NGELMU IKU OLEHE KANTHI LAKU TAFSIR LOKAL ATAS MORALITAS PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT ISLAM TRADISIONALIS

NGELMU IKU OLEHE KANTHI LAKU

TAFSIR LOKAL ATAS MORALITAS  PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT  ISLAM TRADISIONALIS

 

A. Pendahuluan.

Dalam masyarakat Islam tradisionalis menuntut ilmu adalah sebuah pengabdian kepada Tuhan, segala yang terkait dengan proses mencari ilmu selalu diarahkan kepada tujuan tersebut. Seorang guru yang kemudian lebih dikenal dalam komunitas ini sebagai kiai, sangat dimuliakan, seorang kiai adalah pengemban amanat untuk menyebar luaskan ilmu-ilmu Allah kepada masyarakat banyak. Kiai mempunyai kedudukan tinggi secara sosial karena integritas moral dan karisma yang dimilikinya, selain adanya keyakinan publik bahwa mereka mempunyai kedekatan khusus dengan Tuhan.

Seorang pencari ilmu juga memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat Islam tradisionalis, seorang pemuda yang berani untuk melanjutkan belajar ke pesantren-pesantren yang besar dan masyhur dan biasanya berada jauh dari tempat tinggalnya dipandang sebagai seorang yang istimewa oleh masyarakat sekitarnya. Kemampuannya untuk berlaku prihatin, jauh dari rumah menahan kerinduan, melakukan tirakat dan mempelajari ilmu agama mendapat apresiasi tinggi dari masyarakatnya, mereka berharap pemuda itu akan menjadi seorang alim yang dapat mengajarkan berbagai kitab dan memimpin masyarakat dalam kegiatan keagamaan.[1]

Penghargaan terhadap orang yang mencari ilmu (santri) tidak hanya berupa dukungan moral melainkan juga finansial, terdapat beberapa kasus pendanaan bagi seorang santri yang melanjutkan pendidikannya di pesantren masyhur dibiayai oleh masyarakat kampungnya secara gotong royong atau mencari mertua yang kaya untuk membiayai pendidikannya dipesantren. Seorang santri yang akan pergi belajar di sebuah pesantren yang jauh, sebelum berangkat biasanya diadakan semacam upacara penghormatan yang meriah, upacara ini biasanya dihadiri oleh hampir seluruh penduduk kampung.[2]

Sisi menarik dari model hubungan antara kiai dengan santri adalah perasaan hormat  dan kepatuhan mutlak dari seorang murid kepada gurunya, perasaan hormat dan kepatuhan  mutlak ini tidak boleh terputus, berlaku seumur hidup seorang murid.  Perasaan hormat dan kepatuhan mutlak harus ditunjukkan oleh murid dalam seluruh aspek kehidupannya, melupakan ikatan dengan guru merupakan kejelekan dan akan menghilangkan barakah guru dan pada akhirnya ilmu yang dimiliki oleh seorang murid tidak bermanfaat. Hal tersebut dilakukan bukan sebagai manifestasi dari penyerahan total kepada guru yang dianggap memiliki otoritas, tetapi karena keyakinan murid kepada kedudukan guru sebagai penyalur kemurahan Tuhan yang dilimpahkan kepada murid-muridnya, baik di dunia maupun di akherat.[3]

Pola-pola hubungan yang unik antara kiai dan santri tersebut menurut Zamakhsari Dhofier sangat dipengaruhi oleh literatur pendidikan yang dipakai sebagai acuan di pesantren salah satunya adalah kitab Ta’lim Al Muta’alim,[4] berangkat dari fenomena-fenomena unik tersebut maka tulisan ini bermaksud mengungkapkan tafsir-tafsir lokal atas literatur pendidikan Islam klasik yang digunakan dalam lingkungan Islam tradisionalis, serta perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari.

B. Perjumpaan Islam dengan Budaya Jawa

Islam sebagaimana agama-agama yang lain ketika memasuki sebuah wilayah baru maka dia mengemban misi dakwah yaitu melakukan gerakan konversi, pada awalnya di Jawa konversi ke dalam Islam sebagian besar dilakukan lewat hubungan perdagangan antara penduduk lokal dengan pedagang-pedagang muslim di kota-kota pesisir. Interaksi perdagangan yang terjadi terus menerus telah mendorong terbentuknya komunitas baru (muslim lokal), sebagai sebuah komunitas dengan struktur sosial tersendiri, stuktur sosial yang berbasis kepada kesetaraan.[5]

Orang-orang Jawa yang telah beragama Islam ini kemudian membentuk komunitas tersendiri yang pada selanjutnya disebut dengan orang putihan atau golongan santri. Kelompok inilah yang kemudian melakukan perjalanan dakwah ke daerah-daerah pedalaman Jawa, mereka mengenalkan Islam kepada penduduk pedalaman Jawa, proses ini tidak mudah bahkan cenderung banyak resistensi yang pada akhirnya terjadi kompromi relegius.[6]

Pola-pola kompromis telah menjadi model kegiatan konversi di Jawa yang dilakukan oleh Walisongo, ajaran-ajaran Walisongo didasarkan kepada nilai-nilai sufisme, pola hidup saleh, mencontoh dan mengikuti para pendahulu yang terbaik, bersikap arif terhadap budaya dan tradisi lokal. Dalam pandangan Walisongo mendidik adalah tugas dan panggilan agama, mendidik seorang murid sama halnya dengan mendidik anak kandung sendiri. Seorang pendidik harus menyayangi, menghormati, menjaga dan menghargai tingkah laku mereka sebagaimana seorang pendidik memperlakukan anak keturunannya. Pendidik harus memberikan makanan dan pakaian kepada murid agar mereka dapat menjalankan syari’at Islam dan memegang teguh ajaran agama dengan tanpa keraguan.[7]

Dengan pola-pola yang lebih arif dan memahami khasanah pengetahuan serta budaya lokal telah menjadi pilihan tepat dalam proses konversi kedalam Islam. Proses Islamisasi yang dilakukan oleh Walisongo terhadap masyarakat Jawa pada dasarnya adalah membuat tafsir-tafsir lokal terhadap ajaran-ajaran Islam atau dengan kata lain mengenalkan ajaran Islam dengan label lokal.

Dalam masyarakat Jawa, pusat kosmos, penghubung antara dunia dengan fenomena supranatural  memainkan peran yang sangat penting. Mereka menganggap bahwa makam-makam keramat, gunung, gua-gua, hutan adalah tempat-tempat sakral dan pusat untuk memperoleh ilmu pengetahuan (ngelmu) dan inspirasi.[8] Setelah Islam menjadi agama di Jawa, fungsi-fungsi tersebut segera diislamisasikan, proses islamisasi yang dilakukan oleh Walisongo dan pengikutnya dengan jalan mengisi, mewarnai dan melakukan modifikasi terhadap fungsi-fungsi tersebut dengan nilai-nilai Islam.[9]

Kiai-kiai Jawa (kalangan Islam tradisionalis) telah menganggap bahwa model-model dakwah yang dilakukan oleh Walisongo adalah model yang tepat dalam berdakwah di masyarakat pedesaan Jawa, mereka sangat arif dan lebih santun terhadap budaya lokal, menafsirkan ajaran agama Islam dengan bahasa dan pengetahuan lokal menjadi sebuah keniscayaan, bahkan banyak diantara kiai-kiai Jawa yang telah meleburkan diri dalam pemahaman Islam lokal tersebut, sebagai contoh banyak kiai-kiai Jawa yang masih tetap memandang beberapa tempat tertentu sebagaitempat yang baik untuk memanjatkan doa, tanpa mengatakan bahwa terdapat karamah ditempat-tempat itu.[10]

Dalam persoalan tersebut terlihat bahwa kebanyakan kiai Jawa berusaha untuk menunjukkan bahwa beragama Islam tidak perlu menjadi Arab, orang Jawa dapat menjadi muslim sejati tanpa harus kehilangan identitas diri sebagai orang Jawa. Pandangan semacam ini, yang merupakan pandangan banyak kiai, tentunya kemudian menjadi arus besar pandangan masyarakat Islam tradisionalis, selalu berusaha untuk menafsirkan ajaran-ajaran melalui label-label lokal.

 

C. Kitab Kuning dan Kepatuhan Santri

Bruinessen menyebutkan bahwa tradisi pengajaran agama Islam di pesantren-pesantren Jawa dengan menggunakan literatur-literatur klasik yang kemudian dikenal dengan kitab kuning merupakan sebuah tradisi agung. [11] Salah satu alasan yang menjadi acuan munculnya pesantren adalah melakukan transmisi ajaran-ajaran Islam ortodok (Islam tradisional) yang terdapat dalam kitab-kitab kuning .

Terkait dengan pemikiran pendidikan, kitab kuning yang sering menjadi rujukan kalangan pesantren dan masyarakat Islam tradisionalis adalah Kitab Ta’limu al-Muta’alim karya Burhan ad-Din az-Zarnuji dan Adabu al-Alim wa al-Muta’alim karya KH. Hasyim Asy’ari.  Kedua karya tersebut berisikan tentang moralitas bagi guru dan murid dalam pergumulan dengan ilmu pengetahuan, dan kedua karya tersebut sangat berpengaruh dalam kalangan pesantren dan masyarakat Islam tradisionalis. Kalangan kiai melakukan proses internalisasi moralitas ajaran-ajaran pendidikan tersebut kedalam dirinya dan santri-santrinya, hal ini dilakukan supaya tercipta hubungan yang ideal antara kiai dengan santri, seorang kiai harus menyayangi dan mengasihi santri sedangkan santri harus menaati dan menghormati kiai secara mutlak.

Dalam pengajaran pesantren dan masyarakat Islam tradisionalis sikap hormat, ta’zim dan kepatuhan mutlak kepada kiai merupakan salah satu nilai pertama yang ditanamkan kepada santri. Sikap-sikap semacam ini kemudian diperluas pemaknaannya sehingga mencakup kepatuhan mutlak terhadap ulama-ulama terdahulu termasuk terhadap pengarang-pengarang kitab-kitab yang dipelajari oleh santri.[12]

Dalam penghormatan dan kepatuhan mutlak terhadap guru tidak boleh terputus, bahwa hal itu berlaku seumur hidup seorang murid dan harus ditunjukkan dalam setiap aspek kehidupannya, baik dalam kehidupan keagamaan, kemasyarakatan, atau pribadi. Melupakan ikatan dengan guru merupakan aib yang besar, disamping akan menghilangkan barakah dari guru dan berakibat kepada pengetahuan yang diperoleh seorang murid tidak akan bermanfaat.[13]

Karena begitu pentingnya hubungan ideal antara murid dan guru maka kemudian disyaratkan pada saat akan berguru harus mencari sosok guru yang terbaik dalam pandangan murid, dengan cara laku riyadah melalui shalat istiharah untuk meminta petunjuk kepada Allah agar diberikan jalan keluar yang baik untuk memilih seorang guru.[14]

Seorang murid harus patuh terhadap gurunya, tidak boleh keluar dari pendapat dan aturan-aturan yang telah dibuat oleh guru. Hubungan antara guru dan murid diibaratkan seperti hubungan antara dokter dengan pasiennya, sehingga apapun yang dilakukan oleh murid harus mendapat persetujuan guru, selalu mencari riha dan keihlasan guru, segala sesuatu yang dilakukan murid untuk gurunya adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah.[15]

Seorang murid harus selalu berpandangan bahwa guru adalah sosok yang agung dan terhormat, dan berkeyakinan bahwa guru mempunyai derajat dan tinggi dan mulia.[16] Dalam persoalan ini seorang murid tidak diperbolehkan untuk melupakan jasa-jasa, kemuliaan, keagungan guru dan harus selalu mendoakan guru baik pada saat masih hidup atau telah meninggal. Murid berkewajiban untuk menjaga kerabat dan keturunan guru, selalu menjaga adat istiadat, tradisi dan kebiasaan guru baik dalam masalah agama atau dalam masalah keilmuan. Pada saat guru telah meninggal maka murid berkewajiban untuk berziarah ke makam guru, memintakan ampun atas kesalahan guru kepada Allah dan selalu bershadaqah atas nama gurunya.[17] Seorang murid juga dituntut untuk mempunyai toleransi yang luas terhadap guru, murid harus menerima dan bersabar terhadap perlakuan buruk guru, perlakuan buruk itu harus ditakwili dengan makna yang bertolak belakang dari yang tampak.[18] Namun dalam persoalan ini seorang murid  diperbolehkan meminta penjelasan tentang perlakuan buruk terhadapnya, akan tetapi kebolehan ini tetap dalam kerangka untuk mencari kekurangan murid sehingga guru berlaku demikian. Dapat diperkirakan perlakuan buruk guru merupakan teguran terhadap kekurangan dan untuk memberi petunjuk kepada murid.[19]

Penghargaan yang tinggi terhadap kiai dan ulama tidak lepas dari kedudukan tinggi yang diberikan oleh Islam kepada mereka,

 


[1] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta: LP3ES, 1994), hal. 52.

[2] Ibid., hal. 53.

[3] Ibid., hal. 82.

[4] Ibid., hal. 82-83.

[5] Masroer Ch. Jb., The History of Java Sejarah Perjumpaan Agama-Agama di Jawa, (Yogyakarta: AR-RUZZ, 2004), hal. 29.

[6] Ibid., hal. 31.

[7] Drewes, dalam Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren Perhelatan Agama dan Tradisi, (Yogyakarta: LkiS, 2004), hal. 60.

[8] Martin van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, (Bandung: Mizan, 1995), hal. 42.

[9] Abdurrahman, Op. cit., hal. 99.

[10] Lihat dalam Ibid.

[11] Martin, Op. cit., hal. 17.

[12] Ibid., hal. 18.

[13] Zamakhsyari, Op. cit., hal. 82.

[14] Hasyim Asy’ari, Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim, (Yogyakarta: QIRTAS, 2003). Hal. 35. dalam masalah ini kitab Ta’limu al-Muta’alim juga menyebutkan bahwa seorang murid dalam memilih guru harus menimbang-nimbang selama dua bulan, agar dapat mengetahui tentang guru tersebut, hal itu diperlukan untuk mendapatkan keyakinan bahwa guru tersebut adalah seorang betul-betul alim, arif dan wira’I (terjaga dari perbuatan-perbuatan tercela. Seorang calon murid juga disarankan untuk bertanya kepada masyarakat yang pernah belajar kepada guru tersebut, lihat Az-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim, (Kudus: Menara Kudus, 1963), hal. 45-47.

[15] Hasyim, Ibid., hal. 37.

[16] Ibid.

[17] Ibid. hal. 38.

[18] Ibid.

[19] Ibid., hal. 39.

sumber :

 

%d blogger menyukai ini: