REFORMASI PENDIDIKAN DALAM PEMBANGUNAN Sangat Pentingnya nilai kebenaran dan kejujuran dalam praktek “Machdar Somadisastra”

Pendidikan, sebagai usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan peserta didik, lahir, tumbuh dan kembang dari, oleh dan untuk masyarakat. Pendidikan merupakan salah satu aspek dari kehidupan yang terkait dengan aspek ekonomi, aspek politik dan spek sosial lainnya yang ketiganya saling pengaruh mempengaruhi.

Selama lebih dari 50 tahun di Negeri tercinta ini telah lahir 3 Undang – Undang Pendidikan yang mengatur pendidikan. Undang – Undang yang ketiga yaitu Undang – Undang No, 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Basional (SISDIKNAS). Dua tahun kemudian disusul dengan Undang – Undang No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan Dosen. Kedua Undang – Undang itu merupakan produk reformasi dalam bidang pendidikan.

Kedua Undang – Undang terakhir menetapkan hal-hal penting diantaranya seperti berikut : pertama : prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan sebagai satu proses pemberdayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung bagi segenap warga masyarakatnya, memberi keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran, kedua : fungsi pendidikan mengembangkan kemauan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, ketiga : pendidikan bertujuan untuk pengembangan potensi peserta didik agar mejadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri dan menajdi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, keempat : pendidikan berlangsung dalam 3 jalur, yaitu : jalur pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal, sedang jenjangnya terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Jenis pendidikannya meliputi pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, keagamaan, dan khusus. Keempat kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan mempertimbangkan : peningkatan iman dan taqwa, peningkatan akhlak mulia, peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik, kewarganegaraan, potensi daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan pembangunan nasional, tuntutan dunia kerja, pembangunan pengetahuan, tekhnologi dan seni, agama, dinamika perkembangan global, peraturan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
Kelima, dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), keenam : kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan Nasional. Sudah barang tentu dengan perundang – undangan yang lebih sempurna, pendidikan di negeri ini diharapkan makin berkembang maju dan makin berfungsi dalam pembangunan Nasional dan pembangunan daerah.

Dari SISDIKNAS mengamanatkan pendidikan sebagai proses pemberdayaan dan pembudayaan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, menajdikan manusia beriman dan bertaqwa dan berakhlak mulia atau aspek efektif disamping aspek kognitif dan aspek psikmotorik. Aspek afektif atau sikap dan nilai-nilai atau aspek moral adalah aspek yang sangat menentukan dari kualitas manusia. Bagaimanapun luasnya pengetahuan dan ketrampilannya yang dimiliki, jika moralnya kurang baik, maka ilmu dan ketrampilannya itu tidak membawa manfaat bagi pemiliknya maupun orang disekitarnya.

Runtuhnya moral dewasa ini terjadi di mana-mana, di berbagai lingkungan sosial, di kota-kota metropolitan, di kota-kota kecil dan di pedesaan. Penganiayaan anak, perdagangan anak, eksploitasi terhadap anak, penganiayaan perempuan, berbagai macam penipuan, berbagai macam kecurangan, berbagai kejahatan dan merebaknya korupsi di berbagai lembaga. Mengapa ini bisa terjadi ?

Kita semua, masyarakat melalaikan internalisasi nilai-nilai kebenaran dan kejujuran. Salah satu contoh yang sekarang sering terjadi dalam keluarga, ayah dan ibu memberitau anaknya yang balita untuk tidak berbohong, suatu ketika datang tamu untuk menagih hutang, anaknya memberi tahu orang tuanya didepan ada tamu. Orang tuanya bilang sama anaknya, katakan ayah dan ibu tidak ada dirumah, anak bingung, ayah dan ibu melarang berbohong, dalam hal ini ayah dan ibu berbohong dan menyurh anak berbohong.

Kebohongan yang menjalar dari orang tua kepada anak, dari anak kepada anak, dari orang tua ke orang tua didalam berbagai lingkungan sosial menyebabkan rusaknya kepercayaan. Bagaimana jadinya jika anak tidak percaya kepada orang tua, orang tua tidak percaya kepada anak, siswa tidak percaya guru. Guru tidak percaya siswa, mahasiswa tidak percaya kepada dosen, dosen tidak percaya kepada mahasiswa, buruh tidak percaya majikan, majikan tidak percaya buruh, pegawai tidak percaya kepada kepala kantor, kepala kantor tidak percaya pada pegawai, rakyat tidak percaya pemerintah, pemerintah tidak percaya rakyat dan anggota masyarakat satu sama lain tidak saling percaya, Pengawasan model apa lagi yang bisa mengatur jika terjadi hal semacam ini ?

Kepada semua orang dewasa di berbagai lingkungan sosial mari kita belajar menepati kebenaran, belajar jujur kepada diri sendiri dan kepada orang lain, setelah itu sosialisasikan dan internalisasikan kebenaran dan kejujuran itu untuk anak-anak. Kegiatan ini mengawal keberhasilan pelaksanaan SISDIKNAS dalam rangka pembangunan bangsa yang bermartabat.

 

sumber : http://bk3sjatim.org/?p=946

%d blogger menyukai ini: