika dengan menggunakan alat peraga sederhana.
  4. Teknik Analisa Data

Analisis dalam penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan penelitian dalam rangka merumuskan kesimpulan.

  1. Data penilaian terhadap pengelolaan belajar dengan menggunakan alat peraga sederhana menggunakan analisis deskriptif. Untuk rata-rata berdasarkan nilai yang diberikan oleh pengamat pada lembar pengamatan.
  2. Respon siswa digambar dengan deskriptif yaitu menggambarkan setiap respon siswa berdasarkan komponen-komponen yang ada pada angket.
  3. Tingkat ketercapaian (TK) tingkat penguasaan hasil belajar siswa setelah pembelajaran dilakukan dengan  menerapkan alat peraga sederhana.

Data yang diolah secara kuantitatif, yaitu memberikan skor sesuai dengan item yang dikerjakan.

  1. Individu

Penilaian tes formatif dilakukan dengan “ percentages correction “ ( hasil yang dicapai siswa dihitung dari jawaban yang benar )  rumusnya adalah sebagai berikut :

x 100

Keterangan :

S = Nilai yang diharapkan/dicari

R = Jumlah skor soal yang dijawab benar

N = Skor maksimum dari tes tersebut[11]

  1. Kelompok

Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompok maka rumus percentile rank (PR) sebagai berikut :

PR =  x 100

Keterangan  :

PR = Percentile rank

SR = Sampel rank

N    = Jumlah siswa[12]

  1. Teknik Keabsahan Data

Data yang diperoleh akan dikatakan absah apabila alat pengumpul data benar-benar valid dan dapat diandalkan dalam mengungkapkan data penelitian. Sebab instrument akan diuji coba dalam mengetahui validitas, reliabilitas, tarap kesukaran dan pembeda.

  1. Validitas

Yaitu suatu alat ukur dikatakan valid, jika alat itu mengukur apa yang harus di ukur oleh alat itu.[13] Untuk menghitung validitas digunakan rumus korelasi biserial, yaitu :

=

Keterangan :

=    koefisien korelasi biserial

=    rerata skor subjek yang menjawab benar butir yang dicari validitasnya.

=    rerata skor soal

=    standard deviasidari skor total

P        =    proporsi yang menjawab benar

Setelah didapat harga   , kemudian di kunsultasikan dengan harga tabel  product moment, dengan harga  , maka butir soal dikatakan valid jika .[14]

  1. Reliabilitas instrument

Sebuah tes dikatakan reliable jika tes tersebut memberikan hasil yang tepat. Jika tes tersebut diberikan pada kesempatan yang lain akan memberikan hasil yang yang relative sama.

Untuk mencari reliabilitas soal bentuk objektif dan soal jawaban singkat digunnakan rumus Kuder dan Richardson, yaitu KR-20 :

[15]

Keterangan :

k    =  banyaknya butir soal

=  varian total

P    =  proporsi siswa yang menjawab soal dengan benar

q    =  proporsi siswa yang menjawab soal dengan salah

Dengn klasifikasi indeks kesukaran sebagai berikut :

  1. Soal dengan P 0,00 – 0,30 termasuk soal sukar
  2. Soal dengan P 0,30 – 0,70 adalah soal sedang
  3. Soal dengan P 0,70 – 1,00 adalah soal mudah
  4. Daya pembeda (DP)

Daya beda soal adalah kemampuan suaatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.

Untuk menghitung daya pembeda digunakan rumus :

[16]

Keterangan :

D   =    daya pembeda

J     =    jumlah peserta tes

JA  =    banyaknya peserta kelompok atas

BA      =    banyaknya peserta kelompok bawah

BB =    banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar

PA =  proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar

PB =  proporsi peserta kelompok yang menjawab benar

Klasifikasi daya pembeda :

k    =  banyaknya butir soal atau butir pertanyaan

M   =  skor rata-rata

Vt  =  varians total

kriteria reliabilitas :

0,00 < r < 0,20      sangat rendah

0,20 < r < 0,40      rendah

0,40 < r < 0,60      sedang

0,60 < r < 0,80      tinggi

0,80 < r < 1,00      sangat tinggi.

  1. Tingkat kesukaran (TK)

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau terlalu sukar. Bilangan yang menunjukan sukar atau mudahnya suatu soal disebut kesukaran.

Dalam mencari tingkat kesukaran dihitung dengan rumus sebagai berikut :   [17]

Keterangan :

P          =  indeks kesukaran

B         =  banyaknya siswa yang menjawab soal dengan betul

=  jumlah selurus siswa peserta tes

Dengan klasifikasi indeks kesukaran sebagai berikut :

Soal dengan P 0,00 – 0,30 adalah soal sukar

Soal dengan P 0,30 –  0,70 adalah soal sedang

Soal dengan P 0,70 –  1,00 adalah soal mudah.


[5] Asri Budiningsih, Belajar & Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005, h. 20

[6] Marthen Kangenan, IPA FISIKA, Jakarta: Erlangga, 2006,h. 92

[7] STAIN Palangkaraya, Pedoman Penulisan Skripsi, Palangkaraya: STAIN Palangkaraya Press, 2007.

[9] Burhan Bungin, Metodelogi Penelitian Kuantitatif, Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik serta ilmu-ilmu social lainnya, Jakarta: Kencana Prenada Media Goup, 2005, h. 122

[10] Burhan Bungin, Metodelogi Penelitian Kuantitatif, Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik serta ilmu-ilmu social lainnya, Jakarta: Kencana Prenada Media Goup, 2005, h. 123

[11] Nana Sudjana, dkk, Dasar-dasar Penilaian hasil Belajar, Jakarta : serajaya. 1982, h. 94

[12] Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, 1999. 263

[13] Nasotion, Metode Research (penelitian Ilmiah),Jakarta: Bumi Aksara, 2004,h. 74.

[14] Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, 1999. 79

[15] Ibid. H. 100

[16] Ibid. h. 213

[17] Ibid. h. 208

%d blogger menyukai ini: