Problematika SISTEM PENGKADERAN PMII

Berbicara tentang pengkaderan PMII, sebenarnya telah membicarakan tentang satu sistem pola pengajaran dan pananaman ideologi yang sudah dirumuskan, didiskusikan dan diaplikasikan selama 24 tahun semenjak berdirinya PMII, (yang hampir mendekati tahun peraknya PMII). Satu perjalanan yang tidak bisa dianggap angin lalu.

Banyak problem-problem yang bersemayam dalam tubuh PMII dalam menerapkan dan mencari bentuk proses pengkaderan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan kader dan juga mampu menjawab setiap problem realitas yang dihadapi oleh kader. Tidak heran juga dalam perjalanan PMII materi yang diterapkan dalam proses pengkaderan selalu berubah-ubah.

Salah satu persoalan yang sering dihadapi adalah membentuk satu bentuk sistem pengkaderan yang berbasisi lokal adalah masih belum menemukan satu titik terang yang mampu menjawab setiap realitas yang dihadapi oleh kader.

Basis pengembangan PMII di kampus agama dan humaniora ternyata mempunyai efek domino dalam membentuk sistem pengkaderan. Pola pengembangan pengkaderan pada kampus yang bersifat eksakta ternyata masih menjadi satu topik pembahasan yang menarik dan belum terlihat ujung pangkalnya.

Walaupun sudah tidak bisa terhitung dengan jari bagaimana upaya dari punggawa organisasi untuk merumuskan dan menjawab persoalan tersebut, namun masih banyak sisi-sisi kelemahan dan kekurangannya.

Salah satu problem mengapa sistem pengkaderan selalu dirasakan ada kelemahannya adalah, karena pola pembacaan perkembangan kader tidak bisa di up date setiap saat. Ketika ada problem tentang perkembangan dan kebutuhan kader para punggawa organisasi hampir selalu (80%) membuat punggawa organisasi melakukan pembacaan problem dan kebutuhan kader dari awal. Data base yang sebenarnya telah terbentuk atau yang sudah ada masih belum bisa dioptimalkan sebagai bentuk kelanjutan dalam pembacaan, sehingga pembacaan tersebut dirasakan mengalami stagnasi dalam setiap kali merumuskan satu sistem pengkaderan

Di satu sisi, rumus sistem pengkaderan yang telah terbentuk dalam sebuah modul kaderisasi ternyata masih dipahami pada tingkataan pengurus saja, bahkan lebih ironis lagi bila dipahami oleh ketua umumnya saja. Disini dapat kita rasakan ada satu sistem transformasi pengkaderan pada tingkatan kader masih belum optimal. Selain itu tawaran yang telah diberikan dalam modul masih belum mampu membaca pada tingkatan yang lebih rigid. Pada rumusan pengkaderan yang bersifat informal maupun non formal masih menjadi satu kendala dalam mematrialkan dari rumusan modul yang telah ada, sehingga sistem pada pengkaderan yang bersifat informal maupun non formal masih belum menjadi sebuah sistem yang stabil.

Apalagi jika dihadapkan dengan perkembangan PMII di kampus umum. materi-materi yang bisa menjawab kebutuhan kader di perguruan tinggi umum masih belum terjawab dengan tuntas.

Oleh karena itu dalam kesempatan ini merupakan salah upaya kita untuk bisa menutupi, menyempurnakan pembacaa-pembacaan yang telah dirintis oleh para pendahulu kita. Sebenarnya masih ada beberapa tulisan ini yang belum dikupas yakni: Realitas PMII di Kampus-kampus Pasuruan, Pemetaan Potensi Kader PMII Pasuruan, Perjalanan Perkembangan Kaderisasi Pasuruan, Tawaran Sistem Kaderisasi Berbasis Kebutuhan Lokal. Namun karena kebatasan kesempatan untuk mengeksplorasi dalam bentuk tulisan ini yang belum memberikan peluan, maka kupasan di atas hanya bisa menjadi pengantar diskusi saja. Tapi saya yakin dalam mini workshop ini semua kupasan di atas dengan sendirinya akan terjawab

%d blogger menyukai ini: