UNTUK APA BERFILSAFAT

Untuk apa manusia berfilsafat? Untuk apa memikirkan hal yang menguji nalar kita? Atau bahkan menggoyahkan iman kita?

Menurut saya, ada satu jawaban, yaitu untuk mempertahankan alasan keberadaan kita sebagai mahluk berakal. Perenungan filsafat lahir dari akal. Tentunya akal yang terus menguras fungsinya untuk berpikir. Dan itulah salah satu alasan keberadaan manusia di dunia. Jika manusia sudah tidak menggunakan akalnya lagi, maka dia tidak punya alasan untuk mempertahankan keberadannya di dunia. Dan di sinilah letak keunikan melakukan perenungan filsafat.

Banyak orang mengatakan, untuk apa? Hanya akan membuat hidup tambah rumit saja. Hanya menciptakan keragu-raguan baru saja. Jawabannya, itu bagi mereka yang melakukan perenungan filsafat setengah jalan. Jika filsafat adalah sebuah gunung, maka dakilah hingga ke puncaknya. Dan di sanalah kita akan menemukan keindahannya. Tapi jika kita mendakinya hanya di belantara hutannya saja, benar kita jadi santapan empuk binatang buas.

Demikianlah filsafat dalam hidup kita. Kita perlu berfilsafat bukan untuk menciptakan keraguan. Tetapi justru untuk menjawab keraguan itu melalui diri kita sendiri. Namun bukan berarti filsafat adalah jawaban atas semua permasalahan. Tapi filsafat ibarat sebuah teropong yang akan mengantar mata kita untuk melihat bintang yang berpijar. Lalu kita akan tahu bintang mana yang berpijar lebih terang dan berpendar pada diri kita? Maka, masihkah kita mengatakan filsafat hanya menambah masalah?

sumber : http://www.jendelasastra.com/karya/prosa/untuk-apa-berfilsafat

%d blogger menyukai ini: