PERGESERAN PARADIGMA PESANTREN

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang masalah

Manusia adalah makhluk multidimensional, bukan saja karena manusia adalah subjek yang secara teologis memiliki potensi untuk mengembangkan pola kehidupannya, tetapi sekaligus menjadi objek dalam keseluruhan macam dan bentuk aktivitas dan kreatifitasnya. Dengan demikian, bentuk dan sistem aspek kehidupan senantiasa harus dikonstruksi manusia itu sendiri. Di akhir 1970-an, Ivan Illich mengejutkan masyarakat dan pemerhati pendidikan dengan gagasan kontroversial tentang deschooling society (masyarakat tanpa sekolah). Illich meramalkan bahwa jika pengetahuan dan tingkat kedewasaan masyarakat sudah berkembang dengan wajar, maka intitusi-institusi pendidikan formal tidak lagi diperlukan. Masyarakat akan mampu manjalankan fungsi pendidikan lewat elemen sosial dan budaya yang luas, tanpa harus terikat dengan otoritas kelembagaan seperti sekolah. Artinya, dalam masyarakat ini, sekolah tidak lagi dibutuhkan. Gagasan ini memang sampai saat ini belum terbukti dalam kehidupan konkrit. Akan tetapi, jika saja kita melihatnya sebagai program studi, maka betapa tepatnya Illich dalam menilai dan mendiskripsikan eksistensi lembaga pendidikan.[1]

Dalam perkembangannya, sekolah ternyata tidak menjadi media pembebasan dan penanaman nilai-nilai kemanusian. Sekolah menjadi “penjara” yang memisahkan anak didik dari dinamika persoalan masyarakatnya. Semakin lama seseorang bersekolah, semakin luas jarak antara dirinya dengan realita kehidupan yang sebenarnya. Sistem pendidikan yang tidak dialogis juga telah menyebabkan bakat dan kreatifitas anak didik tidak bisa berkembang secara baik. Sekolah bukan lagi tempat untuk belajar, melainkan tempat siswa diarahkan dan didesain menurut pola yang sudah baku. Dengan demikian, lembaga pendidikan gagal menjalankan tugasnya yang paling mendasar, yaitu membantu seseorang menjadi manusia yang cerdas, bebas dan merdeka.

Sejak tahun 1880 ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda menjalankan politik etis (etische politik), pendidikan yang menganut sistem persekolahan (schooling system), secara formal diberikan kepada anak-anak pribumi terjajah dengan arogansi bangsa penjajah, pemerintah kolonial Belanda menempatkan sistem persekolahan sebagai satu-satunya sistem pendidikan formal yang sah dan diakui oleh pemerintah. Pemerintah memberikan prioritas dan fasilitas kepada siswa-siswa lulusan sekolah formal untuk bekerja sebagai pegawai kolonial melalui pembuktian ijazah-ijazah formal yang dikeluarkan sekolah, dan terutama pemberian status ‘manusia modern’ kepada mereka yang terproses dalam pembelajaran di sekolah.

Pendidikan nasional Indonesia selama ini terlalu mengikuti paham positivisme.[2] Positivisme ini banyak mengandung aspek-aspek positif, tetapi juga terdapat kerugian-kerugian ketika kita menggunakannya. Di antara kerugiannya adalah pada kenyataan di mana paham tersebut telah membuat sekolah dan perguruan tinggi kita terpisah dari masyarakat.[3]

Sebagaimana sifat filsafat positivisme yang rasional, sekuler, materialistik, empiris, impersonal, dan bebas nilai-nilai,[4] sistem persekolahan pun mengembangkan diri dengan menguasai dan membalikkan kiblat pemikiran para siswanya dari doktrin-doktrin agama. Sebab masalah agama di dalam pandangan filosofis Auguste Comte dikategorikan sebagai pandangan manusia purba yang penuh takhayul dan primitif. Seorang manusia yang sudah mencapai tahap evolusi positif, yang disebut manusia modern harus meninggalkan pengetahuan teologis dan pengetahuan metafisis.[5] Dengan pandangan ini, pendidikan yang masih mengajarkan masalah nilai-nilai agama dianggap sebagai pendidikan bagi orang-orang berperadaban rendah alias masyarakat primitif dan terbelakang. Demikianlah, lembaga pendidikan pesantren yang merupakan lembaga pendidikan asli[6] di Indonesia dan berlatar agama, dianggap sebagai pendidikan manusia-manusia kuno yang melambangkan keterbelakangan dan primitivisme.[7]

Sistem persekolahan yang lahir dari filsafat positivisme yang dianut dalam pendidikan formal kita terbukti tidak mampu memberikan kontribusi positif kepada para peserta didik, baik dalam pendidikan tauhid, pembinaan kepribadian, budi pekerti, pengetahuan aktual yang dibutuhkan, ketrampilan kerja, dan penciptaan lapangan kerja yang dibutuhkan.

Di lain pihak, pesantren tradisional sebagai sistem pendidikan agama Islam asli Indonesia tidak beranjak dari kerangka acuan lama yang mencitrakan din sebagai lembaga pendidikan pencetak ‘ulama banyak yang kurang percaya diri dengan eksistensinya, sehingga mengembangkan sistem persekolahan yang diberi nama dan istilah-istilah bahasa Arab, yakni Madrasah (Ibtidaiyyah-Tsanawiyyah-’Aliyyah-Universitas Islam) di mana hal itu menyebabkan keberadaan pesantren-pesantren salafi semakin sedikit.

Lembaga pendidikan formal dan pesantren adalah dua lembaga yang mempunyai banyak perbedaan. Sekolah atau lembaga pendidikan formal identik dengan kemodernan, pesantren identik dengan ketradisionalan. Sekolah lebih menekankan pendekatan yang bersifat liberal, pesantren lebih pada sikap konserfatif yang bersandar dan berpusat pada figur sang kiyai.[8] Namun, persepsi dualisme-dikotomik semacam ini mungkin kurang begitu tepat, karena dalam kenyataannya, banyak pula pesantren yang telah melakukan perubahan baik secara struktural maupun kultural.

Pesantren sebagai institusi sosial tidak hanya berbentuk lembaga dengan seperangkat elemen pendukungnya, tetapi pesantren merupakan entitas budaya yang mempunyai implikasi terhadap kehidupan sosial yang melingkupinya. Sejak awal kelahirannya, pesantren berkembang dan tersebar di berbagai pedesaan. Keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan keislaman yang sangat kental dengan karakteristik Indonesia ini memiliki nilai-nilai setrategis dalam pengembangan masyarakat Indonesia, sehingga memiliki pengaruh cukup kuat pada hampir seluruh aspek kehidupan di kalangan masyarakat muslim.

Dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan nasional di Insdonesia, agaknya tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi semacam local genius. Di kalangan umat Islam di Indonesia sendiri, pesantren telah sedimikian jauh dianggap sebagai model institusi pendidikan yang mempunyai keunggulan baik pada sisi tradisi keilmuan maupun pada sisi transmisi dan internalisasi nila-nilai Islam. Dipandang dari perspektif people centered development, pesantren juga dinilai lebih dekat dan mengetahui seluk-beluk masyarakat yang berada di lapisan bawah.[9] Dari sini, perlu digarisbawahi bahwa ternyata pesantren telah dilihat sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembentukan identitas budaya bangsa Indonesia.

Secara substansial, pesantren merupakan institusi pendidikan keagamaan yang tidak mungkin lepas dari masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Karena lembaga ini tumbuh dan berkembang dari masyarakat dan untuk masyarakat dengan memosisikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat dalam pengertian transformatif. Dalam konteks ini, pendidikan pesantren pada dasarnya merupakan pendidikan yang sarat dengan nuansa transformasi sosial.

Dengan mempertimbangkan kelebihan yang dimilikinya, bukan tidak mungkin pesantren akan dilirik sebagai alternatif di tengah pengapnya suasana pendidikan formal di Indonesia, termasuk juga perguruan tinggi sebagai jenjang pendidikan formal yang paling tinggi.

Dalam pengabdian pada masyarakat yang dilakukan pesantren merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang dianut pesantren. Nilai yang selama ini berkembang dalam komunitas pesantren adalah: seluruh kehidupan ini diyakini sebagai ibadah, maksudnya kehidupan duniawi disubordinasikan dalam rangkuman nilai-nilai Illahi sebagai sumber nilai tertinggi. Dari nilai pokok ini lahir dan berkembang nilai-nilai luhur lainnya, seperti nilai keikhlasan, kesederhanaan, kesabaran, dan kemandirian.

Namun demikian, bukan berarti pesantren lepas dari kelemahan, justru dalam zaman yang ditandai dengan cepatnya perubahan di semua sektor dewasa ini. Pesantren mempunyai banyak persoalan yang membuatnya tertatih-tatih kalau tidak malah kehilangan kreatifitas dalam merespon perkembangan zaman. Yang pada suatu waktu, hegemoni Negara yang begitu kuat membuat dunia pesantren kelimpungan dalam mempertahankan keberadaannya sebagai lembaga pendidikan Islam yang berpotensi besar untuk menjadi pendidikan keagamaan alternatif. Pesantren lalu kehilangan jati dirinya sebagai lembaga yang mengedepankan kemandirian, kesederhanaan dan keikhlasan. Pesantren mulai tergerus nilai-nilai pragmatisme dan sejenisnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, institusi pesantren telah berkembang sedemikian rupa sebagai akibat dari persentuhannya dengan polesan-polesan zaman sehingga kemudian melahirkan berbagai persoalan persoalan krusial dan dilematis. Di satu sisi, peran penting pesantren adalah penerjemah dan penyebar jaran-ajaran Islam dalam masyarakat. Karena itu, pesantren berkepentingan menyeru masyarakat dengan berlandaskan pada komitmen amar ma’ruf dan nahy munkar. Di sisi lain, untuk mempertahankan jati dirinya sebagai sebuah institusi pendidikan Islam tradisional, pesantren harus melakukan seleksi ketat dalam pergaulannya dengan dunia luar atau masyarakat, yang tidak jarang malah menawarkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai yang telah digariskan pesantren. Akibatnya, terjadi semacam tarik-menarik kekuatan antara keduanya. Pemilahan pada salah satu sisi berarti akan menghilangkan keutuhan misinya, terlebih lagi bila meninggalkan kedua sisi itu secara bersama.

Barangkali karena kondisi dilematis inilah pesantren kemudian dinilai sebagai sudah tidak mampu lagi memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat untuk melakukan transformasi sosial. Bahkan, yang terjadi adalah kebalikannya: telah tercipta sebuah jurang pemisah yang lebar antara masyarakat dan pesantren. Pesantren seolah-olah telah membentuk “komunitas eksklusif” yang tidak mau lagi bersentuhan dengan masyarakat sekitarnya. Maka, tidaklah mengherankan bila pesantren yang semula dilahirkan oleh masyarakat pada akhirnya tidak mampu lagi merubah kehidupan mastarakat dengan nilai-nilai yang ditawarkannya. Tidak sebatas itu saja, yang lebih kontras lagi adalah bahwa di beberapa daerah tertentu, telah tercipta hubungan yang tidak harmonis antara pesantren dengan masyarakatnya. Mengapa kondisi demikian ini tercipta di tengah-tengah semakin derasnya arus informasi dan globalisasi yang telah menembus dinding-dinding tradisi dan ortodoksi sistem sosial suatu masyarakat? Apakah sikap eksklusif dan menutup diri telah menjadi keniscayaan bagi komunitas pesantren ketika berhadapan dengan dinamika masyarakat? Lalu, bagaimanakah posisi strategis pesantren diletakkan dalam konteks globalisasi?

Petanyaan-pertanyaan di atas sangat menggelitik untuk tidak mengatakan menggugat kemapanan pesantren yang selama ini selalu dibanggakan sebagai sebuah institusi yang dinilai “paling orisinal” milik masyarakat Indonesia dengan segala tambahan predikat baik lainnya. Jawaban-jawaban apologetic yang membela pesantren sudah tidak relevan lagi untuk tidak dikedepankan. Tulisan ini tidak akan memaparkan ihwal di atas, melainkan ihwal apakah pesantren akan dibiarkan terus melarut dalam status quo yang nyata-nyata semakin mengendapkan ubun-ubun kesadaran komunitas di dalamnya. Padahal, kondisi yang dihadapi pesantren adalah kompleksitas tantangan-tantangan kontemporer seiring dengan bertanmbahnya usia dunia ini. Hanya dengan kerja keras dan upaya cerdas dari masyarakat yang bergelut di dalamnya sajalah perubahan “nasib” pesantren dapat dihadapkan lebih cepat kehadirannya. Upaya mencari solusi tataran ini menjadi begitu mendesak dan memilki arti penting.

B. Rumusan Masalah

Dari pemaparan latar belakang masalah di atas, penulis dapat merumuskan masalahnya, yaitu sebagai berikut :
Apa saja bentuk-bentuk pergeseran Pesantren?
Apa saja penyebab pergeseran paradigma Pesantren?
Bagaimana implikasi Pergeseran Paradigma Tasawuf ke paradigma Fiqih?

PEMBAHASAN

A. Makna dan Tujuan Pendidikan Islam

Makna dan tujuan adalah dua unsur yang saling berkaitan, yang telah menarik perhatian para filosof dan pakar pendidikan sejak dahulu. Adanya perbedaan konseptualisasi dan penjelasan kedua unsur ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam memahami hakekat, peranan, dan tujuan hidup manusia di dunia, yang ternyata sangat berkaitan dengan serentetan pertanyaan mengenai hakikat ilmu pengetahuan dan realitas mutlak. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika ada perbedaan pendapat di kalangan filosof dan tokoh pendidikan selama ini.

Tujuan adalah dunia cita, yakni suasana ideal yang hendak diwujudkan.[10] Sehingga dengan mengetahui bagaimana manusia ideal dalam pandangan Islam, akan mudah memformulasikan kerangka hasil yang ideal, yang hendak diwujudan dan dicapai melalui proses pendidikan Islam. Pendidikan Islam tradisional dalam menjadikan keberhasilan individu dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sebagai cita-cita dan tujuan pendidikan yang terpenting.

Secara umum, ada dua pandangan teoritis mengenai tujuan pendidikan, masing-masing dengan tingkat keragamannya tersendiri. Pandangan teoritis yang pertama berorientasi pada kemasyarakatan, dan pandangan teoritis yang kedua lebih berorientasi pada individu,[11] yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung dan minat pelajar.

Berangkat dari asumsi bahwa manusia adalah makhluk sosial dan ilmu pengetahuan pada dasarnya dibina atas dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, mereka yang berpandangan kemasyarakatan berpendapat bahwa pendidikan bertujuan mempersiapkan manusia yang bisa berperan dan menyesuaikan diri dalam masyarakatnya masing-masing.[12] Sementara itu, pandangan teoritis yang berorientasi individu berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik agar meraih kebahagian yang optimal melalui pencapaian kehidupan bermasyarakat jauh lebih berhasil dari yang pernah dicapai oleh orang tua mereka, dan lebih menekankan peningkatan intelektual, kekayaan, dan keseimbangan peserta didik.

Sejalan dengan pandangan di atas, Al-Syaibani juga menjabarkan tujuan pendidikan Islam menjadi 2, yaitu ; pertama, tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan-perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani dan rohani serta dunia dan akhirat; kedua, tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, perubahan kehidupan dalam masyarakat, serta memperkaya pengalaman masyarakat.[13]

B. Sejarah Munculnya Pesantren

Secara sosio-historis pesantren dipandang sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang didirikan oleh para Ulama (Kyiai). Pesantren didirikan dalam rangka mendidik masyarakat untuk memahami dan melaksanakan ajaran Islam, dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman hidup. Pengertian tertua dalam hal ini, karena pesantren adalah lembaga yang telah lama hidup ratusan tahun yang lalu tepatnya abad 14 M. dan sampai saat ini masih eksis, bahkan telah menjadi bagian yang mendalam dari sistem kehidupan sebagian besar umat Islam di Indonesia dan turut mewarnai dinamika bangsa Indonesia.

Melacak akar tradisi pesantren, tidak cukup hanya melihat aspek kebahasaan, sebab pesantren dengan segala karakternya yang khas semakin memberikan gambaran batapa sulit untuk mengetahui secara pasti tentang asal-usul pesantren .

Sebelum membahas kapan pertama kali pesantren didirikan di Indonesia, terlebih dahulu perlu melacak asal-mula Islam masuk di Indonesia. Dalam hal ini para ahli sejarah saling berbeda pendapat, sebagian memperkirakan masuknya Islam ke Indonesia dimulai sejak abad ketujuh, sebagian lain memperkirakan bahwa Islam telah mulai berkembang di Indonesia sekitar abad 11, dengan salah satu bukti yang paling kuat, yaitu ditemukannya batu nisan Fathimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat tahun 475 H atau tahun 1082 M. di Leran Gersik Jawa Timur.[14]

Terlepas dari perbedaan seputar kapan masuknya Islam di Indonesia, namun terjadinya kontak yang lebih intens antara budaya Hindu-Budha dan Islam dimulai sekitar abad 13.[15] Jalur Islam semakin memperoleh bentuknya ketika para Wali Songo mulai melakukan penetrasi dan berinteraksi dengan kekuasaan, yaitu ketika terjadi pergantian kekuasaan dari Majapahit ke Kesultanan Demak Bintoro yang dipimpin oleh Raden Fattah pada abad 15. Pada masa ini nilai-nilai Islam berangsur-angsur menggantikan budaya Hindu. Pada saat itu Islamisasi masyarakat jawa yang dilakukan oleh Wali Songo berjalan sangat lempang. Pengaruh Islam menyebar hampir keseluruh pulau jawa, kecuali beberapa daerah yang terletak di pedalaman.[16]

Persoalan yang menarik di sini adalah bahwa ketika Islam masuk di Indonesia relatif bisa diterima dan menyebar dengan cepat, bahkan prosesnya berlangsung dengan damai. Dalam sosiologi bahwa penyebaran agama atau ideologi akan mudah tercapai dengan menguasai kekuasan, sebab kekuasaan merupakan sarana strategis membangun dan membina umat.

Namun yang unik dikemukakan adalah kondisi yang berbeda antara penyebaran Islam di jazirah Arab dan di Indonesia. Perbedaan itu bisa dilihat dari beberapa tulisan sejarah yang menyebutkan bahwa penyebaran Islam di Timur Tengah dengan jalan penaklukan dan penjajahan dengan kata lain penerapan hukum Islam (fiqih). Berbeda dengan konteks Indonesia, yang dilandasi dengan nilai-nilai toleran dan nilai-nilai budaya, bukan penerapan hukum fiqih, tetapi memasukkkan nilai-nilai esensial Islam dalam kehidupan masyarakat. Hal ini karena Islam yang didatangkan dari India dan Persia oleh para Wali Songo tidak bisa lepas dari ajaran-ajaran dasar tassawuf.[17]

Penggunaan pendekatan tasawuf oleh kalangan penyebar Islam di Jawa dikarenakan konteks masyarakat jawa pada saat itu dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha di mana dalam ajarannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Islam yang menekankan toleransi dan lebih pada substansi dari pada formalis, yaitu ajaran tasawuf. Yang menarik, jika kita melihat konteks timur tengah sebagai pusat peradaban Islam pada masa itu, di mana pada saat Islam masuk ke Indonesia, Islam di Timur Tengah sudah malakukan pembukuan ilmu-ilmu fiqih, dan ilmu fiqih pada saat itu mendapat prioritas yang lebih dibandingkan ilmu tasawuf. Di sisnilah kita bisa melihat betapa tepatnya para Wali Songo tetap menggukan pendekatan tasawuf.

Keberadaan Wali Songo yang juga pelopor pendirinya pesantren dalam perkembangan Islam di Jawa sangatlah penting sehubungan dengan peranannya yang sangat dominan. Wali Songo melakukan suatu proses yang tak berujung, gradual, dan berhasil dalam menciptakan satu tatanan masyarakat santri yang saling damai dan berdampingan. Selanjutnya, oleh beberapa Wali Songo yang menggunakan pesantren sebagai tempat menyebarkan dan mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Jawa diintegrasikan dengan pendekatan yang berkesesuaian dengan filsafat hidup masyarakat Jawa.[18]

C. Karakteristik Pendidikan Pesantren

Sebelum membahas lebih jauh tentang karakteristik pendidikan pesantren, perlu kiranya mengetahui tujuan didirikannya pesantren. Secara umum tujuan didirikan pesantern pada dasarnya dibagi menjadi dua, yaitu : tujuan umum, membimbing santri untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup menyalurkan keilmuannya dalam masyarakat luas dengan ilmu dan amalnya. Tujuan khusus, mempersiapkan para santri uintuk menjadi orang yang ahli dan menguasai ilmu keagamaan yang kemudian diamalkan dalam masyarakat sekitar tempat hidupnya.[19]

Menghormati guru, yaitu janganlah berjalan di depannya, duduk di tempatnya, mulai mengajak bicara kecuali diperkenankannya, berbicara macam-macam, menanyakan hal yang membosankan, jangan mengetuk pintu rumahnya, cukuplah menanti di luar hingga ia sendiri keluar dari rumahnya, hormati pula anak serta semua semua orang yang berkerabat dengannya

Demikian paparan yang diungkap oleh Syekh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limu al-Muta’alim li Thariqi al-Ilmi yang ditulis pada abad XIV Masehi. Yang menarik adalah kitab ini dijadikan pegangan di pondok-pondok pesantren sebagai pedoman yang secara tidak resmi menjadi standar pola pendidikan pesantren. Kitab tersebut menjadi rujukan karena sistematika penulisan dan isi materinya amat bagus, seperti metode belajar yang praktis, etika berinteraksi antara civitas dalam komunitas pesantren dan sebagainya. Hanya saja yang perlu dikritisi adalah implementasi paparan di atas yang acapkali lebih mengedepankan laku pengkultusan sang Kyiai. Namun jika diinterpretesikan lebih mendalam dan kontekstual, sebenarnya konsep yang diusung Az-Zarnuji akan lebih humanis. Terlihat dari apa yang dianjurkan Az-Zarnuji, seorang muta’allim (murid) bebas dan leluasa memilih pelajaran yang diinginkan dan juga sekaligus bebas memilih guru untuk membimbingnya mempelajari pelajaran yang telah dipilihnya. Bahkan lebih dari itu, waktu dan lama belajarpun seorang muata’allim bebas menentukan sendiri, namun Az-Zarnuji juga memberi ajuran hari apa yang tepat untuk memulai belajar.

Terlepas dari persoalan di atas, dalam perspektif sosiologis pesantren dipandang sebagai satu relaitas sosial budaya yang memiliki banyak persamaan dan perbedaan sekaligus antar masing-masing pesantren pada umumnya dan banyak perbedaan di tengah perubahan kehidupan masyarakat indonesia. Menurut Abduahman Wahid,[20] nilai perbedaan pesantren disebut sebagai suatu subkultur di tengah-tengah masyarakat luas. Perbedaan antar masing-masing pesantren, karena para Kyiai betul-betul memperhatikan pertalian nasab dalam mengembangkan pesantrennya. Kalaupun tidak berdasarkan nasab biasanya berkaitan dengan ikatan emosional yang sangat kuat antara Kyiai dan santri, sehingga cenderung untuk mempertahankan kebiasaan dan tradisi yang diwariskan oleh Kyiainya.

Perbedaan yang mencolok antara pesantren dan masyarakat pada umumnya, dapat dilihat dari kehidupan masyarakat yang begitu cepat mengalami perubahan yang disebabkan oleh arus informasi dan perubahan budaya masyarakat akibat pengaruh yang berasal dari sebagai konsekuensi dari dunia global yang juga merupakan realitas yang tidak dapat dielakkan. Sikap konsumtif dan pandangan hidup materialistis masyarakat sebagai akibat dari pandangan filsafat positivistik, yang menghitung segala sesuatu dengan matematis dan materialistis adalah kenyataan yag terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini.

Pondok pesantren dalam bacaan teknis merupakan suatu tempat yang dihuni oleh para santri. Pernyataan ini menunjukkan makna pentingnya ciri-ciri pondok pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang integral. Sistem pendidikan pesantren sebetulnya sama dengan sistem yang digunakan Akademi Militer, yakni dicirikan dengan adanya sebuah bangunan beranda yang di situ seseorang dapat mengambil pengalaman integral. Dibandingkan dengan lingkungan pendidikan parsial yang ditawarkan sistem pendidikan sekolah umum di Indonesia sekarang ini, sebagai budaya pendidikan nasioanal, pondok pesantren mempunyai kultur yang unik. Karena keunikannya, pondok pesantren digolongkan kedalam subkultur tersendiri dalam masyarakat Indonesia.[21]

Pesantren disebut sebagai subkultur, menurut Abdurraman Wahid, karena ada tiga elemen yang membentuk pondok pesantren, yaitu, pertama, pola kepemimpinan pondok pesantren yang mandiri tidak terkooptasi oleh Negara, kedua, kitab-kitab rujukan umum yang selalu digunakan dari berbagai abad, dan ketiga, sistem nilai yang digunakan adalah bagian dari masyarakat luas.[22]

Kepemimpinan pondok pesantren dikatakan unik karena memakai sistem kepemiminan tradisional, relasi sosial Kyiai dan santri dibangun atas dasar kepercayaan dan penghormatan kepada seorang yang memiliki ilmu keagamaan yang tinggi, sebagaimana ajaran sufi. Hal itu sejatinya bukanlah penghormatan kepada manusianya, tetapi lebih kepada ketinggian ilmu yang diberikan Allah SWT kepada seorang Kyiai.

Elemen kedua dari pondok pesantren adalah memelihara dan mentransfer literatur-literatur umum dari generasi kegenerasi dalam berbagai abad. Dalam pendidikan pondok pesantren, aturan dalam terks-teks klasik yang dikenal dengan kitab kuning dimaksudkan untuk membekali para santri dengan pemahaman warisan yurisprudensi masa lampau atau jalan kebenaran menuju kesadaran esoteris ihwal status penghambaan di hadapan Tuhan,[23] dan dengan tugas-tugas masa depan dalam kehidupan masyarakat.

Dilihat dari kurikulumnya, ciri kurikulum pesantren memadukan penguasaan sumber ajaran Illahi (bersumber dari Allah SWT) menjadi peragaan individual untuk disemaikan ke dalam hidup bermasyarakat. Selain mengenalkan ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (prilaku) dalam pengajarannya, sejak lama pesantren mendasarkan diri pada tiga ranah utama; yaitu faqohah (kecukupan atau kedalaman pemahaman agama), tabi’ah (perangai, watak, atau karakter), dan kafaa’ah (kecakapan operasional).[24] Jika pendidikan merupakan upaya perubahan, maka yang dirubah adalah tiga ranah tersebut, dan tentu saja perubahan kearah yang lebih baik.

Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. Dalam sistem pendidikannya, pesantren melestarikan ciri-ciri khas dalam interaksi sosial yaitu :
Adanya hubungan yang akrab antara santri dengan Kyiai serta taat-hormatnya para santri kepada Kyiai, yang merupakan figur kharismatik panutan kebaikan.
Jiwa semangat tolong menolong, kesetiakawanan, suasana persaudaraan dan kebersamaan.
Disiplin waktu dalam melaksanakan pendidikan dan beribadah.
Hidup hemat dan sederhana.
Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan, seperti tirakat, shalat tahajud di malam hari, iktikaf dan sebagainya.
Merintis sikap jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan.

D. Fungsi dan Peran Pesantren

Pesantren secara ideal mempunyai dua fungsi; mobilitas sosial dan pelestarian nilai-nilai etik serta pengembangan tradisi intelektual. Fungsi pertama menempatkan pendidikan pesantren sebagai sarana dan instrumen melakukan sosialisasi dan ternsformasi nilai agar umat mampu melakukan mobilisasi sosial berdasarkan pada nilai agama. Fungsi kedua lebih bersifat aktif dan progresif, di mana pesantren dipahami tidak saja sebagai upaya mempertahankan nilai dan melakukan mobilisasi sosial, lebih dari itu merupakan sarana pengembangan nilai dan ajaran. Ini menuntut terjadinya interdependensi, otonomi dan pembebasan dari setiap belenggu baik struktural maupun kultural karena pengembangan intelektual bisa terjadi jika menusianya independen dan tidak terikat baik secara fisik maupun mental.[25]

Kenyataanya di pesantren saat ini, kedua fungsi tersebut tidak berimbang. Pola pendidikannya masih menampakkan diri sebagai instrumen model pertama, yakni wahana sosialisasi dan legitimasi madzhab. Untuk membangkitkan pesantren dari tidur panjangnya banyak hal yang harus dilakukan di antaranya menyuburkan daya nalar pesantren. Dinamika budaya dan perubahan sosial merupakan tantangan dunia pesantren di mana ketahanan nilai tradisi bergabung pada tiga hal. Pertama, kemampuan internal tradisi berhadapan dengan kekuatan eksternal baik bersifat ideologis maupun kultural, kedua, berkembangnya pikiran kritis; Ketiga, kemampuan generasi pendukungnya melakukan telaah kritis dan menyusun kembali tradisi alternatif bahkan perlawanan.

Perubahan sosial dan pemunduran tradisi keagamaan akan kian kompleks seiring kecenderungan global yang akan mengelami disfungsi yang sama. Untuk itu perlu basis intelektual yang mampu menyesuaikan persoalan yang timbul. Karenanya diperlukan metodologi pemahaman keagamaan dan pengembangan kroninya secara kritis dengan wawasan yang integral.

Pesantren, sebagai suatu subkultur, lahir dan berkembang seiring dengan derap langkah perubahan-perubahan yang ada dalam masyarakat global. Perubahan-perubahan yang terus berggulir itu, cepat atau lambat, pasti akan mengimbas pada komunitas pesantren sebagai bagian dari masyarakat dunia, meskipun tidak dikehendaki. Karenanya, tidaklah berlebihan jika A. Sahal Mahfudz menyebutkan bahwa ada dua potensi besar yang dimilki pesantren, yakni potensi pengembangan masyarakat dan potensi pendidikan.[26] Dalam kaitan ini, bila ditilik dari kehadirannya, menarik kiranya untuk disimak bahwa institusi pesantren ternyata memilki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan perannya dewasa ini. Dalam hubungannya dengan potensi di atas, kehadiran pesantren disebut unik sekuarang-kurangnya karena ada dua alasan sebagai berikut.

Pertama, pesantren dilahirkan untuk memberikan respon terhadap situasi dan kondisi sosial suatu masyarakat yang tengah dihadapkan pada runtuhnya sendi-sendi moral, melalui transformasi nilai yang ditawarkannya (amar ma’ruf dan nahy munkar). Kehadirannya, dengan demikian bisa disebut sebagai agen perubahan sosial (agent of social change), yang selalu melakukan kerja-kerja pembebasan (liberation) pada masyarakatnya dari segala keburukan moral, penindasan politik, pemiskinan ilmu pengetahuan, dan bahkan dari pemiskinan ekonomi. Institusi pesantren, dengan begitu, mengesankan telah berhasil mentransformasikan masyarakat di sekitarnya dari keburukan menuju kesalihan, dan dari kefakiran menuju pada kemakmuran atau kesejahteraan. Oleh karenanya, kehadiran pesantren menjadi seuatu keniscayaan sebagai bentuk institusi yang dilahirkan atas kehendak dan kebutuhan masyarakat. Dengan kesadarannya, pesantren dan masyarakat telah membentuk hubungan dengan harmonis, sehingga komunitas pesantren kemudian diakui menjadi bagian tak terpisahkan atau sub-kultur dari masyarakat pembentuknya. Pada tataran ini, pesantren telah berfungsi sebagi pelaku pengembangan masyarakat.[27]

Kedua, salah satu misi awal didirikannya pesantren adalah menyebar-luaskan informasi ajaran tentang universalitas Islam ke seluruh pelosok Nusantara yang berwatak pluralis, baik dalam dimensi kepercayaan, budaya maupun kondisi sosial masyarakat.[28] Melalui medium pendidikan yang dikembangkan para Wali dalam bentuk pesantren, ajaran Islam lebih cepat membumi di Indonesia. Hal ini tampaknya menjadai fenomena tersendiri bagi keberadaan pesantren sebagi bagian dari historisnya di Indonesia yang dapat menjelaskan elanvital peran pesantren tatkala melahirkan kader-kadernya untuk dipersiapkan memasuki segala sistem kehidupan masa itu.

Dengan institusi pesantren yang dibangunnya, para Wali berhasil menginternalisasikan nilai-nilai Islam dalam lingkungan masyarakat. Idealisasi bangunan masyarakat yang ditempuh adalah sebuah masyarakat muslim yang inklusif, egaliter, patriotik, luwes dan bergairah terhadap upaya-upaya transformative. Misi kedua ini lebih berorientasi pada peran pesantren sebagai sebuah institusi pendidikan Islam.

E. Paradigma dan Pergeserannya

Sebelum membahas bentuk-bentuk pergeseran pesantren lebih lanjut, perlu kiranya untuk membahas teori pergeseran paradigma. Paradigma pertama kali muncul disuarakan oleh filosof asal Amerika Serikat yang bernama Thomas Kuhn tentang pandangannya terhadap perkembangan ilmu, yang merupakan respon terhadap pandangan neopositivisme dan Popper. Proses verifikasi dan konfirmasi-eksperimentasi dari bahasa ilmiah yang dalam pandangan Vienna Circle (lingkaran Vienna), merupakan langkah dan proses perkembangan ilmu, sekaligus sebagai pembeda antara yang disebut ilmu dengan yang bukan ilmu.[29] Sementara menurut Popper, proses perkembangan ilmu adalah dengan proses yang disebut falsifikasi (proses ekseperimentasi untuk membuktikan salah dari suatu teori) dan refutasi (penyangkalan teori).[30] Keduanya jelas memiliki nuansa positivistik dan karenanya juga objektifistik, yang cenderung memisahkan antara ilmu dan subyektifitas.

Kuhn menolak pandangan di atas dan memandang ilmu dari perspektif sejarah. Istilah paradigma oleh Kuhn dipakai untuk menggambarkan sistem keyakinan yang mendasari upaya pemecahan teka-teki di dalam ilmu.[31] Dengan memakai istilah paradigma ia bermaksud mengajukan sejumlah contoh yang telah diterima tentang praktek ilmiah nyata, termasuk hukum, teori, aplikasi dan instrumentasi, yang menyediakan model-model, yang menjadi sumber konsistensi dari tradisi riset ilmiah tertentu. Paradigma tunggal ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science). Yang dimaksudkan dengan ilmu normal adalah penelitian yang dengan teguh berdasar atas satu atau lebih pencapaian ilmiah.

Menurut Kuhn, paradigma ilmu adalah suatu kerangka teoritis, atau cara memandang dan memahami alam, yang telah digunakan oleh sekelompok ilmuwan sebagai pandangan dunianya. Paradigma ilmu berfungsi sebagai lensa yang melaluinya seseorang dapat mengamati dan memahami masalah-masalah berserta jawaban-jawaban masalah tersebut. Paradigma ilmu dapat dianggap sebagai suatu skema kognitif yang dimiliki bersama. Sebagaimana skema kognitif itu memberi kita sebagai individu suatu cara untuk mengerti alam sekeliling.

Pergeseran paradigma akan mengubah konsep-konsep dasar yang melandasi riset dan mengilhami standar-standar pembuktian baru, teknik-teknik baru, serta jalur teori baru yang secara radikal tidak bisa dibandingkan lagi dengan yang lama. Setiap paradigma dapat menghasilkan karya khusus yang menentukan dan membentuk paradigma baru. Perkembangan ilmu tidak disebabkan oleh dikuatkan dan dibatalkannya suatu teori, tetapi lebih disebabkan oleh adanya pergeseran paradigma.

Thomas Kuhn mengembangkan konsep paradigma untuk memperlihatkan adanya perubahan dan pergeseran secara revolusioner dalam ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya menurut Kuhn bahwa dalam revolusi ilmu pengetahuan paradigma lama selalu digantikan oleh paradigma baru. Pergeseran paradigma itu sangat radikal, dan tidak ada kontinuitas di antara kedua paradigma tersebut.[32]

Cara kerja paradigma dan terjadinya revolusi ilmiah dapat digambarkan secara umum kedalam tahap-tahap berikut. Pertama, paradigma membimbing dan mengarahkan aktifitas ilmiah. Di sini para ilmuwan menjabarkan dan mengembangkan paradigma sebagai model ilmiah yang digelutinya secara rinci dan mendalam. Dalam tahap ini para ilmuwan tidak begitu kritis terhadap paradigma yang membimbing aktifitas ilmiahnya. Kemudian, ketika menjalankan aktifitas ilmiah tersebut, para ilmuwan menjumpai berbagai fenomana yang tidak dapat diterangkan dengan peradigma yang digunakan sebagai bimbingan aktifitas ilmiahnya, inilah yang oleh Kuhn dinamakan anomali.[33] Anomali adalah suatu keadaan yang memperlihatkan adanya ketidak cocokan antara kenyataan (fenomena) dengan paradigma yang dipakai.

Tahap kedua, menumpuknya anomali menimbulkan krisis kepercayaan diri para ilmuwan terhadap paradigma yang digunakannya, kemudian mulai diperiksa dan dipertanyakan. Para ilmuwan mulai keluar dari jalur normal saince.[34] Tahap ketiga, para ilmuwan bisa kembali pada cara-cara ilmiah yang lama sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigma baru yang dipandang bisa memcahkan masalah dan membimbing aktifitas ilmiah berikutnya. Proses peralihan paradigma lama ke paradigma baru inilah yang dinamakan revolusi ilmiahnyah.[35]

F. Pergeseran Paradigma Pesantren

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas tentang pergeseran paradigma lama keparadigma baru, bahwa jika paradigma lama tidak mampu menjawab persoalan atau anomal-anomali yang muncul kemudian bersusaha mencari paradigma baru yang sekiranya dapat digunakan sebagai pijakan untuk menjawab anomali tersebut. Demikian halnya dengan pesantren, jika pada masa awal berdirinya pesantren masih mampu manjawab persoalan-persoalan yang muncul dalam sosiokultur masyarakat sekitar, namun pada masa selanjutnya persoalan-persoalan yang muncul dalam masyarakat semakin kompleks, dan paradigma yang digunakan pesantren sudah kurang mampu atau bahkan tidak sesuai dengan harapan, maka para tokoh dalam pesantren berusaha mencari solusi yang tepat untuk dapat menjawab persoalan tersebut. Di sisni terjadilah pergeseran dari paradigma lama ke paradigma baru yang dianggap lebih tepat dengan kondisi sosiokultur masyarakat.

Paradigma yang digunakan oleh pesantren pada awal berdirinya, tentunya juga disesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitar pada waktu itu. Jika pada awal berdirinya pesantren kondisi masyarakat sekitar adalah sangat kental dengan budaya dan ajaran Hindu-Buddha, maka paradigma yang dipakai oleh pesantren pun harus sesuai dan tidak bertentangan dengan budaya lokal (Hindu-Buddha). Sedangkan dalam Islam ajaran yang sangat menghormati budaya ajaran lain adalah ajaran tasawuf, dimana dalam ajaran tasawuf rasa toleransi sangat dikedepankan.

Pada perkembangan selanjutnya, kondisi masyarakat sekitar pesantren telah memeluk agama Islam dan mewarnai budaya lokal dengan ajaran Islam, sebagaimana penyebaran Islam yang dilakukan oleh para Wali Songo. Karena penanaman ajaran tasawuf atau tauhid telah berhasil dilakukan, maka kalangan pesantren menganggap sudah saatnya untuk mengubah orientasi dari ajaran tasawuf kepada penerapan hukum fiqih. Selain itu, pergeseran tersebut juga dikarenakan banyaknya generasi pesantren yang belajar di negeri Arab untuk memperdalam ajaran Islam, di mana kondisi bangsa Arab saat itu terkenal dengan al-Ahlul al-Hadits yang tentunya ajaran Islam yang dikembangkan lebih kental dengan fiqihnya.

G. Paradigma Pesantren

1. Paradigma Tasawuf

Sebagai bagian dari lembaga bimbingan keagamaan, jika kita lacak, tradisi keilmuan Islam di pesantren bersumber dari dua dekade, yakni dekade pengetahuan keislaman yang datang ke Nusantara pada abad ke 13, dan yang kedua, dekade ketika para anak-anak muda dari kawasan nusantara berlayar menuntut Ilmu disemenanjung Arabia, khususnya di Mekkah dan sekembalinya ke tanah air mereka mendirikan pesantren-pesantren, kemudian menjadi pesantren-pesantren besar.[36] Pada dekade pertama, manifestasi keilmuan Islam yang datang ke Indonesia adalah dalam bentuk tasawuf, sementara pada dekade kedua muncul ilmu-ilmu keislaman yang lebih mendalam pada fan Fiqih, hal ini ditandai dengan lahirnya ulama-ulama fiqih besar seperti Kyiai Nawawi Banten, Kyiai Abdul Ghoni Bima, Kyiai Mahfudz Tremas, Kyiai Khalil Bangkalan, dan sebagainya.[37]

Gelombang pertama keilmuan Islam yang bercorak tasawuf terjadi karena awal masuknya Islam di Indonesia dalam bentuk ilmu jadi dari dataran Persia yang juga dikembangkan di dataran India dimana kedua dataran tersebut banyak memunculkan ulama-ulama tasawuf.[38] Ilmu tasawuf adalah ilmu yang memungkinkan manusia mengetahui diri dan kedudukannya di hadapan Allah SWT. Modus hubungan antara manusia dengan Sang Khaliq menjadi kajian utama, seperti tawakal, zuhud dan sebagainya. Modalitas manusia yang berupa jasad, akal, ruh dan nafsu serta qalbu sama pentingnya sebagai isi ilmu tasawuf, dengan perihal rute dan terminal perjalanan ruhani; yang kesemuanya merupakan ilmu yang tidak cukup diceramahkan, melainkan hanya bisa dipahami dan dijalani.

Dalam tasawuf tingkatan pengetahuan atau ilmu dibagi ke dalam empat tingkatan, yaitu : Syari’ah, Thariqat, Hakikat, dan Ma’rifat. Syari’ah adalah ilmu yang dianggap sebagai kulit dari ajaran Islam, ajaran Islam Syari’ah ini lebih bersifat legal-formal, dengan kata lain memandang suatu persoalan sesuai dengan ketentuan hukum dan Syari’ah yang berlaku, bahkan terkadang juga sesuai dengan madzhab fiqih yang dianut. Tingkatan kedua, yaitu Thariqat, sebagaimana arti Thariqat itu sendiri, yakni “jalan” atau bisa dikatakan jalan untuk mencari ketentraman dunia dan akhirat melalui bacaan-bacaan aurad (dzikir) yang sering dilakukan melaui istighatsah, manaqib, dan sebagainya. Dalam Thariqat masih terbagi-bagi lagi menjadi beberapa aliran Thariqat.

Sementara aliran yang ketiga, yaitu Hakikat lebih pada makna dan substansi ajaran Islam, yaitu tauhid, dan ketika memandang persolan lebih bersifat toleran asalkan substansinya tidak melenceng dari ketauhidan. Akhlak dan perilaku dalam tingkatan yang ketiga ini lebih dikedepankan. Sedangkan tingkatan yang terakhir, yaitu Ma’rifat, mengajarkan ketauhidan yang lebih mendalam lagi sampai pada kefanaan diri dan alam, yang ada hanyalah subtstansi Tuhan, manusia yang sudah berada pada tingkatan ini merasa telah bersatu dengan Tuhan (wahdatul wujud).

Jika kita melacak kesejarahan ilmu tasawuf, sebenarnya sudah ada semenjak periode tabi’in, namun pada masa itu tasawuf yang berkembang bersifat liar, artinya tidak terpaku pada satu atau dua aliran tertentu. Namun, ketika memasuki periode pasca Imam Al-Ghazali, ilmu taswuf mulai membentuk aliran-aliran, dan bersifat akhlaqiyah dan ‘ubudiyah. Pada perkembangan selanjutnya ilmu tasawuf bercabang-cabang menjadi beberapa aliran, bersamaan dengan pembukuan ilmu-ilmu fiqih yang dipelopori oleh para imam madzhab.

2. Paradigma Fiqih

Sebagaimana karakter syari’ah yang sangat menunjukkan sifat legal formal, fiqih juga demikian, selalu mengedepanan sifat legal-formal, doktriner, serta justifikasi yang berkecenderungan menampilkan Islam serba harfiah dan sesuai dengan hukum fiqih atau tata aturan syari’ah yang sah. Model berfikir serba formalistik atau legalistik tersebut berbeda kontras dengan corak Islam yang mengedepankan hakikat dan substansi sebagaimana logika ilmu kalam dan tasawuf. Bagi kalangan syariah atau fiqih, bahwa islam itu ialah isi dan kulit sekaligus, substansi itu penting, tetapi formalisasi justru akan mengamankan substansi.[39]

Karakter legalitas, doktriner dan justifikasi pada Islam Syari’ah merupakan keniscayaan dari paradigma Islam syari’ah yang berorientasi serba hukum atau fiqih Islam dalam logika “al-Ahkam Al-Khomash” (lima prinsip hukum) yaitu, wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Sehingga melahirkan kaca mata serba hitam putih.[40]

Ilmu fiqih sendiri mulai memeprlihatkan perkembangannya sekitar abad 13 M. tepatnya pada masa pemerinyahan bani Abassiyah. Di mana pada masa tersebut keilmuan Islam sangat dipengaruhi oleh keilmuan Yunani kuno yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.[41]

H. Pergeseran Oreintasi Pesantren

1. Orientasi Tasawwuf

Sebagian besar kitab kuning yang diplajari dipesantren mengandung nuansa-nuansa tasawuf, beberapa diantaranya adalah Durrah an-Nashihin, bidayah al-Hidayah, Minhaj al Abidin, Ihya’ ‘Ulum ad-Diin, Mizan al-Kubra, dan Sarh al_Hikam.

Orientasi kitab kuning seperti ini jelas sangat mempengaruhi pandangan, pemikiran, dan sikap hidup masyarakat pesantren. Disatu sisi, orientasi itu dapat membentuk kepribadian yang luhur, dan disisi lain pemahaman atas sufisme dan kehidupan tharekat seringkali mengalahkan dimensi nalar intelaktualitas. Keadaan ini terbukti ketika kajian kitab kuning manthiq kurang memperolah perhatian. Kitab as-Sulam Al-Munawraq, sebuah kitab kuning tentang logika memang masih diajarkan di beberapa pesantren, akan tetapi tidak dijadikan kajian yang penting. Tampaknya imbauan Imam al-Ghozali untuk mengkaji ilmu ini tidak cukup mampu mengalahkan statemen Ibn Shalaah dan Imam Nawawi yang justru mengharamkannya.

Fenomena di atas sangat menarik karena di satu sisi kajian tentang aspek tasawwuf memperoleh aspirasi yang tinggi, dan di sisi lain kajian tentang aspek logika terjadi sebaliknya. Namun kita bisa meihat terlebih dahulu tokoh yang meganjurkan untuk mempelajari logika dan tokoh yang mengharamkan mempelajari logika. Al-Gozali, adalah seorang filosof Islam yang juga sufisme besar di abad pertengahan, bahkan karangannya tentang tasawwuf yang tertuang dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din dan Bidayah al-Hidayah banyak dipakai dalam kajian pesantren, meskipun kadarnya sangat minim. Melihat horizont (latar belakang) yang dimiliki Imam al-Ghozali sangat dimaklumi jika beliau menganjurkan untuk mempelajari ilmu logika dan filsafat. Berbeda dengan kedua tokoh (Ibn Shalaah dan Imam Nawawi) yang mengharamkan untuk mempelajari logika dan filsafat, mereka berstatus sebagai ahl al-Hadits yang identik ilmu fiqihnya.

Jika melihat ajaran dalam ilmu tasawuf, orientasi yang digagas adalah penyerahan diri kepada sang khalik secara muthlak, artinya bahwa setiap apa yang dikerjakan merupakan untuk beribadah kepada Tuhan, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Quran bahwa tujuan jin dan manusia diciptakan tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada sang Khalik. Bentuk ibadahnya pun bermacam-macam, setiap perbuatan yang bernilai baik adalah ibadah, tidak terpaku pada hukum syari’ah. Nilai baik dalam ibadah tersebut juga tidak secara baku ditetapkan, namun mempunyai neraca-neraca kebenaran yang universal.

Perlu ditekankan bahwa yang paradigma tasawuf di sini bukanlah tasawuf yang dimaknai secara sempit yang identik dengan ajaran tarekat-tarekat yang justru malah bersifat individualis dan seringkali menimbulkan rasa pesimistis. Namun tasawuf secara luas yang menekankan pada rasa toleransi dan kesederhanaan yang menimbang kebenaran secara universal.

2. Orientasi Fiqih

Pesantren yang selama ini Hukum fiqih bila kita ditafsiri dengan makna tekstual seperti yang selama ini dilakukan oleh banyak lembaga pesantren dengan forumnya yang bernama bahsul masa’il, selalu menghadirkan produk hukum positif yang terkesan fiqih sentris dalam beragama. Hal ini dapat kita lihat dari metode bahsul masil itu sendiri, di mana dalam kajian ini selalu mengedepankan I’barah hanya dari kitab-kitab fiqih muktabar. Sedangkan kitab-kitab ajaran tasawuf tidak dijadikan referensi dalam mengambil keputusan hukum.

Untuk melihat orientasi fiqih yang ada di pesantren, tentunya kita juga harus melihat kadar materi pelajaran yang diajarkan pesantren-pesantren selama ini. Ketika pesantren sudah mengadopsi sistem pembelajaran modern yang berparadigma positivistik, kitab-kitab yang diajarkan pesantren kadar fiqihnya lebih tinggi dibandingkan dengan kadar kitab yang berorientasi tasawuf.

Dikarenakan setiap masalah yang ada dalam realitas selalu dipandang melalui hukum fiqih dan metode intepretasi yang tekstualis di mana orientasi fiqih selalu menundukkan realitas kepada kebenaran fiqih yang berwatak hitam dan putih (halal-haram). Sehingga sesuatu yang berbeda dan berada di luar hukum fiqih selalu diangaggap sebagai barang bid’ah bahkan haram. Ironisnya pemahaman keagaman yang sempit inilah justru yang banyak dianut umat Islam. Ini karena pemahaman tersebut selain mendapat dukungan dari kelompok yang dominan di masyarakat juga karena pelestariannya dilakukan dengan berbagai cara dengan memanfaatkan berbagai media yang ada. Dengan demikian ajaran agama yang seharusnya menjadi dasar perubahan, bahkan menjadi alat pelanggengan status quo.

Mayoritas pesantren masa kini terkesan berada di menara gading, elitis, jauh dari realitas sosial. Problem sosialisasi dan aktualisasi ini ditambah lagi dengan problem keilmuan, yaitu terjadi kesenjangan, alienasi dan deferensiasi antara keilmuan pesantren dengan realitas sosial.[42] Performa elitis yang ditampikan oleh dunia pesantren seakan semakin menjauhkan pesantren dengan basis primordialnya, yaitu warga masyarakat. Sehingga muncul rasa rendahnya rasa memiliki masyarakat terhadap pesantren, dan sebaliknya, pesantren tidak lagi merasa menjadi bagian milik masyarakat.

3. Pergeseran Oerintasi Tasawuf ke Orientasi Fiqih

Sebagaimana telah dijelaskan di atas tentang pergeseran paradigma, di dalam pesantren sebagai lembaga pendidikan nonformal, pergeseran paradigma tersebut sebagai imbas dari pergeseran orientasi. Untuk melihat pergeseran tersebut, tentunya kita harus menelaah terlebih dulu mengenai tujuan umum dari awal didirikannya pesantren, yang kemudian dilanjutkan menelaah sampai pada perkembangannya dan pada akhirnya akan ditemukannya titik pergeserannya.

Pada umumnya, awal berdirinya pesantren mempunyai tujuan pokok, yaitu, memepermudah dakwah Islam di Indonesia. Pesantren didirikan untuk menyampaikan ajaran Islam kepada para santri, yang kemudian setelah santri benar-benar menguasi ilmu dan ajaran agama kembali ke masyarakat asalnya untuk menyampaikan kembali apa yang telah didapat di pesantren kepada masyarakat sekitarnya.

Pada masa awal munculnya pesantren (juga masa awal penyebaran Islam di Indonesia), kondisi sosiokultur masyarakat yang ada, rata-rata diwarnai oleh ajaran Hindu-Buddha, yang juga mempunyai kesamaan dengan ajaran tasawuf dalam Islam. Sehingga ajaran-ajaran yang disampaikan oleh pesantren-pesantren adalah ajaran tasawuf. Hal ini untuk mempermudah diterimanya Islam oleh masyarakat. Selain itu, Islam yang masuk ke Indonesia memang dibawa oleh orang yang dari Persia dan India yang kental dengan ajaran tasawuf.

Kemudian pada masa-masa selanjutnya, ketika ajaran Islam sudah menyebar hampir seluruh masyarakat Indonesia, khususnya jawa, para tokoh Islam dari kalangan pesantren yang jika ditelusuri banyak yang belajar dan memperdalam ajaran Islam ke negeri Arab, mulai merubah orientasi penyebaran ajaran Islam dari yang semula hanya mewarnai budaya lokal dengan ajaran tauhid Islam menjadi penerapan hukum fiqih dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini karena budaya lokal, seperti larung, sesajen dan sebagainya, dianggap sangat dekat dengan kesyirikan, sehingga perlu untuk menghilangkan budaya-budaya yang dianggap dekat dengan kesyirikan dan kekafiran.
I. Pergeseran Sistem Pendidikan dan Kurikulum Pesantren

Setelah mengalami pergesaran orientasi, tentunya kurikulum yang ada dalam pesantrenpun secara sendirinya juga harus mengadakan pergeseran dan perubahan sesuai dengan orientasi dan paradigma yang dipakai.

Pesantren dilihat dari segi kurikulumnya terbagi menjadi tiga model atau tipe, yaitu :
Pesantren Salafiyah atau Tradisional, yaitu pesantren yang sistem pendidikannya semata-mata berdasarkan pada pola-pola lama atau klasik. Jadwal dan kitab yang dikaji tidak mempunyai aturan yang baku, dan sistem pengajarannya masih menggunakan sistem lama, seperti sorogan, bandungan wetonan dan sebagainya.
Pesantren semi modern, yaitu pesantren yang sudah mengadopsi kurikulum sekolah, manajeman dan kurikulum sudah tertata rapi, seperti pembagian kelas (klasikal). Ustadz yang mengajarnya pun dibagi sedemikian rupa, sistem pembelajarannya pun tidak jauh beda dengan sistem yang ada di sekolah formal. Pada pesantren ini, pengelolaan kependidikan sudah tidak dipegang secara penuh oleh Kyiai, tetapi diambil alih oleh pengurus yang terkotak-kotak sesuai dengan bidang-bidang, meskipun kebijakan tertinggi masih dipegang oleh Kyiai.
Pesantren modern, yaitu pesantren yang kurikulumnya dan manajemen pembelajarannya mengadopsi kurikulum pemerintah/formal secara total. Materi pelajaran yang disampaikan oleh sekolah formal juga disampaikan oleh pesantren modern, Kyiai tidak lagi memegang otoritas penuh, namun hanya sebatas penasehat atau pimpinan yayasan yang juga tunduk pada aturan pemerintah.

Perbedaan-perbedaan pesantren di atas menunjukkan adanya pergesran-pergeseran pada sistem pendidikan dan kurikulum pesantren. Karena pada awal kemunculannya, pesantren hanya mempunyai sistem pendidikan tunggal, yaitu tradisional.

Pergeseran-pergeseran kurikulum pesantren tersebut sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang mewajibkan pendidikan formal selama sembilan tahun. Hal ini membuat pesantren mau tidak mau juga harus memberikan kelonggaran kepada santri untuk dapat merealisasikan hal tersebut. Selain itu ketakutan-ketakutan rasional positifistik juga sangat mempengaruhi pergeseran kurikulum pesantren, di mana rasional positivistik selalu mengukur segala sesuatu dengan materi.

J. Pergeseran Budaya Pesantren

Budaya-budaya yang dulu dimiliki pesantren sebagai identitas serta sebagai pembentukan kepribadian, saat ini telah mengalami pergeseran yang sangat jauh. Hal ini dapat kita lihat dari pola hidup kaum santri saat ini, di antaranya : pada masa dulu banyak santri yang memenuhi nafkahnya dengan jalan mencari dengan tangan sendiri, hal ini sudah jarang ditemukan di banyak pesantren manapun, selain budaya masak sendiri juga sudah hilang digantikan budaya makan di warung atau kost.

Budaya-budaya pesantren yang dulunya menawarkan kesederhanaan dan toleransi serta solidaritas, saat ini mulai bergeser pada budaya-budaya modern yang identik dengan kemewahan, konsumtif, dan individualis. Hal ini terbukti dari pola kehidupan santri saat ini, di mana rasa solidaritas terhadap sesama santri sudah mulai mengendur.

Jika pesantren pada masa lampau selalu menggunakan nama-nama dari daerah di mana pesantren tersebut berdiri, seperti Pesantren Jampes, Pesantren Bendo, Pesantren Lirboyo dan sebagainya, kini pesantren-pesantren yang muncul kemudian berubah nama menjadi menggunakan nama-nama berbahasa Arab, seperti Pesantren Salafiyah, Al-Ishlah, Al-Ma’ruf, Al-Amin dan sebagainya. Penggunaan bahasa Aarab itu sendiri mulai menguak sejak abad 20. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren mulai menjaga jarak dengan adat atau budaya setempat. Ini merupakan pilihan sikap untuk membatasi diri pada tugas langsung untuk melayani masyarakat sekitar. Hal ini tidak cukup dipandang sebagai mekanisme pesantren untuk menyatakan kehadirannya secara berbeda dan abai terhadap adat dan budaya sekitar, melainkan merupakan pertanda dimulainya era baru dalam pembelajaran dan budaya di pesantren.[43]

Pesantren yang selama ini merupakan benteng pertahanan masyarakat dari gerusan neoglobalisme dengan berbagai implikasinya, namun sekalipun demikian fakta bahwa perubahan sosial yang menjadi sangat cepat berlangsung di semua belahan dunia, tidak dapat diabaikan, di mana hal inilah yang menjadi tantangan besar pesantren. Perubahan sosial sekarang ini bercirikan mondial, spektakuler, dan radikal.[44] Mondial, karena perubahan itu mencakup seluruh pelosok negri di dunia; nyaris tidak ada bagian dari dunia yang bebas dari gelombang perubahan itu. Spektakuler, karena perubahan tersebut terjadi serentak, mendadak, dan tidak memberikan waktu yang cukup bagi bangsa-bangsa untuk mempersiapkannya. Radikal karena perubahan itu mempengaruhi kehidupan manusia sampai pada sendi-sendi yang mendasar, seperti akhlak dan pandangan hidup, celakanya lagi perubahan-perubahan tersebut berjalan searah, sehingga memungkinkan terjadinya pengerucutan budaya dunia menjadi kebudayaan tunggal.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian dan paparan data pada bab-bab sebelumnya, maka sampailah kiranya pada beberapa konklusi, dari sini penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Bentuk-bentuk pergeseran pesantren dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bagian, yaitu :

1. Pergeseran Paradigma

Pergesaran paradigma yang terjadi di pesantren adalah pergeseran paradigma tasawuf keparadigma fiqih. Berbeda dengan paradigma tasawuf yang melihat segala sesuatu melalui hakekat dan substansi, paradigma fiqih bersifat legal-formal dan memandang segala sesuatu melalui kacamata hukum syar’I atau fiqih yang didasarkan pada empat prinsip hukum, yaitu; wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.

2. Pergeseran Orientasi dan Kurikulum Pendidikan

Karena pada awal kemunculannya, pesantren hanya mempunyai sistem pendidikan tunggal, yaitu tradisional, seperti bandongan, sorogan dan wethonan, maka pada perkembangan selanjutnya sistem pendidikan dan kurikulum pesantren bergeser pada pola pendidikan modern dan baku sebagai imbas dari keberhasilan pemikiran positivisme dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

3. Pergeseran Budaya

Budaya-budaya pesantren yang selama ini menjadi ruh dan ciri khas pesantren, seperti figur kharismatik seorang kyai yang menjadi panutan, tolong-menolong, kesetia-kawanan, suasana persaudaraan dan kebersamaan, hemat dan sederhana, serta sikap jujur dan berani menderita, saat ini telah bergeser pada pola budaya yang bersifat konsumtif, individualis, elitis, serta terkesan menjauh dari realita kehidupan masyarakat sekitar pesantren.

Untuk lebih jelas dalam memahami pergeseran yang terjadi di pesantren, dapat dilihat pada skema di bawah ini :

Skema di atas menunjukkan bahwa jika salah satu dari bentuk entitas pesantren mengalami perubahan, maka semua entitas di atas juga akan mengalami pergeseran sesuai dengan pola pergeseran yang terjadi lebih awal. Berdasarkan bentuk-bentuk dari pergeseran yang terjadi di pesantren, maka dapat diketahui bebarapa faktor yang menyebabkan pergesaran pesantren, yaitu sebagai berikut :

1. Faktor Intern

Faktor intern pesantren adalah faktor yang datang dari dalam pesantren itu sendiri yang berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Di antara kelemahan-kelemahan pesantren yaitu; pertama, pola kepemimpinan pesantren yang masih terpola dengan kepemimpinan yang sentralistik dan hirarkis yang terpusat pada satu orang kyai, sehingga hitam-putihnya pesantren sangat ditentukan oleh figur sang kyai. Kedua, bidang metodologis yang kurang adanya improvasisasi, sehingga hanya melahirkan penumpukan keilmuan. Ketiga, terjadinya disorientasi, yaitu pesantren kehilangan kemampuan mendifisinikan dan memposisikan dirinya di tengah realitas sosial yang saat ini sedang mengalami perubahan yang sangat cepat.

2. Faktor Ekstern

Faktor ekstern yang mempengaruhi pergeseran pesantren, di antaranya adalah : semakin cepatnya arus informasi dan teknologi globalisasi, peraturan dan kebijakan pemerintah Indonaesia yang menerapkan sistem pendidikan formal (salah satunya kebijakan wajib belajar sembilan tahun), dan keberhasilan ilmu pengetahuan yang berparadigma positivisme, serta perubahan sosiokultur masyarakat dari idealis menjadi pola pragmatisme.
Implikasi logis pergeseran paradigma pesantren dari paradigma tasawuf keparadigma fiqih adalah bterjadinya pergeseran budaya dan orientasi pesantren yang berkarakteristik legalitas, justifikatis yang berorientasi serba hukum syar’I atau fiqih Islam dalam logika “al-Ahkam al-Khamsah” (lima prinsip hukum) yaitu, wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah, sehingga melahirkan kaca mata hitam putih dan klaim penyesatan pada sesuatu yang berada di luar syar’i. Selain itu, dampak lain yang akan ditimbulkannya adalah pesantren berada di menara gading, elitis, jauh dari realitas sosial. Problem sosialisasi dan aktualisasi ini ditambah lagi dengan problem keilmuan, yaitu terjadi kesenjangan, alienasi dan deferensiasi antara keilmuan pesantren dengan realitas sosial. Performa elitis yang ditampikan oleh dunia pesantren seakan semakin menjauhkan pesantren dengan basis primordialnya, yaitu warga masyarakat. Sehingga muncul rasa rendahnya rasa memiliki masyarakat terhadap pesantren, dan sebaliknya, pesantren tidak lagi merasa menjadi bagian milik masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

A’la, Abdul. Pembaruan Pesantren. Yogyakarta : El-Kis, cet. 1, 2006.

Badan Pembina Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo. Tiga Tokoh Lirboyo, Kediri: BPK-P2L, 2002

Baharuddin dan Makin, Moh. Pendidikan Humanistik. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2007.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, 1996.

Farhan, Hamdan dan Syarifuddin. Titik Tengkar Pesantren; Resolusi Konflik Masyarakat Pesantren. Yogyakarta : Pilar Media, cet. II, 2005.

Fathoni, Abdul Halim. Wajah Baru Pesantren Antara Formalis dan Indeginousitas, (www.Pesantren., 28 August 2007) Tanggal akses 21 Juni 2008.

Haedari, Amin. Panorama Pesantren dalam Cakrawala Modern. Jakarta : Diva Pustaka, 2004.

MHM P2L. HSPK Hasil Sidang Panitia Kecil. Kediri: MHM P2L (Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo, 2007.

Leonard Lewisohn, et. al. Warisan Sufi Persia Abad Pertengahan (1150-1500), Terjemahan oleh Ade Alimah, dkk. Jakarta: Pustaka Sufi, 2003.

Mas’ud, Abdurrahman. Intelektual Pesantren ; Perhelatan Agama dan Tradisi. Yogyakarta : El-Kis, 2004.

Maleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2000.

Muslih, Muhammad. Filsafat Ilmu; Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Belukar, 2006.

Nafi’, Dian, M. Praksis Pembelajaran Pesantren. Yogyakarta : El-Kis, disadur dari ITD, Cet. 1, 2007.

Nasir, Haedar. Gerakan Islam Syari’at. Jakarta : PSAP, 2007.

Qomar, Mujamil. Epistemologi Pendidikan Islam. Jakarta : Erlangga, tt.

Priatna, Tedi, Ed. Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung : Mimbar Pustaka, 2004.

Rahardjo, Mudjia, Ed. Quo Vadis Pendidikan Islam: Membaca Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan. Malang : UIN-Malang Press, 2006.

Saifuddin, Ahmad Fedyani. Antropologi Kontemporer ; Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta : Kencana, Edisi I, 2006.

Salim, Agus. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta : Tiara Wacana, 2006

Suhartono, Suparlan. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta : Ar-Ruzz, 2006.

Susetyo, Benny. Politik Pendidikan Penguasa. Yogyakarta : Elkis, 2005.

Tim Pena. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakaeta : Gramedia Press, tt

Wahid, Abdul Rahman. Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat. Jakarta : Kompas, 2007.

Wahid, Hasym, dkk. Pesantren Global; Konsep Dasar dan Pedoman Pelaksanaan. Hasil Seminar dan Loka Karya Nasional KMNU, PP Mamba’ul Ulum, Nganjuk, 4-7 Mei 2006.

Wahid, Marzuki, dkk, Ed. Pesantren Masa Depan; Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren. Bandung : Pustaka Hidayah, 1999.
[1] Benny Susetyo, Politik Pendidikan Penguasa. (Yogyakarta : Elkis, 2005).

[2] Positivisme adalah salah satu aliran dalam filsafat yang meyakini bahwa semua yang ada bisa diukur melalui matematis, sehingga terkesan skuler, empiris, serta bebas nilai. (Wahid, dkk. Pesantren Global)

[3] Hasym Wahid, dkk., Pesantren Global; Konsep Dasar dan Pedoman Pelaksanaan. (Hasil Seminar dan Loka Karya Nasional KMNU, PP Mamba’ul Ulum, Nganjuk, 4-7 Mei 2006).

[4] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu; Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta : Belukar, 2006), 93.

[5] Ibid.

[6] Asli dalam arti bahwa pendidikan pesantren adalah pendidikan yang memang berangkat dari gagasan masyarakat Indonesia yang peduli akan makna pentingnya pendidikan pada masa pra penjajah, berbeda dengan pendidikan formal yang memang diberikan bahkan dipaksakan oleh Kolonial Belanda melalui politik etis (politik balas jasa). (Wahid, dkk. Pesantren Global). Menurut Reza Ahmad Zahid, Pesantren sebagai pusat transmisi Islam Nusantara mencerminkan pengaruh asing yang bercampur dengan tradisi lokal yang lebih tua, bahkan lebih jauh melacak sistem pendidikan yang mirip dengan pesantren lebih jauh sebielum Islam, yaitu, Mandala dan Asyrama sebagai tempat pendidikan agama Hindu-Buddha yang berasal dari India Selatan tepatnya Kerala. (Reza Ahmad Zahid, Pengaruh Budaya Lokal terhadap Karakteristik Nuansa Islam Pondok Pesantren, Disampaikan pada Kuliah Akbar Regional, BEM-I IAIT Kediri, 21 Juni 2008)

[7] Wahid, dkk., Pesantren Global; Konsep Dasar dan Pedoman Pelaksanaan.

[8] Mudjia Rahardjo, Ed. Quo Vadis Pendidikan Islam: Membaca Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan. (Malang : UIN-Malang Press, 2006), xxi

[9] Rahardjo, Ed. Quo Vadis Pendidikan Islam: Membaca Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan, xxiii

[10] Baharuddin dan Moh. Makin, Pendidikan Humanistik, (Jakarta : Ar-Ruzz Media, 2007), 176.

[11] Syed M. Naquib Al-Attas, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam. (Bandung : Mizzan, 1998), 163

[12] Ibid., 164.

[13] Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial, (Jakarta : Penamadani, 2003), 171.

[14] Anason, Sejarah Masuknya Islam di Jawa, dalam Darrari Amin (ed), “Islam dan Kebudayaan Jawa”, (Yogyakarta : Gajah Mada, cet. II, 2002), 28.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

[17] Faiqoh, Nyai Agen Perubahan di Pesantren. (Jakarta : Kurcica, 2003), 151.

[18] Ibid.

[19] Amin Haedari. Panorama Pesantren dalam Cakrawala Modern. (Jakarta : Diva Pustaka, 2004).

[20] Gus Dur “Pesantren” : (WWW. Gus Dus Net. Libanon 2002).

[21] Abdurrahman Wahid, Pondok Pesantren Masa Depan, dalam Pesantren Masa Depan : Wacana Pemberdayaan dan Tansformasi Pesantren, (Jakarta : Pustaka Hidayah, 1999). 13

[22] Ibid.,. 14

[23] Wahid, Pondok Pesantren Masa Depan, 16

[24] M. Dian Nafi’ Ed. Praksis Pembelajaran Pesantren (Yogyakarta: El-Kis, 2007), 33.

[25] Wahid, Pondok Pesantren Masa Depan.

[26] Marzuki Wahid,, dkk, Ed. Pesantren Masa Depan; Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren. (Bandung : Pustaka Hidayah, 1999), 201.

[27] Marzuki, dkk, Ed. Pesantren Masa Depan;

[28] Ibid.

[29] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu; Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta : Belukar, 2006),118.

[30] Ibid.

[31] Ibid.

[32] E.G. Singgih, Kuhn dan Küng: Perubahan Paradigma Ilmu dan Dampaknya Terhadap Teologi Kristen. (www.gougle.thomah _kuhn.) 14 juli 2008.

[33] Ibid.

[34] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu

[35] Ibid.

[36] M. Dian Nafi’ dkk. Praksis Pembelajaran Pesantren. (Yogyakarta : El-Kis, 2007), 78.

[37] Ibid.

[38] Ibid.

[39] Haedar Nasir. Gerakan Islam Syari’at. (Jakarta : Psap, 2007). 426.

[40] Ibid., 428

[41] Siti Maryam, dkk. Sejarah Peradaban Islam; Dari Zaman klasik Hingga Modern, (Yogyakarta: Lesfi, 2004), 97.

[42] Jamaludin Malik, Ed. Pemberdayaan Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005).

[43] M. Dian Nafi’. Dkk. Praksis Pembelajaran. 28

[44] Ibid., 29

sumber : http://arifin25.wordpress.com/2010/05/29/pergeseran-paradigma-pesantren/

%d blogger menyukai ini: