SEPINTAS MASUKNYA ISLAM DI BORNEO

Borneo atau Kalimantan merupakan pulau nomor tiga terbesar di dunia, sebuah pulau yang berada di tengah nusantara, luasnya 940.000 km persegi, sebagian besar yakni 736.000 km persegi milik RI, selebihnya milik Malaysia dan Brunai Darussalam (Saifuddin Zuhri, 1981:384). Luas dan posisi itu menggambarkan Borneo merupakan pulau yang memiliki potensi yang besar, tidak hanya dalam persoalan politik tetapi juga dalam sosial budaya.

Sebelum datangnya Islam, Borneo berada di bawah pengaruh Hindu-Budha. Seorang pengamat sejarah Kalimantan, Arthum Artha mencatat bahwa daerah Kutai (Kalimantan Timur) merupakan tempat mula-mula kedatangan agama Hindu. Daerah tersebut ialah Muarakaman di tepi sungai Mahakam. Disana pernah memerintah seorang raja Hindu bernama Asywarman dan anaknya Mulawarman yang memerintah sekitar tahun 400 SM. Hal itu dibuktikan oleh petilasan berupa tulisan dengan huruf pallawa seperti yang terdapat di India Selatan, Campa dan lain-lain daerah.

Pengaruh Hindu tersebut merembes ke utara memasuki daerah Kiliwon (yang kemudian dikenal sebagai Kinibalu dan Brunai), keduanya terletak di Kalimantan sebelah utara. Hal ini diperkuat oleh tulisan Zunaidah Zainon (Blog Achive, 26 Mei 2006:1), bahwa replika stupa yang ditempatkan di Pusat Sejarah Brunai menjelaskan mengenai agama Hindu-Budha pada suatu masa dahulu pernah menjadi anutan penduduk Brunai. Selanjutnya dari Kalimantan Timur, pengaruh Hindu memasuki Kalimantan Selatan. Dari Kalimantan Selatan lazimnya masuk ke Kalimantan Tengah dan Barat.

Secara umum ada empat besar suku yang mendiami pulau ini : Suku Banjar (Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur); suku Melayu (Kalimantan Barat, Borneo Bagian Malaysia dan Brunai); suku Bugis (Kalimantan Timur, Selatan dan Barat); suku Dayak yang tersebar hampir di seluruh pulau Borneo). Seiring dengan sebagian penduduk yang mendiami Borneo adalah Suku Dayak, umumnya mereka menganut kepercayaan animisme dan dinamisme yang sering disebut Kaharingan yang tersebar di wilayah Kalimantan Selatan, Tengah, Timur, Barat, pedalaman Serawak, Sabah maupun Brunai. Menurut Amir Hasan Bondan, Dayak di Kalimantan dapat dibagi menjadi empat suku yang terbesar: Oloh Ngaju, Kayaan Kejin, Iban (Heban dan Punan Ot (lihat uraian lengkap Amir Hasan Bondan, 1953 : 20-21).

Khusus di Kalimantan Selatan, menurut Alfani Daud (2001:32), Dayak dapat dibedakan kepada kelompok Bukit, Manyan, Ngaju (Biaju) dan Lawangan. Sistem kepercayaan Suku Dayak, terutama kelompok Bukit yang mendiami wilayah pegunungan Meratus, tampaknya secara terminologi ada kemiripan dengan Islam. Bagi orang Bukit ada tiga cerita suci yang diyakini kebenarannya dan ditransmisikan secara turun temurun sampai sekarang. Ketiga mite tersebut berkisar tentang asal muasal kejadian alam semesta (kosmologi), asal muasal kejadian manusia pertama dan keturunannya (kosmogini), dan mite tentang asal muasal padi. Dari mite itulah berkembang mite lain yang terkait dengan ilah atau roh yang memelihara bagian-bagian tertentu alam, pemelihara diri manusia, dan perlengkapan atau peralatan hidupnya. ilah-ilah utama yang dikenal orang Bukit ialah suwara yang merupakan ilah pencipta cikal bakal alam semesta dan manusia pertama, ilah nining bahatara yang mengatur rezeki dan nasib manusia, dan sangkawanang yang memberi padi. Ilah lain yang dianggap sebagai yang tertinggi dan paling berkuasa adalah Allah Taala. Fakta ini diungkap oleh Ayal, tokoh Bukit Haratai, Kandangan, Kalimantan Selatan.

Di kalangan orang Bukit juga dikenal mite tentang perkawinan datu Adam dengan nining Tihawa yang membuahkan 40 keturunan, merekalah yang diyakini sebagai nabi (Syaifuddin Sabda, 2004:29).

Belakangan, masuknya Islam membuat corak baru yang membedakan antara Kaharingan. Dayak yang masuk Islam mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Banjar dan menggunakan bahasa Banjar sementara Dayak yang masih menganut Kaharingan tetap menyebut diri mereka sebagai Dayak dan menggunakan bahasa asli mereka (Akh. Fauzi Aseri, 1990:7).

Islam masuk ke Borneo sebagaimana masuknya Islam ke berbagai pulau di Indonesia diperkirakan sekitar abad ke 13. Atho Mudzhar (2002:85) dengan mengutip Azra menyatakan:

The study of Islam in Indonesia started as early as the arrival of Islam to the archipelagic country in the thirteenth century and reached scriptural momentum in the seventeenth century. Most of the learning process was facilitated by Sufi leaders and “ulama”, and was later taken over by the tradisional pesantrens. Many of these “ulama” were trained for years in Macca and Medina.

Berbeda dengan catatan masuknya Islam di Brunai, Zunaidah Zainon (26 Mei 2006) mencatat bahwa Islam dipercayai dibawa oleh musafir, pedagang dan mubaligh-mubaligh Islam sehingga agama Islam itu berpengaruh dan mendapat tempat di kalangan penduduk tempatan dan keluarga kerajaan Brunei. Dakwah Islam dikatakan tersebar ke negara itu sekitar kurun ketujuh menerusi pedagang dan pendakwah Arab. Kedatangan Islam membolehkan rakyat Brunei menikmati sistem kehidupan lebih tersusun dan terhindar daripada adat bertentangan dengan akidah tauhid. Menurut Zunaidah Zainon, Awang Alak Betatar ialah Raja Brunei yang pertama memeluk Islam pada 1368 dengan gelaran Paduka Seri Sultan Muhammad Shah. Beliau terkenal sebagai pengasas kerajaan Islam di Brunei dan Borneo. Pedagang dari China yang pernah ke Brunei menggelar beliau sebagai Ma-HaMo-Sha. Beliau meninggal dunia pada 1402.

Pendapat lain dikemukakan A.Hafiz Anshary AZ (2002:27). Menurutnya Islam datang ke Kalimantan jauh lebih belakangan daripada Sumatera Utara dan Aceh. Diperkirakan telah ada sejumlah muslim di wilayah itu sekitar pertengahan abad ke 15, sekitar tahun 1475-1500. Ada kemungkinan Islam masuk ke Kalimantan melalui putera raja Daha, Raden Sekar Sungsang. Dia melarikan diri ke Jawa setelah dipukul ibunya, Puteri Kabuwaringin yang dikenal pula dengan nama Puteri Kalungsu. Sekar Sungsang kemudian menikah dengan anak Juragan Petinggi yang telah mengasuhnya dan mempunyai seorang putera yang diberi nama Raden Panji Sekar. Anaknya itulah yang kemudian menjadi murid dan diambil menantu oleh Sunan Giri dan diberi gelar Sunan Serabut. Beberapa tahun kemudian, Raden Sekar Sungsang kembali ke Negara Dipa dan diangkat menjadi raja dengan gelar Sari Kaburungan (A Hafiz Anshary, 2002:15). Namun, perkembangan Islam mencapai kemajuan pesat setelah berdirinya kerajaan Banjar yakni setelah Pangeran Samudera memeluk Islam sekitar tahun 936 H/1526 M, yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah (Azyumardi Azra, 1994:251). Dengan demikian, tampaknya, Islam menjadi besar dan berpengaruh di saat kekuasaan berpihak kepadanya.

Intensitas keberagamaan masyarakat Kalimantan meningkat tajam setelah kembalinya Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710-1812) dari Haramaian tempat belaiau mengaji di sana selama 30 tahun. Ada dua kitab beliau yang menjadi pegangan masyarakat Kalimantan yakni Sabilal Muhtadin dan Kitab Perukunan yang berisi masing-masing fikih yang sangat lengkap dan pelajaran Islam dasar (tauhid dan fikih). Hampir semua orang Kalimantan mengenal kedua kitab ini bahkan terkenal pula di berbagai wilayah nusantara serta berbagai wilayah Asia Tenggara, Brunai Pattani (Thailand), Mindanao (Filifina Selatan), Singapura dan Kamboja.

Dalam konteks ini, ingin saya garis bawahi bahwa sebelum Islam masuk ke Borneo, penduduknya telah memeluk agama Hindu-Budha atau memeluk kepercayaan Kaharingan yang tentu saja sangat berbeda dengan ajaran Islam. Walaupun proses islamisasi masyarakat Borneo hingga kini terus berjalan melalui dakwah dan pendidikan, akan tetapi bekas-bekas kepercayaan dan budaya agama sebelumnya, tidak sepenuhnya bisa dikikis sehingga sebagian masih berpengaruh terhadap keberagamaan dan kebudayaan umat Islam hingga sekarang ini.
Penulis : Prof.Dr.H.Kamrani Buseri,MA (Rektor IAIN Antasari Banjarmasin)
Sumber : http://www.iain-antasari.ac.id

 

http://www.alqoimkaltim.com/in/more-about-joomla/29-sejarah-islam-nusantara/22-sepintas-masuknya-islam-di-borneo.html

%d blogger menyukai ini: