NU, Aswaja, Politik dan Pendidikan

Aswaja yang berkembang di tenggah masyarakat muslim Indonesia mulai berubah maknanya. Tiap-tiap oraganisasi besar islam sering mengatakan bahwa dialah yang berhalaulan aswaja. Memang tidak ada yang salah, karena di dalam aplikasinya, mereka menggunakan al-Qur’an dan juga Sunnah sebagai landasan dasarnya. Muktamar NU yang sedang berlangsung di Makasar merupakan Gawe besar NU ke-32 setiap lima tahun sekali. NU, merupakan salah satu dari sekian organisasi yang berupaya menjaga keutuhan organisasi ber- azazkan Aswaja.

Aswaja adalah singkatan dari “ahlu Sunnah wal Jama’ah”. Dari segi bahasa” ahlu berarti keluarga” al-Sunnah berarti “cara (jalan) Nabi”, al- Jama’ah berarti ‘’kelompok yang terorganisir”. Sedangkan secara luas pengertian“Aswaja” (ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah) adalah kaum yang mengikuti jalan dan kepercayaan yang dianut oleh Nabi Muhammad Saw serta sahabatnya. Dalam sebuah hadis Nabi, kalimat ahlu sunnah wal jama’ah sudah dikenal;

عن عبد الله بن عمرو ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ستفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة ، كلها في النار إلا واحدة ما أنا عليها اليوم وأصحابي

Artinya” Dari Abudullah bin Amr, beliau mengatkan” Nabi telah bersabda akan pecah umatku menjadi tiga puluh tiga kelompok, semua akan masuk ke- Neraka, kecuali satu, apa yang aku berada di atasnya bersama sahabatku. Dalam hadis lain, sahabat bertanya kepada Nabi” siapa yang selamat?” Nabi menjawab; Ahlussunnah wal Jama’ah”.

Di sisi lain, hadis ini redaksinya sangat banyak, sehingga para ulama menetapkan hadis ini sebagai hadis shohih. Wong NU menjadikan hadis diatas sebagai dasar pengambilan kalimat” ahlu Sunnah wal jama’ah”. Di dalam kitab (al-Milal wa al-Nikhl), Ahmad al-Sahrtan, setelah membahas hadis di atas (ما أنا عليها اليوم وأصحابي), beliau juga melanjutkan dengan mengutip hadis Nabi yang artinya:’’ sungguh sebagian dari umatku terdapat kelompok yang senantiasa komit pada kebenaran hingga hari kiamat’’. Nabi juga menuturkan:’’ umatku tidak akan berkumpul pada kesesatan’’

Jadi, ajaran Aswaja adalah sebuah ajaran Allah yang telah diwahyukan kepada Nabi, yang kemudian menjadi ajaran bagi para pengikutnya. Para sahabat sebagai generasi terbaik juga mengamalkan ajaran Awaja, yang kemudian di ajarkan kembali kepada generasi berikutnya hingga saat ini.

Dalam kontek ke-NU-an, Awaja itu meliputi tiga unsur; peratma (akidah), kedua (Syariah), Ahlaq (al-Ihsan). Ketiga unsur itu, merupakan satu kesatuan ajaran yang mencakup semua aspek prinsip keagamaan islam. Madhab Aswajanya- NU hanya cukup dengan tiga unsur, urusan suluk (prilaku) tasawwuf berkiblat pada Imam al-Ghozali dan Imam al-Junaidi. Jadi, NU selalu mengedepankan “Tawassut dan I’tidal”. Artinya wong NU tidak mendewakan Akal, dan juga tidak meniadakan dalil. Keseimbangan dan tenggah adalah ciri khas ajaran Aswaja wong- NU.

NU dan Politik.

Menjelang muktamar NU di Makasar, banyak kandiadat yang mencalonkan diri untuk menjadi pucuk pimpinan, di antara nama yang muncul : Kang Said, Masdar Farid, Slamer Efendi, Ulil Absar, dan Salahudin Wahid. Sedangkan kandidat Syuriahnya KH. Hasyim Muzadi, dan K.H Sahal Mahfud. Nama-nama di atas memang sangat layak untuk menjadi petinggi NU, tetapi sangat disayangkan jika tradis salaf sudah mulai pudar. Ketika Nabi wafat, tidak ada sahabat yang menawarkan diri untuk menjadi penganti Nabi. Bahkan, ketika Umar di angkat dan disetuji, beliay berpidato:’’ Wahai manuasi, aku telah dipilih untuk menjadi pemimpin, bukan berarti aku lebih baik dari kalian, jika kalian meliahatku pada jalan yang benar, maka ikutilah aku. Dan jika kalian melihatku pada jalan yang batil, jangan segan-segan mengingatkan’’. Etika itulah yang mesti dilestarikan NU menjelang mu’tamar sebagai generasi Aswaja, bukan masing-masing menawarkan diri menjadi seorang pemimpin.

NU telah melahirkan para politisi handal, sedangkan partai politik yang dilahirkan NU ialah PKB. Adalagi partai politik lain yang berbasis NU, seperti PPP, PKNU. Yang menarik, PKB itu ternyata tidak nurut dengan titah NU, bahkan terkesan membangkang. Sangat di sayangkan jika para Kyai itu lebih suka ngurusi partai politik dari pada NU, dengan alasan di NU tidak basah (kering). Wajarlah jika Gus Mus mengatakan, bahwa muktamar NU mirip dengan PILKADA. Dan ini merupakan dampak dari percaturan politik praktis yang dimainkan kalangan elit politik. Semoga semuanya tidak larut dalam irama politik pilkada. Karena NU adalah ulama’ yang mengurusi Akhalakul Karimah.

NU dan Pendidikan.

NU memiliki lembaga pendidikan ‘’Lembaga Pendidikan Maarif’’. Namun, sebagian pendidikan yang dibawah naungan NU ternyata tidak berkemang dengan baik, kecuali hanya beberapa. K.H Tolhah Hasan sering mengingatkan agar supaya NU terus berbenah, beliau juga menambahkan dengan tegas, bahwa NU itu ketinggalan dalam dunia pendidiakn dan Kesehatan. Warga NU berharap besar, Muktamar kali ini memberikan pencerahan di dalam dunia pendidikan dan kesehatan. Sangat mungkin sekali, NU bisa berkembang dengan baik, jika mau melakukan. Karena umatnya sangat banyak, dan SDM nya sudah mulai cukup.

. H.R Ibnu Battah 273
. Al-Sahartan. Ahmad, Abi Al-fatah. Al-Milan wa al-Nihkl. Darul Fikr-Beirut.hal 11
. Aswaja An-Nahdiyyah PWNU Jawa Timur.

sumber : http://teknologi.kompasiana.com/internet/2010/03/25/nu-aswaja-politik-dan-pendidikan/

%d blogger menyukai ini: